I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.269(Bulan madu saja)



Irsan menggelengkan kepala, melihat istrinya berjalan kesana kemari dengan kedua mata berbinar. "Kau tidak pernah kesini sebelumnya?"


"Pernah, tapi cuma sampai situ." jawabnya dengan menunjuk ke arah pintu masuk.


"Pantas!"


Cecilia terkekeh, "Kebiasaan dulu kan aku males banget ... Karena aku kelelahan kerja,"


"Bukan lelah bekerja, tapi kau terlalu banyak bersenang senang." Irsan mendengus pelan.


Cecilia melompat kearah punggung Irsan yang berjalan lebih dulu. "Hah ... Kau selalu benar sayang!"


Keduanya saling tertawa, dengan saling merangkul satu sama lain, mereka membiarkan Ines dan Tristan menyelesaikan urusannya hanya berdua saja. Dan Cecilia hanya membuat jembatan bagi mereka untuk saling bertemu.


"Tidak ada lagi yang kau ingin beli?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Sepertinya sudah tidak ada, ini udah banyak."


Irsan mengangguk dan langsung berjalan menuju kasir. Pria itu mengambil kartu hitam miliknya, lalu memberikannya pada Cecilia.


"Heh?"


"Ambil ini dan bayar."


Cecilia menatap kartu tersebut, lalu membuka tasnya dan mengambil kartu hitam yang sempat diberikan oleh Irsan saat berbelanja barang kebutuhan sehari hari.


" Inikan ada. Kenapa ada lagi? Kau punya dua kartu sakti ini?" tukasnya dengan sedikit kaget.


Bagaimana bisa lupa kalau dia pernah kasih kartu ini ke gue dan belum gue balikin."


Irsan tersenyum, "Untuk milikmu,"


"Punya ku? Gak kok aku gak punya kartu sakti macam ini,"


"Aku yang berikan padamu, apa kau tidak pernah menggunakannya?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Udah aku bilang, semenjak denganmu aku gak peduli sama uang, aku gak mikirin lagi hal itu."


"Sayang sekali, padahal nominal uang yang berada di kartu itu lebih besar, itu untuk semua kebutuhan pribadimu. Uang kuliahmu, termasuk keperluanmu yang lain lain!" terang Irsan. "Kartu yang aku pegang ini untuk kebutuhan pokok kita, pengeluaran kita dalam satu bulan penuh."


Cecilia mengerjap ngerjapkan kedua matanya, Irsan sangat teliti ternyata, bahkan untuk urusan rumah tangga dan segala kebutuhannya sudah dia rincikan. Segala kebutuhan juga dipisahkan dan tidak bercampur aduk.


"Astaga ... Mau nyari suami kayak gimana lagi coba?" desisnya pelan dan sudah pasti tidak terdengar oleh Irsan.


Setelah urusan pembayaran selesai, keduanya keluar dari toko buku, mereka berencana pergi ke coffe shop milik Irsan.


Saling bergandengan tangan dan salimg tertawa, sampai efek alkohol saja kalah oleh rasa bahagia yang kini dirasakan oleh Cecilia.


Keduanya masuk kedalam coffe shop yang cukup ramai kala itu, seseorang yang tengah meracik kopi terbeliak saat melihat Irsan yang datang bersama Cecilia.


"Hai Dim. Lo inget gue?" sapa Cecilia.


Dimas melirik ke arah Irsan yang langsung masuk kedalam ruangan yang bertuliskan staff only, lalu kembali melirik ke arah Cecilia.


"Lo Cecilia, tentu aja gue masih ingat ... Semenjak lo nolak tawaran itu, gak ada lagi yang manager terima saat ada yang ngelamar kerjaan ke sini, bahkan kayaknya gak ada yang ngelamar lagi deh." terang Dimas yang masih terpengarah melihat Cecilia, terutama saat datang bersama Big Bos. "Lo ama Big Bos?"


"Hah serius lo. Maksud lo ... Maksud gue, lo nikah sama ... Sama, Big bos?"


Cecilia mengangguk anggukan kepala dengan cepat, membuat Dimas terbeliak sempurna.


"Gak nyangka gue! Berarti lo istri Bos sekarang?"


"Biasa aja kali mukanya," Cecilia terkekeh, "Eh ... Kalau gue kerja lagi di sini seru gak ya. Itung itung ngisi liburan semester gue nih." Cecilia mengambil alih mesin kopi dan mulai meracik, walaupun dia asal saja memasukan takaran kopi dan juga susu cream.


"Yah lo mah gak usah kerja kali Ce, lo bisa kemari kapan aja."


"Bener juga ya!"


Ekhem!


Suara bariton Irsan terdengar dari belakang, membuat Dimas gelagapan dan hampir menumpahkan gelas yang dia pegang.


"Ngapain sih lo." Cecilia tidak menghiraukan Dimas yang sudah tidak ada di belakangnya, Dimas memilih menyibukkan diri dengan berjalan kesana kemari dari pada nantinya mendapat masalah.


"Dim ... Ini kok pait ya rasanya?" tukas Cecilia. "Gue tadi masukkin apa ya. Kok aneh gini rasanya." tukasnya lagi tanpa tahu jika yang berada di belakangnya bukan lagi Dimas.


"Dim ... mampus lo kalau gak jawab gue, ini gimana. Kok malah macet mesinnya!" keluh Cecilia yang terus menekan tombol bertuliskan push.


Sejurus kemudian, dia membalikkan tubuhnya dan langsung terperangah melihat orang yang sejak tadi berada di belakangnya itu bukanlah Dimas.


"Sayang ... Kagetin aja deh! Mana si Dimas?"


"Apa yang kau lakukan. Hm?"


"Gak ada!" Cecilia mundur ke belakang dan menutupi mesin kopi yang tengah macet.


"Bukannya tadi kau bilang mampus lo?" Irsan mendekatinya dengan maju dua langkah.


"Ya itu aku tadi lagi ngobrol aja sama Dimas! Biasa lah, ngobrol gak jelas."


"Kau juga bilang macet, apa yang macet?"


Cecilia terkekeh kecil, ternyata Irsan tahu. Pria itu menggeserkan tubuh Cecilia ke samping dan melihat mesin kopi miliknya.


"Mesinnya udah jelek tuh!" cicitnya kemudian.


"Kau yang tidak bisa menggunakannya sayang!" ujar Irsan yang menekan tombol merah lalu mesin kembali menyala. Dia juga menambahkan susu dan juga sedikit gula.


Cecilia mengangguk anggukan kepalanya, nyatanya dia lupa caranya saja. Dan melihat Irsan yang tidak marah, membuatnya tersenyum.


"Ternyata mesinnya bagus ya." tukasnya lagi lagi terkekeh.


"Cobalah!" Irsan menyerahkan satu gelas kopi yang baru saja dia buatkan. "Jadi kau sudah mau kemari dan mengelola tempat ini?" tanyanya kemudian.


"Tapi aku gak yakin kalau aku bisa di sini." ujarnya mengambil gelas kopi dari tangan Irsan lalu menghirupnya dalam dalam. "Ini aja aku lupa cara kerja mesin kopi ini!"


"Memangnya aku menyuruhmu untuk membuat kopi? Kau hanya perlu memantau saja. Tapi itu juga kalau kau mau. Bukankah kau bilang liburan semester ini tidak ada kegiatan?"


"Bagaimana kalau kita bulan madu aja? Itu lumayan buat ngisi liburan semesteranku sayang. Ya ... Ya ...,"