I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.276(Dasar kolot)



Dan Irsan hanya bisa diam tanpa banyak protes terhadap keinginan istrinya itu, semenjak pagi dia sudah mengurungnya di kamar dan istrinya yang tidak pernah bisa diam itu sudah bosan.


"Masih gak mau pake?"


"Ya .. Baiklah aku akan memakainya, tapi... Aku merasa aneh dengan memakai pakaian seperti ini,"


Cecilia terkekeh, "Kau kesini bukan untuk workshop kedokteran jadi tidkk akan ada yang meledekmu, justru kamu tambah cakep tahu!" selorohnya.


Mereka berdua pun akhirnya keluar untuk makan, entah makan siang atau makan sore, yang pasti sudah sangat terlambat untuk bisa di katakan makan siang.


Beberapa pelayan menyiapkan makan untuk mereka berdua, makanan yang sudah tersaji di meja makan sejak kedatangan mereka tadi pagi dan tidak tersentuh pun sudah di ganti dengan menu makanan baru.


"Ini semua gara gara kamu ya, kasihan mereka nyiapin ini semua dua kali kan jadinya."


Irsan terkekeh, baru kali ini dia tidak taat aturan dan bebas dari tugas beratnya.


"Oh ya ... Kau ingin kita pergi kemana?"


"Emang ada pilihannya, selain memacing, berkebun, memerah sapi? Gak ada pasar malam, gak ada juga mall. Kita benar benar melipir dari kebisingan kota ini sih namanya!" ujar Cecilia dengan mendengus kecil.


"Bukan kah sangat cocok untuk membuat anak?" kelar Irsan yang langsung terkekeh.


"Dasar ... Kamu emang sengaja kan ngajak kesini, biar kita hanya fokus membuat anak aja, gak ada yag lain!"


"Tentu saja ada, seperti yang kau inginkan, honey moon bukan?"


Ceciia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya denga kesal, "Ya ... Terserah kamu aja , yang penting kita menghabikan waktu berduaan kan? Tanpa gangguan?"


ngomong ngomong tentang gangguan, Irsan kembali ingat pada ponsel miliknya yang sepi, bakan tidak ada notifikasi yang masuk sejak tadi pagi sampai saat ini.


"Kau lihat ponselku?"


Cecilia menelan saliva, "Bukannya daritadi kamu yang simpan? Udah yuk keburu malem, tahu sendiri nanti malem jalankan pergi jalan jalan, jalan di sini juga pada becek, males banget." Cecilia bangkit dan membwa piring kosong miliknya dan menyimpanya ke dalam wastafel.


Membuat Irsan tersenyum. Perubahan kecil yang tampak jelas karena biasanya Cecilia hanya akan meninggalkannya begitu saja di atas meja.


Sementar itu, Irsan kembali masuk ke dalam kamar da mencari keberadaan ponselnya yang sepi bak kuburan itu.


Tak lama dia menemukannya , dan merasa semua baik baik saja. Sementara dia juga di kagetkan oleh Cecilia yang menyembulkan kepala kedalam kamar, "Sayang ... Ayo pergi."


Irsan mengangguk, namun dia juga merasa aneh sendiri dengan ponsel yang kini berada dalam genggaman tangannya.


"Tunggu sebentar, ada yang harus aku periksa."


Cecilia masuk dan berhambur ke arahnya, menarik tangannya dan membuat dia bangkit dari duduknya,"AYo periksanya nanti aja, aku ingin jalan jalan."


"Tapi Cecilia ..."


"Sayang?" ujarnya dengan tatapan sendu, Irsan menghela nafas, dia benar benar tidak berdaya melihat wajah sang istri dan tidak mampu menolaknya.


"Baiklab ayo pergi!"


"Nah gitu dong." ujar Ceciia yang melingkarkan tangan pada lengannya.


Membawa pria dengan jarak usia yang berbeda 20 tanun dari nya itu keluar tanpa bisa kembali menoleh ke belakang.


Kedua benar benar hanya berjalan di sekiitar perkebunan teh yang hijau dengan udara yang cukup dingin. Sampai Cecilia terus melingkarkan tangannya pada Irsan.


"Bukankah aku sudah bilang jika lebih baik kita menghabiskan waktu di kamar saja dari pada jalan jalan seperti ini dan kau kedinginan." celetuk Iran.


"Dasar mesum ...!"


"Aku fikir semua pria akan begitu pada waktu dan tempat yang sesuai!"


"Termasuk kamu kan?"


"Siapa .. Aku mesum? Aku fikir tidak terlalu." ujar Irsan dengan terkekeh.


"Tidak terlalu itu dulu, sekarang tidak kelewatan!! Cecilia tergelak.


Sementara Irsan hanya mengelengkan kepalanya saja."Kau suka aku yang mana?" katanya lagi


"Kalau sekarang?"


"Kalau sekarang enggak sih, aku udah tahu triknya biar kamu gak marah dan gak galak."


"Seperti apa misalkan?"


Cup ...


Cecilia mendaratkan bibirnya pada bibir Irsan tanpa peduli orang orang yang tengah berlalu lalang di sekitar mereka dimana tempat itu banyak sekali pemilik kebun atau bahkan pegawai. Terutama para pemetik teh yang sedang memantau kebun kebun mereka.


"Heh ... Kau ini?"


"Gak ada salahnya, kita suami istri lho sayang, sekalipun kita melakukan hubungan suami istri di kebun ini tidak masalah." ujarnya dengan frontal


Membuat Irsan membekap mulutnya dengan menggunakan tangannya sendiri agar Cecilia tidak bicara sembarangan, dan ferlihat beberapa orang orang khususnya ibu ibu yang tersenyum ke arah mereka.


"Kau ini membuat malu saja, bayangkan fikiran mereka yang nantinya berfikir yang tidak tidak tentang kita."


"Iih ... kamu ini, gak apa apa ya ka bu!" ujarnya pada mereka, "Itu kan normal, justru kalau gak begitu, mereka yang akan berfikir kamu macam macam ke sini, apalagi ...."


"Apa? Jangan berfikiran konyol."


"Ya apalagi kalau mereka mikir kalau kamu itu pedoofil, mengajak gadis di bawah umur ke tepat begini!" Cecilia tergelak hingga terpingkal saat mengatakannya. Sementara Irsan kini membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


Grep!


Dengan sekali tarikan saja, Irsan mengangkat tubuh Cecilia yang bukan apa apa baginya, dia menggendongnya bak sekarung beras dan langsung berbalik arah."


"Hey sayang. Mau kemana, turunkan aku. Sayang...!"


Irsan memilih diam saja sampai mereka tiba di tempat yang tidak terlalu ramai seperti tadi, bahkan tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua. Dengan Cecilia yang terus berteriak namun juga tertawa hingga terpingkal.


"Aku tidak akan membiarkan orang orang berfikir kalau aku ini pedofiil yaang hanya akan merusak generasi muda. Aku tidak akan membiarkannya!" sentaknya dengan memukul bokong Cecilia dengan keras.


Gadis berusia 20 tahun itu masih tertawa. "Sayang itukan bercanda! Kau ini serius sekali!"


"Sudah aku bilang kalau kita lebih baik di kamar saja, aku tidak ingin mengundang spekulasi kalau aku memanfaatkan gadiis lugu yang tidak berdosa sepertiimu menjadi sasaran ku! Lagi pula ... Kau sedang menyindir usiaku bukan?"


Cecilia semakin terbahak mendengarnya, sampai sampai kedua matanya berakhir karena terus tertawa melihat sikap Irsan yang mudah sekali terpancing.


"Sayang ... Aku gak bilang kamu tua kok... Enggak! Lagian Kita kan hanya perlu liatin bukti kalau kita itu suami istri, udah nikah resmi lho. Toh mereka juga gak akan peduli juga sih!" cetusnya dengan terus tertawa.


"Tetap saja Cecilia, bagaimana pun kita tidak bisa mengatur fikiran mereka semua. Dan mereka jika membenarkan hal itu, bisa bisa kita kena masalah."


"Astaga ... Yaa eggak a ssayng." cicitnya dengan menggigit bahu Irsan dengan gemas.


Sampai Irsan meringis dan kembali memukul bokong Cecilia yang masih dalam gendongan sampai mereka tiba di depan villa.


Bruk!


Tubuh Cecilia kini susah diturunkan, dengan terus terkekeh namun juga memukul bahu Irsan karena menurunkannya dengan kasar. Terlebih acara jalan jalan nya gagal karena hal sepele itu.


"Bilang aja kamu males nemenin aku jalan jalan, secara kamu ingin di kamar terus. Iya kan?"


"Itu tahu!"


Irsan menaik turunkan kedua alisnya dan menarik pergelangan tangannya lalu membawanya masuk.


"Itu lebih baik dari pada orang orang tadi berfikiran seperti yang kamu katakan, bisa mati konyol kita.'"


"Ya ampun kamu ini kayak anak kecil dehgemes jadinya, mana mungkin, lagian ya .. Mereka gak denger apa yang aku bilang kok!"


Irsan membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya.


"Tetap saja, aku tidak mau!! Lebih baik kita di sini saja. Tidak perlu aneh aneh lagi."


"What aneh aneh kamu bilang? Dasar kolot ... Masa jalan jalan kayak gitu dibilang aneh aneh!"