I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.77(Resmi tapi tidak resmi)



Irsan mengerjapkan kedua mata serta mengulum senyuman saat mendengarnya sangat jelas, ditambah gadis yang duduk di sampingnya itu dalam keadaan sadar tanpa pengaruh minuman beralkohol. Kepalanya terangguk angguk dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Namun tidak serta merta dia menoleh apalagi menatap Cecilia yang baru saja mengatakan hal yang sudah semalam dia dengar.


"Nah ... Aku udah bilang kan! Jadi putuskan dia."


"Oke ... Sepulang dari kantor polisi kita temui Ines. Dia juga ingin bertemu denganmu."


"Kenapa harus berdua! Kau sendiri saja. Oh ... Aku tahu, kau ingin aku lihat sendiri saat kau putuskan dia kan?" Wajah Cecilia bertambah merah karena malu atau entahlah hanya dia yang tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Irsan tidak mengatakan ya atau tidak, dia hanya tersenyum saja. Dasar tiang listrik.


"Jadi kita resmi pacaran?" ucap Cecilia dengan menyentuh tangan Irsan yang berada di setir kemudi. Namun dalam sekejap dia kembali menariknya.


Sial ... Gimana sama Reno, kontrak gue. Ah anjim lo Ce. Tenang tenang. Tarik nafas buang. Oke gini, Reno masih aman, masih ada sebulan gue free. Abis itu gue bikin dia.... Mati atau aaah, sial gue jadi gak bisa mikir. Batin Cecilia ikut berdiskusi tentang masalah yang dia buat sendiri.


"Tidak juga!" sahut Irsan menohok. Benar benar menohok sampai Cecilia ternganga.


"Iih ... Kok gitu!"


"Apa kau benar benar ingin kita berpacaran?"


Ah sepertinya kata pacaran tidak cocok untuknya yang berusia 40 tahun, sungguh terlambat untuk berpacaran. Irsan lebih cocok mencari calon istri, calon ibu dari anak anaknya ketimbang pacar.


"Yaa udah siapa juga yang mau." kata Cecilia lagi karena Irsan hanya diam membisu.


Pria itu menghembuskan nafas, dia juga tidak mungkin mengungkapkan keresahannya tentang sebutan pacar. Status resmi tapi tetap tidak resmi, apalagi mengungkap kalau dia sedang mencari teman hidup. Bisa bisa Cecilia kabur.


"Diem aja. Jadi gak? Tujuan kau mendengar yang aku bilang apa? Aneh."


"Ya sudah! Anggap seperti yang kau bilang tadi."


"Apaan?" Cecilia benar benar kesal karena nyatanya Irsan lebih sulit mengungkapkan sesuatu, berbanding terbalik dengannya yang frontal. "Pacar?"


"Kau menyebutnya apa tadi?" Irsan merasa malu sendiri sebutan itu. Malu pada usianya.


Cecilia mengulas senyuman, "Pacar sayang pacar ... Emang sih gak cocok! Apa kau ingin berubah fikiran. Kita bisa jadi paman dan keponakan. Atau kakak dan adik imut ketemu gede."


"Cecilia!"


"Ya ... Ya, dasar tiang listrik gak bisa apa santai sedikit. Kalau gini mana bisa di sebut pacar kan? Gak seru."


"Tidak ada kontak fisik selagi kau memiliki pria lain yang menyentuhmu." Ujarnya lagi semakin menohok. "Aku menyukaimu, bukan tubuhmu seperti pria lain, aku ingin menjagamu bukan tambah merusakmu." kali ini Irsan menolehkan kepala ke arahnya. "Aku serius Cecilia. Kau harus tahu itu."


"Apa apaan gak ada kontak fisik. Gak seru. Memangnya kau akan tahan tidak menyentuhku." ucapnya dengan membusungkan dada.


Irsan menghela nafas, "Apa kau tidak ingin hidup lebih baik? Berhenti mencari uang dengan cara begitu. Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu."


"Aku bukan barang pecah belah yang harus dijaga! Aku bisa jaga diri sendiri. Lagipula memangnya kau punya uang? Uangmu habis sama si Sundel itu."


"Uang bisa dicari."


"Aku gak bisa janji kalau gitu. Bebanku banyak." Tukasnya memalingkan wajahnya ke arah lain, jujur saja baru kali ini Cecilia merasa sadar harga dirinya mulai diperhitungkan oleh uang. Dia tidak peduli pria lain bernegosiasi masalah uang dengannya, namun saat pria itu adalah Irsan, dia merasa benar benar rendah. Tapi bukan Cecilia namanya jika harus menyerah begitu saja. Semakin direndahkan, dia akan memperlihatkan kerendahan nya dengan sengaja.


"Ini demi kebaikanmu. Berhenti bekerja seperti itu dan bekerjalah di kafe milikku."


"Mana bisa kau membiayai hidupku sepenuhnya! Lagian aku udah di pecat."


"Apa kau sedang bernegosiasi dengan klienmu Cecilia? Kau mengatakan soal uang padaku. Kafe itu milikku, kau bisa mengurusnya kalau kau mau. Terserahmu lakukan apa disana. Aku akan bicara pada manager."


"Apa soal itu penting untuk aku jawab? Kau lebih mementingkan uang di atas segalanya?"


Cecilia menghela nafas, kenapa berdebat dengan si tiang listrik selalu berbeda, pemahaman mereka pun selalu berbeda jadinya.


"Terserah kau sajalah!"


"Ya sudah!"


Ih sialan ... Orang kalau resmi pacaran itu kan sayang sayangan, manja manjaan. Apalagi di hari pertama, ngajak kemana kek yang romantis romantis, ini malah debat, ribut soal beginian. Ya udah ... Dah gitu aja, dasar Tiang listrik.


Perdebatan pertama mereka terhenti begitu saja saat mobil berhenti di depan kantor polisi, Irsan menoleh ke arahnya dengan tatapan meneduhkan. Namun tidak dengan Cecilia yang terlihat kesal.


Dia turun begitu saja dan masuk kedalam kantor polisi. Sementara Irsan menghela nafas dan keluar setelahnya.


Tak berselang lama Cecilia keluar dengan wajah cemas dan menghampirinya. Gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Irsan. Terasa dingin dan berkeringat.


"Ku fikir kau sudah tidak mengalami Police Anxiety." ujar Irsan yang menggenggam tangan Cecilia. Pacarnya. Geli sendiri dia saat menyebutnya begitu walau di dalam hati.


"Ak---aaa---akuu ....!" tergagap saking cemasnya, perubahannya sangat kentara dengan dahi yang berkeringat.


"Kita masuk sama sama hm."


Cecilia mengangguk dan berpegangan erat pada Irsan. Detak jantungnya mulai normal seiring dengan rengkuhan lembut Irsan di bahunya.


Nyaman, hal pertama yang Cecilia rasakan saat memasuki ruangan ber AC namun terasa panas baginya. Tatapan tatapan tajam dari beberapa pria berseragam itu membuat nyalinya menciut.


"Nanti jangan pergi! Aku gak mau diperiksa sendirian."


"Aku akan menemanimu."


"Janji!"


"Tidak juga, kalau mereka mengijinkan, aku bisa masuk ke ruang penyidikan...." jawab Irsan apa adanya. Benar benar tidak bisa membuat Cecilia tenang mendengar jawabannya.


Cecilia menginjak kaki Irsan, "Iihhh ... Gak usah ngomong kalau kayak gitu."


Empat jam penuh Cecilia berada di ruang penyidikan, ditemani Irsan walaupun dia hanya bisa duduk satu kursi dibelakangnya, berjarak satu meter dan memberi ruang pada pihak polisi melakukan tugasnya.


Cecilia menjawab 30 pertanyaan mengenai Dirga dan keterlibatannya dalam penyalah gunaan Zat adiktif yang dilaporkan sendiri oleh Irsan. 15 diantaranya pertanyaan yang berbelit namun hanya di ulang ulang saja.


Dan Cecilia bisa menjawabnya walaupun dengan suara bergetar. Polisi yang menanyainya pun harus berganti seragam terlebih dahulu karena Cecilia semakin susah menjawab karena terdistrak oleh seragam kepolisian.


Sampai jawaban terakhir, Cecilia justru ambruk tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, Irsan bangkit dan berhambur mengangkat tubuhnya.


"Baringkan disofa saja."


"Tidak! Aku akan membawanya keluar, dia harus keluar dari tempat ini agar kecemasannya berkurang!'


.


...Nah kenapa jadiannya aneh yaaa .... Si tiang listrik sih ngadi ngadi sama jawabannya. Sama kek resep obat yang othor baca, kagak ada yang ngerti. Wkwkwk......


...Udah 3 chapt nih, yang like dan komen jangan kendor ya....