I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.190(Yes ... Yes)



"Elah ... Lo sensi amir sih!"


"Amir amir ... Amir bapak lo!" ketus Cecilia yang terus menarik Nita dan membawanya kembali ke kelas mereka.


Materi kembali di lanjutkan, tentu saja para teman teman satu tingkatnya itu meminta Cecilia menyampaikannya seperti tadi seolah-olah bukan materi yang tengah mereka bahas awalnya Cecilia merasa kesulitan karena dia pun hanya sedikit belajar semalam dia hanya membaca sebentar lalu mulai berpikir.


"Kalian tahu kalau psikologi abnormal itu bukan soal baik atau buruk? Bukan juga soal stress? Faktor faktor yang mempengaruhinya pun banyak." ujwrnya memulai kelas.


'Gimana Ce magsudnya.'


"Jadi begini, kalau lo setiap hari bangun pagi jam 7, terus lo mandi, terus sarapan pagi, siap siap lalu pergi ngampus itu disebut normal kan? Nah ini kebalikannya, saat lo mgelakuin hal itu tapi ada sesuatu dari diri lo yang terasa berbeda fix psikologi lo abnormal."


"Itu sih lo Ce. Lo kan gitu, orang lain pada datang ke kampus lo enggak, orang laon belajar lo selalu datang tapi cuma nongkrong doang. Lo dateng ke sini kalau kampus udah bubar." celetuk Nita yang langsung ditertawakan oleh teman temannya.


"Hooh lo mojok doang di kantin." seru yang lain.


Suasana belajar yang menyenangkan karena sang Asisten Dosen yang cukup ngeleneh, berbeda dengan belajar dengan sang Dosen yang selalu sedikit menegangkan, jangankan menimpalinya tertawa saja rasanya tidak akan mungkin terjadi, apalagi jika dosen itu tegas ataupun killer.


"Gue ya? Okelah gue ngaku kalau gue abnormal ... Eitt, fakta yang sebenarnya adalah itu normal, yang abnormal itu justru ketika lo gak bisa ngelakuin semau hal di hari itu dengan baik, kognitif lo gak berfungsi, sosial emosional lo juga. Itu baru abnormal." terangnya kemudian. "Tapi bukan cuman itu doang, menurut kalian orang yang pemalu bisa disebut abnormal gak?" pancingnya dengan sebuah pertanyaan.


"Ya jawabannya normal, yang gak normal itu saat lo sebegitu pemalunya sampai lo berfikir gak bisa kencan, atau saat kencan lo ngerasa takut padahal gak ada yang perlu ditakutkan. Itu baru abnormal. Kalau gue kan enggak, semua hal dalam kencan itu menyenangkan, apalagi saat mesra mesranya, iya gak?" Cecilia menaik turunkan kedua alisnya, "Itu membuat kita bahagia bukan? Jadi kalau kalian lihat orang yang cenderung memiliki prilaku itu, .lo ajak dia ke tenaga ahli. Ini juga bisa jadi referensi buat meneliti teman kencan kalian. Coba perhatikan apa teman kencan lo itu ingin cepet cepet pulang atau takut saat kencan sama lo!" terangnya lagi dengan terkekeh. "Fixs temani dia berobat.


Semua orang bersorak dengan tepuk tangan, terlbih Nita yang berteouk tangan paling keras. "Kereeen lo Ce."


Nah kalau yang kencannya masih menyenangkan mah gak usah ditanya ya itu udah pasti disebut normal tapi yang abnormal bukan berarti orang itu gila. Menurut buku yang belum gue baca."


"Yaelah yang belum gue baca katanya!"


"Ya gue kan emang belum baca, gue baru ngutip doang dikit. Kalian baca sendiri deh karena gue juga belum lihat tuh buku."


Semua orang kembali tertawa lagi dengan kejujuran Cecilia, ditambah gaya bicara maupun gaya bahasa nya yang nyeleneh.


"Nih orang yang jadi Assisten Dosen bakal bikin heboh diantara asisten asisten dosen yang lain, beda banget kan?"


"Temen gue tuh! Gimana, seru kan belajar sama orang gila kayak dia,"


"Kalian tahu faktor-faktor yang mempengaruhi psikologi abnormal itu salah satunya adalah keturunan?" seru Cecilia kembali bicara setelah tepuk tangan teman temannya berhenti.


"Jadi menurut buku itu, kalau kalian dibesarkan di keluarga pemabuk otomatis kalian akan meniru dan jadi pemabuk juga, kalau kalian dibesarkan dari keluarga yang suka marah-marah, suka kasar mukul kalian dari kecil lo bakal tumbuh besar kayak gitu juga. Satu lagi faktor lingkungan, jadi kalau kalian bergaul sama gue kalian bakal kayak gue bener nggak?" ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya, "


Semua tertawa lagi. "Bener-bener anjim nih orang."


Cecilia kembali berjalan, menyisir tempat duduk teman temannya. "Tapi kalau kalian ketemu orang baik, berada di lingkungan yang baik juga dalam pengasuhan orang tua yang baik. Gue jamin psikologis lo bakalan baik-baik aja. Satu lagi tambahan dari gue, ini murni pendapat gue yang belajar ilmu psikologi tapi juga menjadi praktisi dilapangan. Kita gak bisa selalu baik walau sudah berada ditempat baik, tapi kita juga tidak selalu buruk jika kita berada di tempat terburuk sekalipun. Materi hanyalah sebuah materi, tapi kalian yang bisa menentukannya sendiri. Semoga kita bisa jadi Psikolog, psikiater atau dokter kejiwaan yang bisa mengerti kondisi dan masalah orang padahal belum tentu dia pernah melewati posisi orang itu. Sekian, gue Cecilia,"


Semua orang kembali bertepuk tangan, memahami materi tidak harus berpusat pada catatan ataupun buku panduan. Dengan caranya sendiri Cecilia berhasil di sesi kedua.


Jam kuliahnya telah usai, Cecilia membereskan perlengkapananya yang hanya dibuka sekilas sekilas saja, jujur dia pun sangsi dalam menyampaikannya, bagaimana kalau apa yang di sampaikannya salah. Tapi respon teman temannya sangat bagus.


"Nit ... Gue benerkan?" tanyanya lagi lagi untuk memastikan.


"Bener kok! Gue baca juga pas bikin rangkuman itu, cuma lebihnya ada. Lo bikin contoh yang real,sampai materinya ngena dan mereka paham."


"Gue ngedadak jadi pinter gini ya Nit, Lo juga."


"Anjim lo! Gue lebih pinter dari lo sekarang, Yo cabut. Gue laper." Nita melenggang lebih dulu.


Sementara Cecilia masih merapikan barang barangnya, tak lama kemudian Harsa masuk setelah semua orang telah keluar. Dia sudah melihatnya sejak tadi dan tentu saja secara diam diam.


"Kau ternyata berbakat juga!"


Cecilia tersentak kaget, "Mr bikin kaget aja nih! Tapi iya kan Mr, aku bisa di posisi ini, jadi kasih kesempatan sampai semester ini selesai."


Harsa mengangguk, "Awalnya cukup membuatku ragu dan tidak yakin, sampai berfikir keputusan Irsan mengenaimu hanya karena hubungan kalian, tapi sekarang tidak karena kau berhasil mematahkan keraguan itu. Selamat Veronica Cecilia, berusahalah dengan baik."


Cecilia mengangguk, "Makasih Mr Harsa."


Harsa keluar dari ruangan tersebut, sementara Cecilia masih betah disana.


"Yes ... Yes ... Yes, gue gak nyangka gue sepinter ini, gue mesti bilang makasih sama pacar gue yang luar biasa, cuma dia yang bisa ngeliat bakat gue diantara bakat bakat gue diatas ranjangg!"


.


.


Jangan lupa dengerin juga versi audiobooknya. Dijamin makin seru. Suaraaa beuhhh... Cece banget deh. Gak percaya ... Cek aja sendiri. follow juga Dubbernya . Alka. Makasih