I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.95(Gagal total)



Keduanya terdiam dengan saling menatap, Irsan mengulas senyuman tipis sementara Cecilia berfikir dengan keras.


Apa jangan jangan dia nyelamatin gue? Kalau Ines kan udah jelas di video itu gak ada, kalau video itu semakin viral, nitizen kita pasti mikirnya gue itu Ines, belum lagi kalau Reno tahu, wah mampus maksimal gue. Fixs ini dia pasti mikirin keselamatan gue. Cecilia membatin.


"Aku memikirkan istrinya yang sedang hamil, bagaimana pun juga dia tidak bersalah dalam hal ini, sama seperti Ines yang telah di bohonginya." cetus Irsan membuatnya melongo.


"Jadi mikirin istrinya?"


"Hm ... Bagaimanapun juga dia sedang hamil besar. Aku kasihan."


"Kalau kau kasian, kenapa kau gak kasih duit yang banyak atau nikahin dan akuin anaknya sekalian." Ketus Cecilia dengan kesal maksimal, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Nita, lalu menarik lengannya. "Ayo cabut Nit."


Irsan yang mengernyit kemudian mengejarnya dan mencekal lengannya. "Kau mau pulang? Kita pulang sama sama."


"Enggak makasih! Aku mau ke kantor Satya, gak usah ngelarang. Aku juga punya hak buat bikin Satya nyesel."


"Kau marah padaku?"


Cecilia menepiskan tangan Irsan, "Kalau aku marah kau mau apa? Gak ada. Malah mikirin orang lain."


Nita menggaruk kepala melihat keduanya, dia menoleh pada Carl yang masih setia duduk dan mengerdikkan bahunya lalu melambaikan tangan agar Nita kembali duduk bersamanya.


"Kau tahu mereka itu kenapa?" tanya Nita yang kembali menghampiri Carl dan duduk di depannya.


"Memangnya mereka kenapa?"


"Gak tahu. Yang satu tiang listrik yang satu oven panas." Nita terkekeh.


"Tiang listrik ...Irsan?"


"Hm ... Lempeng banget kayak jalan tol."


Carl tergelak, baru kali ini dia mendengar julukan yang disematkan gadis gadis pada Irsan yang setahu dia tidak banyak bicara namun sekali bicara mengeluarkan kata kata tajam.


"Iya kan?"


"Hm ... Kurang lebih begitu! Kau pintar menilai Nita, lalu menurutmu aku bagaimana?"


"Wah kalau itu aku gak bisa jawab, kita baru kenal dan harus saling mengenal lebih jauh lagi."


Carl tergelak kembali, "Saling mengenal lebih jauh. Apa itu artinya kita harus sering bertemu? Apa tidak ada yang marah kalau kita sering bertemu?"


"Aku?" Nita tergelak, "Tentu aja enggak, mana ada waktu aku untuk pacaran. Huft!" mendengus dengan meniup poninya sendiri.


Carl yang masih belum bisa menghilangkan tabiatnya saat melihat wanita itu kini terkekeh, lalu menyodorkan ponselnya dan meminta bertukar nomor ponsel.


"Emangnya kau belum menikah? Maksudnya kau juga tidak akan ada yang marah?"


Carl menggeleng, "Untuk wanita cantik sepertimu ... Aku bisa meluangkan waktuku kapan saja."


***


Sementara Irsan membawa Cecilia yang tengah merajuk itu keluar dari kafe, membawanya masuk kedalam mobil. Keduanya bak sepasang muda mudi yang tengah marah marahan.


"Kau marah padaku karena aku memikirkan istrinya Satya yang sedang hamil?"


Cecilia mengangguk, Bodoh, kenapa gue gak bisa jual malah. Ngangguk ngangguk aja.


"Apa kau percaya kalau aku bilang aku memikirkanmu? Nama baikmu Cecilia? Kenapa aku menyuruh Carl menghapus video itu jika bukan karena mu."


Cecilia menolehkan kepala ke arah pria yang masih terlihat datar walaupun senyuman sudah terbit walau sangat tipis, tak lama kemudian dia ikut tersenyum ke arahnya. "Kenapa tadi bilang Istri Satya, kau sengaja bikin aku cemburu ya."


Irsan mengulas senyuman, "Tidak juga. Karena aku juga memikirkannya, termasuk Ines. Kalian tidak tahu apa apa, yang salah hanya Satya,"


"Ya udah ... Kalau gitu biarkan aku kasih dia pelajaran dong."


Irsan menggelengkan kepalanya, "Kau tidak perlu melakukan apa apa, aku sudah kasih dia pelajaran."


"Benarkah? Diapain."


"Pendisiplinan untuk waktu yang tidak di tentukan."


"Pemindah tugasan, dia akan pindah bersama istrinya nanti. Dan tentu saja dalam pengawasan ku."


Cecilia berdecih, "Kurang greget! Harusnya aku yang kasih pelajaran. Biar dia kapok, kau terlalu mengikuti birokrasi. Taat hukum pula. Gak seru!"


Irsan menggelengkan kepalanya, memperlihatkan sebuah video dimana Satya tengah di sidang oleh para direksi ditempat dia bekerja. Mendapat sangsi penurunan jabatan bahkan fasilitas dicabut.


Cecilia tetap merasa kurang puas dengan hanya melihat Satya mendapatkan sangsi dari tempatnya bekerja, dan sedetik kemudian dia menoleh lagi dan menatap pria disampingnya.


"Kenapa dia bisa dikenakan sangsi dikantornya, apa para direksi di sana tahu video itu sebelum dihapus? Gak mungkin, karena aku aja gak sempet lihat. Pagi pagi udah gak ada."


"Entahlah!" Irsan mengerdik, memasukkan kembali ponsel ke dalam saku.


"Jangan jangan ini juga kau yang lakukan."


"Aku hanya dokter dan pemilik kedai kopi, bagaimana aku melakukannya." kilahnya menyalakan mobilnya.


"Tunggu! Kita mau kemana? Nita masih didalam."


"Ada Carl yang menemaninya, kau tidak usah khawatir. Dia sama nakalnya denganmu." ujar Irsan yang tetap melajukan mobilnya. "Aku hanya tidak ingin kau berbuat hal yang tidak tidak nanti, semua ada aturannya, apalagi jalan hidup, ada hukum dan peraturan yang di buat untuk di patuhi. Bukan di langgar."


"Tapi mobilku?"


"Aku sudah menyuruh Carl membawa mobilmu nanti, sekalian mengantarkan Nita."


"Terserah kau sajalah!" dengus Cecilia yang baru merasa jika Irsan mulai bertingkah posesif.


***


Cecilia sengaja datang ke tempat Ines setelah Irsan kembali ke rumah sakit, Nita juga sudah pulang diantar oleh Carl, dan mobil miliknya sudah berada di basement.


wajah lesu dengan langkah gontai dia menuju unit Ines, mengetuk pintu dengan malas.


Ines membuka pintu dan langsung menariknya untuk masuk, membawanya duduk di sofa dengan dia yang ikut duduk.


"Gimana gimana berhasil?"


Cecilia menggelengkan kepalanya lemah, "Maaf kak Ines. Rencana gagal total."


"Kenapa?"


Cecilia menatapnya begitu juga dengan Ines. Wanita berusia 27 tahun itu menghela nafas panjang.


"Si Irsan kan?"


"Kok tahu!"


"Ya iyalah ... Dia pasti tahu, keliatan nya aja dia diam terus tapi diam diam dia menyelidikinya."


Sontak Cecilia terdiam kaget, Menyelidikinya, itu artinya dia juga jangan jangan menyelidiki semua aktifitas gue termasuk soal Reno. Mampus.


"Ce... Cecilia?"


"Hah? Ya..."


"Kau memikirkan apa?"


"Enggak kak ... Aku gak enak aja gak bisa bantuin kak Ines. Padahal aku pengen bantuin. Tapi gara gara ketahuan jadi aku ...."


"Ya udah Ce ... Gak apa apa! Nanti aku bicara pada Irsan," Lirih Ines yang juga kecewa tapi tidak bisa berbuat banyak kalau kakak sepupunya itu sudah punya keputusan. "Ya walaupun aku tidak yakin. Dia susah diajak kompromi."


"Setuju kak! Dia taat pada negara, pada hukum, aturan aturan hidup. Eehh!!" dengusnya, sejurus kemudian dia menutup mulutnya sendiri karena baru sadar jika dia membicarakannya pada sepupunya sendiri.


Ines yang murung justru tertawa, karena itu memang benar adanya. Seperti itulah Irsan.


"Tapi kau harus tahu Ce ... Sekali dia jatuh cinta! Dia tidak akan melepaskannya, kecuali dia yang ditinggalkan."


.


Bab ke 3 untuk hari ini ... Jangan lupa dukungannya ya Cecelover. Makasih.