
"Apa dia sudah per----"
Ucapan Cecilia menggantung, setelah melihat orang yang kini berada di hadapannya bukanlah Irsan maupun Ines. Melainkan seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda, dibelakangnya wanita paruh baya berpakaian suster, dan di sampingnya pria tegap berkaca mata.
Pria berkaca mata mencondongkan tubuhnya, dia membisikkan sesuatu pada Wanita yang kini menatapnya tajam.
"Ya ... Aku tahu! Aku ingat betul wajahnya." gumamnya pasa pria berkaca mata yang kembali menegakkan punggungnya.
"Maaf ... Anda....?"
"Jadi kau rupanya? Kebetulan sekali." Suster mendorong kursi roda untuk masuk, begitu juga dengan pria berkaca mata yang ikut masuk ke dalam.
Cecilia mau tidak mau harus melangkah mundur, aura dingin mulai terasa di sekelilingnya.
Ini orang pasti ibunya Irsan, alias ibu mertuaku. Batinnya bicara.
"Kalian keluarlah! Aku ingin bicara dengannya saja."
Suster mengangguk, begitu pula dengan pria disampingnya. Mereka kembali keluar dan meninggalkannya berdua saja.
Cecilia menggaruk kepalanya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan dia mendekat hendak menyalami orang tua dari pria yang dia cintai itu, namun sikapnya yang dingin membuatnya ragu.
"Namamu Veronica Cecilia?"
"Ii--iya."
"Dan kau berhubungan dengan putraku?"
Jadi benar, ini ibunya Irsan. Sial, Ines bilang dia kan ke unit Irsan, kenapa malah kesini. Anjim banget gue, apa mereka jebak gue?
"Jawab! Aku tidak bertanya pada guci atau pun kursi." sentaknya membuat Cecilia kaget.
"Iya ..."
"Sudah berapa lama? Apa kau tahu siapa aku?"
"Be--belum lama, aku fikir kau adalah ibunya Irsan."
"Irsan? Kau memanggil orang yang lebih tua dari mu dengan namanya saja?"
"Itu ....!"
"Kau tahu untuk apa aku kemari?"
"Untuk bertemu dengan putramu kan!"
"Bukan! Aku kemari untuk bertemu denganmu Veronica Cecilia,"
"Aku? Ke--kenapa bertemu denganku?"
"Bodoh!"
Anjim ... Sifatnya sama banget lagi kayak anaknya awal awal, jutek banget sama calon menantu. Ce ... Ayo mikir Ce, gimana ini caranya.
"Kenapa kau diam? Kau sedang mengumpatku dalam hati?" Lagi lagi dengan suara menyentak.
Cecilia buru buru menggelengkan kepalanya, "Enggak kok! Untuk apa mengumpat mu bu!"
Wanita itu menekan tombol yang terdapat pada pegangan kursi roda hingga roda maju ke depan.
Sombong nih orang, dia bisa menggerakkan kursi roda, untuk apa dia menyuruh suster tadi yang dorong. Sial banget, gue kan belum siap ketemu calon mertua. Lagi lagi Cecilia membatin.
"Kenapa kau mau berhubungan dengan putraku? Kau masih muda dan bisa saja mencari pria yang sepantar denganmu!"
Wanita itu berdecih, "Cinta! Tahu apa kau tentang cinta. Anak muda zaman sekarang yang hanya tahu foya foya dan menghabiskan uang orang tua."
Cecilia tampak terdiam, dia masih bisa menahan diri agar tidak menyela, walau rasanya sudah ingin bicara.
"Benarkan. Orang tua mu kerja apa? Apa mereka dokter di rumah sakit itu juga. Apa kau disuruh orang tua mu mendekati putraku agar memiliki semua kemudahan di rumah sakit?" tuduhnya tanpa alasan maupun bukti.
"Enggak!"
"Jangan bohong! Katakan siapa orang tuamu atau aku yang akan mencari tahunya sendiri."
Cecilia menghela nafas, "Aku gak bohong! Orang tuaku bukan dari kalangan dokter, apalagi nyuruh aku sengaja deket deket sama Irsan, maksudku putramu. Untuk apa?"
"Sudah jelas untuk mengeruk hartanya! Jangan bersikap naif."
Cecilia ingin sekali tergelak, namun dia masih menahan dirinya. Untuk apa mengeruk harta Irsan, yang dia tahu kekayaannya tidak seberapa itu, gaji dokter bedah memang besar tapi kebutuhannya juga banyak. Untuk biaya pemeliharaan apartemen saja mungkin sudah akan habis setiap bulannya, kalau kaya dia tidak mungkin meminjam mobil temannya setiap hari juga memiliki kartu discount tanpa batas yang baru saja dia gunakan. Bahkan sejak mereka berhubungan baru kali ini Irsan mengeluarkan uang cukup banyak untuknya.
"Aku fikir juga begitu, aku bisa dapet uang banyak. Tapi ternyata enggak tuh. Anakmu hanya seorang dokter, aku gak tega mengeruk uangnya." Ucapnya semakin berani, "Kau fikir dia siapa?" Gumamnya lagi dengan pelan, melengos pergi mengambil air.
"Santai aja bu! Aku bisa cari uang sendiri dan gak mau ngerepotin anakmu itu, silahkan ibu croscek nanti setelah bertemu anakmu, sebeapa banyak uang yang dia keluarkan untukku." Selorohnya dengan mengaduk sirup rasa jeruk yang dia temukan di atas meja.
Dia mengambilnya dan kembali berjalan, menyimpan gelas berisi sirup itu dia atas meja, menggesernya sedikit agar bisa wanita yang masih terus menatapnya itu meraihnya dengan mudah.
"Aku tidak minum es, aku juga tidak suka sirup rasa jeruk!"
"Oh maaf. Aku gak bisa menemukan minuman lain, ya ibu tahu ini bukan unitku!" sahutnya dengan jujur.
Terserahlah dia suka atau tidak calon menantu nya ini, yang pasti Anaknya udah cinta mati dan pasti bakal perjuangin gue. Batinnya bicara lagi.
Dia meraih gelas sirup rasa jeruk, dan menenggaknya sendiri, "Ya udah ...!"
"Kau. Benar benar tidak memiliki tata krama dan sopan santun! Bagaimana bisa putraku memiliki hubungan dengan gadis sepertimu."
"Maaf bu! Aku diajarkan untuk tidak membuang makanan. Ya dari pada dibuang kan. Sayang, gak ada hubungannya dengan tata krama, aku udah sopan lho bu dari tadi."
"Begini saja! Lebih baik kau tinggalkan putraku. Aku akan memberikan mu sejumlah uang dan perhiasan."
Cecilia mendaratkan bokongnya di sofa, lalu menyimpan gelas yamg sudah hampir habis iyu di atas meja.
"Bener kata Kak Ines, ibu itu berfikiran kolot, masih zaman bu memberi sejumlah uang pada seseorang untuk membuatnya meninggalkan anaknya dan tidak lagi berhubungan. Udah gak jaman bu! Karena ibu tahu, kalau pun iya aku ini hanya akan mengeruk uangnya saja, ya untuk apa aku ambil uang dari ibunya? Uang anaknya lebih banyak dari pada uang ibu, bisa aku nikmati berkali kali, dari pada aku ambil uang ibu dan aku hanya dapat sekali doang." ujarnya menohok.
"Jadi kau benar benar hanya ingin hartanya saja!"
"Ya bukan!"
"Aku dengar apa yang kau ucapkan barusan!"
"Itu kan perumpamaan saja bu! Nyatanya Irsan gak memiliki banyak uang, apa yang bisa aku keruk dari nya?"
"Berapa yang kau minta hah?"
Cecilia memicingkan kedua mata ke arahnya, "Jangan jangan ibu juga yang menyuruh pacarnya untuk pergi meninggalkannya saat itu, padahal mereka sudah berniat menikah. Iya kan?"
Wanita bernama Embun itu tentu saja tertohok, kedua manik hitamnya membola seketika. "Jangan asal menuduh! Kau punya bukti jika aku yang melakukannya?"
"Kenapa Ibu harus marah kalau gak ngelakuinnya, iya kan? Aku makin menduga kalau itu benar, apa anakmu tahu hal ini?"
"Kau!" Embun mengepalkan tangan, namun juga memegangi dadanya yang sesak. "Aku tidak akan pernah mengijinkanmu dekat dengan putraku!"
Cecilia mengerdik, namun terus melihat ke arahnya yang mulai bernafas dengan sesak, tak lama suster dan juga pria berkaca mata masuk dan melihat wanita paruh baya itu semakin memegangi dadanya dengan nafas tidak beraturan.
"Nyonya ... Nyonya Embun. Apa yang kau lakukan padanya?"