
Cecilia terdiam sambil menyeruput minuman hingga setengahnya.
"Kalau iya, berarti si Satya ini bukan orang sembarangan, dia bisa membuat semua video yang viral menjadi hilang. Apaan coba. Gue gak mau berurusan sama orang kayak gitu Ce." kilah Nita dengan kembali merebut botol miliknya dari tangan sahabatnya itu. "Dan gue ingetin lo sebagai sahabat lo. Gak usah nyari gara gara sama orang kayak gitu, lo inget Ce ... gak bakal ada yang bantu kita kalau kita kesusahan Ce, kita gak kayak Nia yang punya beking orang berkuasa. Kita cuma ... Cuma."
Cecilia berdecak kesal, benar juga apa yang di katakan sahabatnya itu.
"Lebih baik menghindar dari orang macam gitu Ce. Kita cari aman aja selagi bisa." Nita mengambil piring berisi nasi goreng pesanan nya dari salah satu penjual di kantin.
"Kok lo udah pesen aja sih?"
"Lo sih jarang masuk, jadi gue udah besty sama semua penjaga stand di sini. Kalau gue datang. Mereka udah tahu pesenan gue. "
"Lagak lo Nit!"
Nita terkekeh, sementara Cecilia kembali memikirkan permintaan Ines tapi juga ucapan Nita yang juga membuat nyalinya sedikit menciut. Terlebih Irsan hanya seorang dokter biasa yang pengaruhnya juga tidak lah besar jika dibandingkan dengan Satya kalau benar dia yang menghapus video itu.
"Eh Ce ... Si Dirga gimana?" tanya Nita membuat fikiran Cecilia semakin sembrawut.
"Belum ada kabar lagi dari tim penyidik, tapi kalau Irsan sih udah cabut laporannya kemungkinan Dirga bakal direhab aja." jawabnya lesu.
"Lemes amat lo. Belum dikasih jatah sama Reno?"
"Sialan lo ... Kenapa bawa bawa dia sih, ngerusak mood aja." ujar nya kesal. Namun sedetik kemudian dia menggulir ponsel dan mencari kalender di dalamnya. "Mampus gue, dua bulan cepet amat. Mana Irsan lagi lucu lucunya." gumamnya pelan.
"Hah. Ngomong apa lo? Irsan ... Mampus. Serius?"
"Udah deh ... Lo makan aja Nit! Gue makin gak bisa mikir nih. Runyam banget otak gue."
Nita berdecak dan kembali menyantap nasi goreng spesial miliknya dengan lahap. Sementara sahabatnya tengah berfikir keras apa yang akan dia lakukan dengan Satya, Irsan dan Reno.
"Sial banget sih gue, perasaan hidup gue gak berubah berubah deh. Banyak banget masalah yang bikin gue pusing."
"Tenang ... Tenang, lo selesaiin dulu masalah kecil. Yang gede bisa entar."
"Lo fikir masalah apa yang kecil? Semua masalah ini gede tahu gak. Masalah hati dan perasaan gue. Masalah masa depan gue, dan masalah yang gak bisa gue diemin."
Nita mendengus pelan, dengan kedua mata menyalang ke arahnya. "Lo mau lepasin Reno? Lo bisa tanggung akibatnya? Gak cuma uang bulanan lo yang dia ambil, tempat yang lo tinggali, mobil lo, semua baju yang lo pake sekarang? Lo bisa Ce?"
Cecilia melemparkan kerupuk ke arah Nita dengan mendengus, tapi Nita terkekeh mengambil kerupuk yang dilemparkannya itu lalu memakannya. "Gue sangsi lo bisa ngelakuin itu dan mulai dari nol lagi kayak di pom bensin."
"Bacot lo bisa diem gak!" menendang kaki Nita dibawah meja.
Suara kekehan Nita semakin keras, membuatnya kesal. Lagi lagi ucapannya benar, Gue belum siap gue gak siap. Tapi perasaan gue sama Irsan juga makin lama makin dalem. Batinnya bicara.
Drett
Drett
Ponselnya kini berbunyi, dan membuatnya terbelalak saat layar putih menyala itu menampilkan nama seseorang.
"Mampus gue! Panjang umur banget nih orang."
Nita mendongkak, ikut melihat ke arah layar lalu terbelalak lalu tersenyum. "Yes ... Kucuran dana udah kembali."
"Sialan lo."
"Ce ... Angkat berisik tahu!"
Cecilia mendorong ponselnya ke arah Nita, "Lo deh yang angkat, bilang gue gak ada ... bilang kemana gitu."
"Ogah ... Gue gak mau ikut ikutan! Lo tahu kan Reno sesensi apa sama gue." Nita kembali mendorong ponsel pada sang empunya.
"Nit please ...!" Cecilia kembali mendorong ponselnya lagi.
Nita menghela nafas, lalu mengambil ponsel diatas meja yang terus menjerit minta di angkat itu. Reno tidak akan berhenti menghubunginya kalau Cecilia belum mengangkatnya.
"Ok ... Ok ... Gue angkat."
"Thanks Nit."
Nita menekan tombol hijau, mendengar suara Reno lalu dia menyerahkannya lagi pada Cecilia. Kedua mata Cecilia membola sempurna karena kelakuan Nita yang tidak ada duanya.
'Halo honey. I Miss you.'
'Honey? Halo.'
Cecilia masih melolot ke arah Nita, lalu menghela nafas panjang dan merebut ponsel dari tangan Nita dengan kasar. Sementara Nita terkekeh dan melanjutkan makan siangnya.
'Ha--- halo Daddy.'
***
Cecilia merengut keluar dari kantin, disampingnya Nita yang hanya bisa terkekeh melihat sahabatnya itu. Mereka memutuskan mangkir lagi di jam kedua dan pergi untuk menyegarkan fikiran.
"Kita mau ke mall. Atau lo mau ketemu Reno?" cibir Nita, dengan cepat dia menutup mulutnya.
"Lo bisa gak sih gak bikin gue makin emosi."
Cecilia berjalan lebih cepat menuju mobil dan meninggalkan Nita. Dia membuka pintu mobil dengan kesal lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja. Nita bergegas masuk sebelum dia ditinggalkannya dan tentu saja masih dengan terkekeh.
"Gue ini heran sama lo Ce. Lo bilang Irsan itu jodoh lo. Terus lo masih aja mikirin Reno. Kalau gue bilang siap gak lo ninggalin semua fasilitas yang Reno kasih. Harus nya lo bilang siap dong. Bukannya merengut lo dah kayak anak Tk gak di kasih jajan."
"Gue sendiri masih bingung Nit ... Lo paham gak?"
"Lo berarti gak yakin sama Irsan, heh ... Gue kasih tahu ya ... Kalaupun ibaratnya gaji dokter gak segede gaji Si Reno. Tapi kan lo sendiri cinta kan sama dia. Jadi lo miskin juga lo pasti bahagia Ce."
Cecilia melajukan mobilnya tanpa ingin mendengar lebih banyak ceramah Nita yang berubah, "Tadi aja lo dukung gue ama Reno, sekarang lo rubah lagi. Heran sama lo ... Bergaul sama si killer lo harusnya tambah pinter, ketularan kek dikit! Ini enggak sama sekali."
"Heh emang kepintaran itu nukar dari air liur atau cairan junior junior tuh dosen. Kagak kan."
"Heh bacot lo gak ada filternya, gak usah bawa bawa yang begituan! Lo gak peka sama gue,"
Nita memicingkan kedua matanya curiga, lalu tersentak dengan mulut menganga. "Lo ... Sama Irsan?"
"Sekali doang! Dan semalem dia nolak ngelakuin itu sama gue. Alasannya. Cinta itu menjaga bukan merusak. Coba kalau cowo di seluruh dunia kayak dia, pasti gak asik."
Nita justru terbahak hingga terpingkal pingkal.
"Iya juga ... Ngapain dia ngejaga cintanya sama lo ... Lo sendiri udah rusak Ce. Ngejaga itu kalau lo masih suci bersih dan polos kayak bayi ya."