I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.231(Akhirnya)



Irsan membuka kain penutup tipis yang menutupi wajah Cecilia, entah kenapa tangannya bergetar saat menyentuh tudung putih itu, bahkan hampir seirama dengan degup jantungnya kini, moment pernikahan seperti orang bodoh yang kerap diucapkan Irsan pada Zian dan pernikahannya yang konyol.


Namun nyatanya kini dia merasakannya sendiri. Tempat yang digadang gadang menjadi tempat pesta meriah dengan banyak tamu undangan itu nyatanya sepi sekali. Yang terdengar hanya suara Carl dan Zian yang heboh berdua saja.


Saking sepinya Home band berinisiatif menyanyikan lagu, denting piano mulai terdengar, lagu yang menurut mereka cocok di mainkan saat moment pernikahan. Lagu Westlife dengan judul I Wanna grow old with you mulai dinyanyikan.


^^^Another day without your smile^^^


^^^Another day just passes by^^^


^^^And now I know^^^


^^^How much it means^^^


^^^For you to stay right here with me^^^


^^^The time we spent apart^^^


^^^Will make our love grow stronger^^^


^^^But it hurts so bad^^^


^^^I can't take it any longer^^^


Embun menitikkan air mata, rasa bahagia karena melihat Irsan yang akhirnya mau melakukannya walau harus sedikit trik pemaksaan pada Cecilia. Hanya gadis itu yang mampu mengalahkan logika yang sulit dimengerti atas pemikiran pemikiran realistis Irsan, menjadikan hal sulitpun jadi mudah.


"Astaga ... Lama sekali kau membukanya!" seru Carl yang semakin gemas melihatnya, "Apa kau perlu bantuanku Dokter Irsan?"


Gelak tawa Zian membahana, membuat rasa gugup Irsan semakin kentara saja, dia menoleh ke arah kedua temannya itu.


"Diam kalian!" desisnya tanpa suara.


Cecilia terkekeh, degup irama jantungnya meningkat lebih kencang dari sebelumnya, ketenangan dan wajah santainya pun berubah saat melihat perubahan Irsan.


"Ternyata begini rasanya menikah!"


"Kau benar, padahal tidak banyak orang yang melihatku, tapi rasanya ligmen lututku lepas begitu saja." desis Irsan saat akhirnya berhasil membuka tudung putih yang menutupi wajah cantik wanita yang kini resmi jadi istrinya.


Irsan mendekatkan wajahnya, dengan sedikit menundukkan kepala agar bisa menyamai Cecilia. Dan perlahan namun pasti, dia mengecup bibir Cecilia dengan lembut. Sedangkan Cecilia memejamkan mata dengan kedua tangan yang memegang ujung jas yang dikenakan Irsan.


Rasanya begitu manis, rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, merasa heran sendiri kenapa tangannya tidak mau bergerak sedikitpun, bahkan tubuhnya sekalipun, tidak menuntut lebih seperti dirinya yang biasanya. Kini dia tahu perasaan cinta semakin tumbuh bermekaran, dikelilingi ribuan kupu kupu yang terbang sangat cantik.


Irsan melepaskan kecupannya, mengelap lembut ujung bibir Cecilia dengan ibu jarinya hingga bibir itu melengkung sempurna.


"Kayak mimpi."


"Aku juga ... Terima kasih Cecilia."


"Kita harus bilang makasih pada Ibu, juga Carl."


"Hm ....!"


Cecilia masih mengulum senyuman, "Juga pada orang yang selalu kamu ejek bodoh karena membawa temanku menikah setelah pulang sekolah."


"Aku tahu! Maafkan aku." Irsan menggenggam tangan Cecilia, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Imam yang menikahkan mereka.


Lagu Westlife masih menggema lembut, Zian bahkan sudah mengajak Agnia untuk berdansa,


"Ini jauh lebih baik!" Ucap Irsan saat mendengar musik yang diputar home band. "Tidak terlalu seperti orang bodoh!"


"Ini lagu apa?" tanya Cecilia yang memang baru mendengarkan lagu yang diputarkan.


"Astaga! Kau tidak tahu?"


"Gak tahu." polosnya.


Sedangkan Ibu Cecilia yang berdiri disamping Embun menatap Cecilia yang cantik terbalut gaun putih, ingatannya melayang pada hari dimana keluarga kecilnya bahagia. Gaun putih yang menjuntai terinjak injak kaki kecil Cecilia yang memakai gaun oengantun miliknya.


'Aku cantik! Aku akan menikah dengan pangeran nanti ya kan Bu?'


Ibu tertawa, melihat tingkah polah gadis berusia 4 tahun melenggak lenggok di depan kaca lemari.


'Tentu saja, anak Ayah ini akan jadi princes tercantik sedunia.'


Cecilia kecil terbalut gaun putih tertawa riang saat digendong sang ayah dan di putar putarkannya, hingga gaun putih yang dikenakannya terombang ambing.


"Cecilia ... Putriku!" gumamnya dengan menitikkan air mata.


"Besan ...!" Embun merengkuh kedua bahunya, sementara Carl yang menghampiri mengusap lengan dengan lembut.


"Bukankah Cecilia putrimu itu sangat cantik?"


Ibu Cecilia mengangguk anggukkan kepalanya, tertawa bahagia saat melihat sosok Cecilia yang baru di sadarinya.


"Ya ... Dia sudah cantik sejak kecil!"


Lagu kembali berubah, kali ini lebih slow dibandingkan lagu sebelumnya, namun Cecilia semakin mengernyit, karena lagu itu lagu lawas, bahkan hanya dikenal oleh sebagian orang saja. Agnia terkekeh saat mendengarnya, melirik Cecilia yang juga meliriknya karena lagu yang kini dimainkan home band tidak mereka tahu.


Irsan merengut, wajah datarya kembali terlihat saat Cecilia menoleh ke arah mikropon yang tengah di pegang oleh sang vokalis.


"Jangan membuat ulah!"


"Ini pesta pernikahan kita, tapi aku gak tahu lagu yang mereka mainkan, boleh dong request lagu?"


"Tidak usah, kita pergi menemui mereka saja," tunjuknya pada Embun dan juga Ibu Cecilia.


Irsan menarik tangan Cecilia dan membawanya ke arah kursi dimana kedua ibunya duduk.


"Ibu?"


"Cecilia putri Ibu. Kau sudah pulang nak?" Ibu Cecilia memeluk dan menangis tersedu sedu, seolah baru saja melihat Cecilia. "Ternyata Kau benar benar menjadi tuan putri seperti kata ayahmu, aku senang melihatmu."


"Ibu...." Cecilia memeluk sang ibu, walaupun selama beberapa hari ini mereka bersama namun pelukan mereka kali ini seolah mereka baru saja bertemu.


Irsan mengelus punggung tangan Embun, dan mengecupnya. "Maafkan aku bu."


"Irsan putraku." Embun mengelus pipi Irsan dengan lembut. "Ibu bahagia melihatmu nak. Terima kasih."


Sementara Carl menghela nafas, undangan yang dibatalkan, singer wedding, bahkan segala pernak pernik yang sudah kadung dia batalkan tidak mungkin lagi kembali di urusnya.


"Ah ... Sudahlah, yang penting mereka sudah menikah, persetan dengan segala persiapan yang sudah aku rancang selama ini." Ujarnya dengan mengambil gelas dsn sebotol Minuman keras. "Akhirnya selesai juga, setelah ini aku akan mengajukan cuti dan berlibur." lanjutnya lagi dengan mencecap alkohol dari botolnya langsung.


"Bos ... Kau mengambil gelas untuk apa?" Seru Toni yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi disamping Carl. "Kau menenggaknya langsung dari botol dan gelas itu jadi tidak berguna."


"Persetan Toni, yang penting sekarang aku lega karena dua manusia aneh itu akhirnya menikah. Besok Tolong jadwalkan operasi tulang hidung untukku, sepertinya hidungku patah."


"Hidungmu tidak apa apa Bos, hanya luka kecil saja, tidak perlu operasi." Sahut Toni yang langsung mengambil gelas kosong yang tidak dipakai oleh Carl. Pria itu menuangkan minuman dari botol yang lain, lalu menenggaknya sampai habis.


"Benarkah?" Carl meraba raba pangkal hidungnya yang masih terasa sakit dan juga bengkak. "Jadi aku bisa bersenang senang malam ini." ungkapnya lagi.


"Ayolah Bos, kalau kau pergi, siapa yang akan menemaniku di sini."


.


Cecelover siapkan amplop, tapi kita gak di undang mereka yaa... Wkwkwk blah bloh mulu deh si Irsan haduuuh.