
"Kalau begitu pecat saja!"
Untuk apa dia melamar pekerjaan di sini, dia pasti hanya akan mengacau! Tidak, jangan sampai dia juga mengacaukan tempat yang baru aku rintis ini. Irsan terus membatin, walaupun Andre sudah mengatakan semua kelebihan yang dimiliki Cecilia akan sangat menguntungkan jika menerimanya bekerja.
Tanpa mengatakan apa apa, Irsan bangkit dari ruangan Manager menuju ke atas, ada ruangan kecil yang kerap di pakainya untuk sekedar beristirahat saat dia datang.
Cecilia datang mengetuk pintu, sudah pasti dia senang karena berfikir akan diterima, mengedarkan pandangan mencari seseorang namun dia hanya melihat Andre dan juga Siska yang tengah duduk bersama.
Nih cewek bukannya yang gue lihat sama Irsan kan? sebenarnya apa hubungan mereka, apa benar dia istrinya. Mana Irsan, dia pasti sudah datang.
Siska menatapnya sekilas, dia kemudian keluar dari sana, sementara Kevin putranya masih tertidur di sofa.
"Oh kau sudah datang! Ayo duduk." Andre kembali duduk di kursi miliknya, menunggu Cecilia yang terlihat mencari seseorang.
Gadis itu terduduk di kursi di depan Andre, tersenyum ke arahnya dengan sangat manis.
"Aku diterima kan pak?"
Andre menghela nafas, tidak mungkin untuk tidak menerimanya setelah tahu potensi yang dimiliki Cecilia, tapi dia hanya seorang pekerja yang juga tidak mungkin menolak perintah atasannya.
"Maaf ... Sepertinya kau belum punya kesempatan bergabung di sini! Ada beberapa hal yang jadi pertimbangan."
Cecilia jelas tersentak mendengarnya, dia sudah melakukan yang terbaik agar di terima bekerja, bahkan mulai menikmati keseruannya dalam bekerja.
"Bukannya semua keputusan dari bos yang katanya akan datang! Apa dia sudah datang?"
"Dia sudah datang."
"Bisakah aku bicara dengannya?" Cecilia jelas tidak akan menyerah begitu saja, terlebih semua sudah dia korbankan.
Gila aja tuh si tiang listrik! Ngadi ngadi dia remehin gue segitunya, gak inget apa se hot apa dia cium gue kemaren. Awas aja, gue gak bakal tinggal diem.
Andre terdiam, menatap Cecilia yang bersikeras ingin bertemu bosnya. Tidak ada karyawan yang berani bertemu dengannya karena terlalu segan.
"Sebentar saja! Aku harus tahu alasannya kenapa aku tidak diterima di sini. Gak masuk akal dong pak, aku sudah bilang aku sudah punya prospek bagus kedepannya untuk coffee shop ini."
"Lebih baik kau segera pergi! Aku yakin akan banyak tempat yang bisa menerimamu bekerja."
Cecilia bangkit dari duduknya menatap Andre dengan tajam. "Maaf, aku tidak akan pergi sebelum aku bertemu dengan pemilik Coffee shop ini."
"Kenapa kau ingin bertemu dengannya? Aku rasa sudah cukup keputusan yang sudah aku berikan tanpa melibatkan Bos ku."
"Aku sudah melangkah jauh ini, dan harus keluar tanpa membawa hasil apa apa! Aku tetap akan bertemu dengannya pak."
Andre mengernyit, merasa heran dengan ucapannya dan bersikukuh ingin bertemu dengan Irsan, selain menarik, Cecilia juga sangat gigih. Dia sangat tahu akan tujuannya dan tidak menyerah begitu saja.
"Apa yang kau bicarakan?"
Gadis itu mengerjap, Hampir aja.
Siska yang baru saja akan masuk menghentikan langkahnya di depan pintu, suara mereka berdua terdengar sampai keluar, dia menatap pintu ruangan di atas tangga.
"Apa yang terjadi? Kenapa gadis pelamar itu sangat ingin bertemu denganmu." ujarnya saat dia sengaja naik ke atas dan membuka pintu, sementara Irsan tengah duduk mengotak ngatik ponselnya.
Irsan mengerdikkan bahu. "Entahlah! Aku tidak tahu."
Siska menutup pintu dan mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan. satu single sofa dan dibelakangnya terdapat ranjang berukuran sedang yang terhalangi sebuah lemari penuh dengan buku kedokteran.
"Kau suka tidur disini? Bukannya kau juga memiliki apartement dan rumah mu sendiri?"
"Hanya untuk beristirahat saja!" ujar Irsan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponsel.
"Aneh kau ini!"
Irsan bangkit dan berjalan mendekat, "Ambil saja kalau kau mau." dia juga mengambil satu buku yang belum selesai dia baca. "Buku itu sudah selesai aku baca." ujarnya lagi.
Brakk!
Pintu terbuka dengan keras, Cecilia berdiri menatapnya dengan tajam. Dengan cepat Irsan menarik pinggang Siska dan merekatnya dengan erat.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Sial, mereka lagi ngapain disini berduaan. Sedangkan gue berusaha sampai ngelakuin hal begini cuma buat dia. Anjim banget si Irsan.
Sedangkan Siska tersentak kaget saat Irsan menarik tubuhnya hingga tangan Irsan mengerat di pinggangnya, dia menatapnya lalu menatap Cecilia.
"Ma--"
"Diamlah sebentar!"
Cecilia masih berusaha menahan diri, dia bahkan menyunggingkan senyuman di bibirnya, "Maaf mengganggu waktu bersenang senang kalian, tapi aku memang harus tahu alasan kenapa aku tidak diterima bekerja disini."
"Apa butuh alasan?"
"Tentu saja! Karena aku tidak main main dalam bekerja, kau tahu itu."
"Tapi kami memang tidak membutuhkan karyawan baru." ujar Irsan dengan tegas.
"Hanya itu?"
"Ya ... Hanya itu! Memangnya kau fikir ada yang lain? Jangan berfikir hal yang tidak tidak." Tangan Irsan semakin mengerat di pinggang Siska, dengan sedikit bertenaga seolah menahan sesuatu.
Siska bisa merasakannya, sebagai wanita dia tahu ada sesuatu diantara gadis itu dan juga rekannya.
"Aku tidak berfikir hal yang tidak tidak!" ujar Cecilia yang semakin geram, dia tidak hanya menahan dirinya, dia juga merasa kesal karena terlalu di remehkan. "Apa tidak sebaliknya? Aku datang kemari bukan untuk hal yang kau fikirkan, aku datang karena aku memang ingin bekerja."
"Bukankah kau sudah bekerja ditempat lain? Dan gajimu lebih besar dibandingkan bekerja di sini, pekerjaanmu juga bagus! Tidak melelahkan untuk satu pekerjaan dengan gaji besar."
Cecilia mendengus, Sebenarnya apa yang ada di fikiran lo Irsan, ngeselin banget.
"Maaf! Apa kau sedang mencampur adukkan satu hal dengan hal lainnya, kau bahkan tidak memberikan kesempatan padaku."
"Aku rasa tidak perlu! Kau bisa pergi sekarang."
Siska yang tidak tahu menahu apa apa itu hanya terdiam, dugaannya benar jika diantara mereka ada sesuatu, dan tidak salah jika dia mencari tahu dengan caranya sendiri. Siska pun mengulum senyuman.
"Sepertinya kau memang harus memberikannya kesempatan! Seperti yang lainnya, dia berhak bukan?" ucapnya menohok keduanya.
"Kau dengar? Bahkan teman wanita mu lebih faham."
Irsan menggertakkan giginya, dia benar benar kesal pada Siska yang justru memberikannya peluang besar.
Siska mendorong sedikit bahunya, menatap ke arah Irsan dengan menelisik. "Sudah! Kasih dia kesempatan. Kau bisa menilainya nanti dan memberikannya keputusan. Siapa tahu dia bisa membuat coffee shop mu berubah."
"Aku akan bekerja dengan baik, aku memang membutuhkan pekerjaan ini. Dan aku suka bekerja di sini." sahut Cecilia dengan pandangan tajam ke arah Irsan.
"Siska, bisa kau keluar dulu sebentar! Aku ingin bicara dengannya!"
.
Dasar si tiang listrik, sok banget. Padahal nyetrum juga. Wkwkwk
Yuk komen dan like yang banyak, buat cerita ini biar othor tahu cerita mereka seru atau enggak.