I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.217(Sudah Kabur)



Irsan berdecak tidak karuan, bersembunyi dibalik buramnya kaca pemisah, mereka memang pernah melakukannya, bahkan pria itu ingat betul.


"Yang pertama dibawah pengaruh alkohol, yang kedua dalam keadaan sadar tapi tidak juga sadar sepenuhnya dan ketiga lebih parah, dalam pengaruh obat perangsaang!" Irsan menyebutkannya dengan rinci dan jelas.


Cecilia terkekeh, dia menekan tombol air diatas closet lalu bangkit dan membenahi celananya. "Ingetanmu kuat banget sih!"


"Cepatlah Cecilia!"


"Takut banget aku perkoosa lagi?"


"Jangan asal bicara sayang, kau sendiri yang akan kewalahan nanti." sindir Irsan dengsn suara yang lebih pelan dari sebelumnya, memang benar mengingat kejadian terakhir dimana Cecilia yang kewalahan sendiri. "Aku ada meeting pagi ini, jangan main main lagi Sa---"


"Hmmm ... Nih!" Cecilia menyodorkan bathrobe dengan bersandar pada kaca pemisah dan membelakanginya dengan terus terkekeh, faktanya memang tidak mudah untuk berubah, semua butuh proses, kebiasaan kebiasan lama yang kerap muncul begitu saja saat ada kesempatan maupun merasa terpancing.


"Ini ... aku gak lihat kok!"


Irsan tidak lagi mengatakan apa apa, dia mengambil bathrobe dari tangannya walau Cecilia masih mencoba menggodanya dengan menahan bathrobe sekuat tenaga.


"Sayang!" Cecilia terkikik. "Gemes deh."


Irsan berdecak lagi, bak anak kecil yang kesal karena terus dipermainkan. Pria itu membuka pintu kaca dengan sengaja. "Aku sudah sabar sayang, jangan memancingku atau kau yang akan menyesal."


Jika orang lain yang mendengarnya, orang itu sudah pasti akan takut. Namun tidak dengan Cecilia, dia justru terkekeh dan sekejap kemudian menutup mulutnya saat Irsan terlihat kesal karenanya.


"Aku justru nunggu itu Doksay."


Entah untuk keseberapa kalinya Irsan berdecak, dia memakai bathrobe dengan cepat lalu keluar begitu saja dari kamar mandi. Meninggalkan Cecilia yang masih terkekeh karena melihat tingkahnya yang aneh.


"Aneh ... Masih malu malu aja! Padahal kita udah 3 kali ngelakuinnya. Tiga ... Nih tiga, baru juga tiga." monolognya dengan melipat ketiga jari tangannya menatap Irsan yang menghilang dibalik pintu.


***


Setelah siap siap Irsan kembali menggeret koper miliknya, dia akan kembali pulang ke rumah Ibunya. Memang benar akan berbahaya jika dia terus tinggak berdua saja dengan Cecilia, gadis itu memang hanya menggodanya namun akan lebih berbahaya jika dia yang tidak bisa menahan godaannya.


"Kau akan pulang sekarang?"


"Ya ... Setelah semua urusanku selesai, kita akan segera mengurus pernikahan."


kedua manik hiyam Cecilia memicing ke arahnya, "Hm ... Gak sabar yaa."


"Kau ini, istirahatlah," ujarnya mengecup pucuk kepala Cecilia.


"Aku akan ke rumah sakit lihat Ibu lagi, nanti juga aku mau ketemu temanku."


"Oke ... Kau mau aku antar?"


"Gak usah, aku sendiri aja ... lagi pula kau kan juga mau meeting kan calon imam?" terkekeh lagi, tidak hentinya menggoda Irsan.


Irsan mengacak pucuk kepalanya, "Baiklah kalau gitu."


"Ih cuek banget, bales kek bilang calon Istri ... Apa gitu kek!"


"Aku pergi ya ... Kau hati hati." mengacuhkan godaan Cecilia yang terus menerus.


Cecilia mengangguk lalu melingkarkan tangan padanya, ikut mengantarkannya sampai depan pintu bak seorang istri yang mengantarkan suaminya bekerja.


Setelah kepergian Irsan, Cecilia kembali masuk ke dalam kamar mandi, dan bersiap siap pergi ke rumah sakit untuk melihat ibunya. Tak lama dia juga keluar dari unit miliknya.


"Cecilia?"


Cecilia menoleh ke arah belakang dan melihat Ines yang berjalan dengan koper yang dia geret. "Mau pada kemana sih, perasaan banyak banget yang bawa koper." Desisnya.


"Kamu mau kemana?"


Ines terkekeh, kebohongannya sudah di ketahui oleh Irsan dan Cecilia. Dia tidak pernah pergi ke luar kota apalagi ke festival fashion seperti katanya. Justru dia bersembunyi di rumah Embun bersama Toni atas usul Carl.


Cecilia masih berdiri menatapnya dengan tajam, "Kau tahu Carl dimana?"


Wanita yang lebih tua darinya itu mengeryit heran, "Carl? Aku tidak tahu."


"Jangan bohong! Kau pasti tahu kak."


"Aku gak yakin, kau juga bohong waktu bilang pergi ke luar kota dan malah sembunyi di rumah Ibu."


"Serius aku tidak tahu kemana Carl pergi, apa kau sudah periksa unit yang dia sewa."


Bahkan Ines tahu jkka sebelumnya Carl menyewa unit apartemen dengan sengaja, semakin membuat Cecilia curiga padanya.


"Dia mengerjai Irsan dengan bilang meeting di singapura, padahal temannya yamg datang kemari, dia harus diberi pelajaran. Nita sahabatku pun sampai saat ini marah dan salah faham denganku gara gara dia. So please, gak usah bohong! Dia harus dikasih pelajaran." terang Cecilia yang langsung berlalu meninggalkan Ines begitu saja.


"Ce ... Aku benar benar tidak tahu!" teriaknya, namun Cecilia tetap melangkahkan kaki dan masuk kedalam lift yang saat itu terbuka tanpa ingin memghiraukannya.


Ines menghela nafas, dia benar benar tidak tahu kemana Carl pergi, dia juga masih mencoba menghubungi Carl namun nomornya tetap tidak aktif, dia juga mencoba menghubungi Toni.


'Toni. Kau tahu dimana Carl?'


'Carl? Apa dia tidak mengatakannya padamu?'


'Tidak! Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu.'


Terdengar suara helaan panjang dari ujung telepon, sebelum akhirnya Toni kembali bicara.


'Dia pergi ke pulau Dewata!'


'Hah?'


'Dia bilang begitu padaku tempo hari dan dia memperlihatkan dua tiket pesawat.'


Ines berdecak, lalu menutup sambungan teleponnya dengan Toni.


"Dua tiket pesawat! Dia pasti membawa wanita."


***


Sementara Irsan pergi ke kantor PT. Global Globe. Dia segera menemui Zian untuk menyelesaikan masalah perusahaannya. Lebih cepat lebih baik karena dia tidak suka menunda pekerjaannya.


Brak!


Pria itu membuka pintu dengan keras, membuat Zian yang tengah menandatangi sebuah berkas terkaget.


"Sial ... Tidak bisa kau membukanya pelan pelan saja."


"Tidak bisa!"


Bruk!


Irsan menyimpan berkas serta ipad dari Carl yang berisi semua poin poin perusahaan yang akan dia diskusikan dengan Zian.


"Kenapa kau ini?"


"Aku ingin sekali memukulnya, tapi dia sudah kabur lebih dulu!"


Zian bangkit dari kursi kekuasannya, menghamoirinya dan menepuk bahunya kuat kuat. "Kau masih marah pada Carl?"


"Tentu saja. Kau fikir saja aku seperti orang bodoh saat di bandara dan mendengar kau sudah berada di sini sejak pagi."


"Dia pergi ke pulau Dewata!" pungas Zian dengan santainya, memberikan satu botol air mineral pada Irsan. "Apa perlu kita susul dia dan menghajarnya sampai mati?"


Irsan tersentak, "Apa kau bilang. Dia ke bali?"


"Hm!!"


"Memang kurang ajar sekali dia!"


"Sekarang katakan apa yang akan kau lakukan dokter? Bukan hanya kau saja yang dia rugikan, tapi juga aku, gara gara dia mengerjaimu, aku kena imbasnya. Putraku hilang di rumah sakitmu! Aku hampir gila mencarinya."


"Hah?"


"Beruntung dia ditemukan dalam keadaan baik baik saja!" Zian menghela nafas, mengingat kejadian yamg membuatnya kalang kabut hari kemarin, "Sekarang kita bahas pekerjaan. Aku tidak bisa lama lama di indonesia! Aku harus segera kembali ke Singapure."