I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 129(Gak tinggal bareng)



Cecilia mengangguk, tersenyum dengan memperlihatkan gigi putih yang berjejer rapi. Sudah berapa kali memang Irsan menawarinya untuk mengelola coffe shop miliknya, bahkan dari awal sejak dia menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya jauh sebelum ketahuan Irene.


Dan kini Cecilia perlahan paham apa arti cinta dan sayang yang perlihatkan Irsan, bukan, bukan diperlihatkan secara verbal, namun dengan aksi nyata, mengerti jika cinta tidak harus terucap setiap saat, tapi kepedulian nyata terlihat dari apa yang dilakukan Irsan.


"Kenapa?" tanya Irsan saat melihat Cecilia yang hanya diam menatapnya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Aku gak nyangka aja ketemu kamu."


"Bukankah kau sudah merencanakan semuanya dari awal? Kau menandaiku sejak bertemu di jalan raya saat aku marah padamu."


Cecilia terkekeh, melingkarkan tangan dan mengelus kepala belakang Irsan. "Kau benar!"


"Dan satu lagi yang perlu kau tahu,"


"Apa?"


Irsan bangkit dan berjalan menuju lemari, membukanya dan mengambil sesuatu lalu kembali menuju ranjang.


"Ini untukmu." menyerahkan sebuah kotak merah, tidak terlalu besar, namun juga tidak kecil.


"Apa ini?"


"Buka saja." ujarnya pada Cecilia yang kini terduduk memeluk guling, dia mengacak pucuk kepalanya, "Aku keluar dulu untuk membuat sarapan." imbuhnya lagi sebelum dia mengayunkan kakinya keluar dari kamar berjalan menuju dapur dan membuka lemari es. Pria berusia 40 tahun itu mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk dia buatkan sarapan.


Cukup lama dia berada di dapur, berkutat dengan pekerjaan yang biasanya di kerjakannya seorang diri selama ini. Dengan cekatan, tangannya bergerak cepat, memotong, menyisir bak seorang chef handal.


Sementara Cecilia masih mengernyit, menatap kotak merah yang sungkan dia buka. Dia hanya membolak balikkan kotak itu saja.


"Apa ya ini? Cincin, berlian, atau kunci mobil? Ahk kayaknya gak mungkin deh." gumamnya dengan menggerak gerakkan kotak tersebut, "Surat warisan, deposito. Atau surat legalisasi unit ini?" gumamnya lagi menduga duga. "Aaah makin penasaran."


Cecilia pun membuka kotak yang memang tidak direkatkan itu, dan terbelalak saat melihat isi di dalamnya.


"Ini kan smart key. Magsudnya apa coba."


Lamat Lamat dia turun dari ranjang, berjalan keluar dari kamar dengan pertanyaan yang sudah berkumpul di dalam fikirannya, namun gadis itu kini terpaku di ambang pintu saat kedua mata indahnya menyapu ruangan tamu yang ternyata kini sudah bersih, tidak ada sisa sisa camilan dan juga gelas gelas bekas sisa semalam.


"Wah ... kapan dia membersihkannya! Bener bener bersih." gumamnya pelan dengan menyisir seluruh ruang yang seingatnya semalam sangat berantakan.


Dia berjalan sangat lambat menuju dapur, merasa malu sendiri dan tidak bisa menutupi rasa ke kagetannya akan apa yang Irsan berikan padanya.


"HM...!"


"Bagaimana. Kau sudah melihatnya?"


"Itu ... hmm ..." Cecilia berjalan mendekat, melihat Irsan yang tengah membersihkan kentang dan beberapa sayuran. "Kunci apa yang kau berikan?"


"Apartemen ini." tukas Irsan tanpa mengalihkan pandangannya dari kentang yang tengah dia kupas.


"Magsudku kenapa kau kasih padaku?" tanyanya ragu, bukankah setahunya mereka akan tinggal bersama di unit ini.


Kini Irsan menoleh, "Agar kau tidak berkeliaran kemana mana, agar kau tetap disini dan bisa tinggal dengan nyaman."


"Kau sendiri?"


"Tidak usah khawatirkan aku! Aku bisa tinggal di tempat lain." tambah Irsan, lalu kembali mengupas kentang.


"Hah. Kita gak tinggal bareng?"


"Kau ingin tinggal bersama denganku sampai kapan?"


Kini Cecilia mengerti, Irsan menyuruhnya tinggal di sana bukan untuk tinggal bersamanya semata, namun agar dia bisa nyaman tanpa memikirkan apa apa lagi. Namun baginya itu hanyalah sebuah penolakan secara halus. Fixs ... Yang di bilang Si Nita ada benernya, dia emang ingin melindungi gue, hatinya sudah terbuka, tapi bukan berarti dia sudah move on dari wanita itu. Atau biar gue gak bisa goda godain dia.


"Apa yang kau fikirkan?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Gak ada ...!" meraih pisau kecil dan mengambil bawang merah yang tadi sudah di kupas oleh Irsan. Dia memotongnya kasar, bahkan terkesan asal asalan saja yang penting teriris.


"Nanti siang akan ada orang yang kemari mengurusnya. Aku tidak bisa menemani karena aku harus ke rumah sakit lagi."


"Jadi kita gak tinggal bareng ya?" desisnya pelan.


"Hm ... Apartemen ini sudah aku alihkan atas namamu, jadi kau tidak perlu khawatir lagi."


Cecilia kembali mengangguk, isi kepalanya mulai memikirkan rencana rencana jahat.


"Cecilia?"


"Ya?"


"Kau yakin bisa mulai dari sekarang?"


"Ya ... Tentu aja bisa, kau juga akan nyuruh aku ke coffe shop? Oke ... Aku bisa. Tapi, bisakah kau temani aku aja seharian ini? Ya ... Bisa ya." bujuk Cecilia dengan wajah menggemaskan melihatnya.


Irsan mengulum senyuman, namun sangat tipis nyaris tidak terlihat, pria itu meraih pisau dari tangan Cecilia,


"Kalau begitu, mulailah dari memotong bawang yang benar!" Ujar Irsan menohok, mengambil bawang merah yang dia potong terlalu besar dan tebal dengan kedua matanya. "Harusnya kau iris seperti ini." ujarnya lagi dengan tangan memegang punggung tangan Cecilia, menggerakkannya perlahan dan mulai mengiris bawang merah.


Cecilia terpaku, jantungnya berirama sangat hebat kala itu. Bisa bisa nya Irsan melakukan hal yang menurutnya sangat romantis itu, bak adegan adegan di dram korea, namun bayangannya pupus seketika saat mengingat jika Irsan tidak ingin tinggal bersamanya.


"Ah ... Mana aku tahu, kamu kan gak bilang ini harus seberapa tipis, atau tebal. Udah gini aja, nanti juga hancur pas masuk perut." selorohnya dengan menoleh tepat di depan wajah Irsan.


"Kau ini! Duduklah ... Biar aku yang menyelesaikannya."


Cecilia mendengus pelan, lalu beranjak keluar dan duduk di meja makan, memperhatikan Irsan dari belakang.


Sampai Irsan selesai memasak, Cecilia hanya sibuk mengotak ngatik ponsel dan sesekali terkekeh.


"Oke! Gue bakal coba." gumamnya sendiri dengan menatap punggung Irsan.


***


Seharian ini, Irsan tidak pergi kemana mana. Dengan dalih menuruti permintaan Cecilia yang minta ditemani seharian, walaupun dia harus berdebat lebih dulu dengan dokter Aji yang dia minta menggantikannya, orang dari managemen apartemen pun sudah datang, memberikan beberapa berkas yang harus Cecilia tanda tangani.


"Makasih karena kamu udah mau nemenin aku seharian, udah masakin aku juga dan maaf kalau harus membuat jadwal praktekmu terganggu." cicit Cecilia yang meletakkan secangkir kopi di atas meja.


Irsan mengernyitkan kedua alisnya, Cecilia yang tampak manis itu sangat menggemaskan dengan sikapnya yang tenang dan tampak dewasa,


"Kau tidak ingin mencicipi kopi buatanku? Aku sebentar lagi bergabung di coffe shop mu, jadi anggap ini sebagai tester." tukasnya menggeser gelas kopi lebih dekat.


"Kau sengaja membuatnya hanya untuk berterima kasih?"


Cecilia mengangguk dan merentangkan tangannya, "Hm ... Terima kasih yang banyak sekali. Ayo minum, mungpung masih panas, kalau dingin jadi gak enak."


Irsan mengulas senyuman, meraih gelas kopi lalu menghirup aroma kopi yang sangat kuat.


"Kau yakin ini hanya tester?" Irsan terkekeh, lalu menyeruputnya pelan.


"Hanya tester sayang ... Kau pikir aku memasukkan sesuatu di dalam kopi? Racun atau apa hm?"


"Mungkin saja. Aku tidak tahu!"


Cecilia berdecak pelan, "Kalau pun iya, aku lebih baik memasukkan obat perang sang dari pada racun sayang."


Dua kali Irsan menyeruput kopi jenis amerikano itu, dan anehnya hawa di sekitarnya menjadi panas.


"Kau yakin tidak memasukkan sesuatu Cecilia?"


.


.


Nah lho Si Cece cari masalah mulu deh. Hayo masukin apa lo? Wkwkwk.