I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.147(Tunggu aku)



Cecilia mengerut sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, hal hal yang sudah dia rancang, rencana tempat bahkan tiket bioskop yang sudah dipesan secara online. Juga hal hal yang akan dia lakukan saat kencan kini harus berantakan karena panggilan rumah sakit dan sudah tentu lebih penting dari pada kencannya.


"Maafkan aku Cecilia. Ini sangat mendadak. Ada pasien yang baru saja tiba dan memerlukan pertolongan segera."


"Emangnya gak ada Dokter lain apa di rumah sakit, padahal itu rumah sakit besar. Masa Dokter yang harusnya libur di suruh kerja juga." rungutnya dengan bibir mencebik.


"Itulah resiko seorang Dokter, siap kapan saja saat dibutuhkan, bukan banyak tidaknya Dokter yang tersedia di rumah sakit. Tapi kami di sumpah jabatan. Kau mengerti." Terang Irsan dengan terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Cecilia mendengus, "Padahal kapan lagi coba. Kau saja liburnya gak nentu gitu. Dan aku harus mengerti, masa kita pindah tempat kencan sih dari bioskop jadi rumah sakit. Mau ngapain, mesra mesraan aja gak bisa."


Irsan mengulas senyuman tipis. "Itulah kenapa sampai saat ini aku tidak berniat dekat dengan wanita. Bukan hanya soal aku belum bisa move on. Tapi jarang sekali ada yang mengerti dengan profesi seorang dokter."


Cecilia semakin mendengus mendengarnya, "Kau fikir aku gak bisa ngerti. Ok baiklah, aku akan jadi satu satunya wanita yang akan mengerti. Aku harusnya siap kapan aja, pasti kau pergi lagi kan. Uh sebel."


Irsan masih mengulas senyuman, dia masuk ke pelataran parkir dan segera menuju pintu parkir UGD.


"Kau tunggu di ruanganku saja." pintanya saat keduanya turun, Irsan segera masuk disusul oleh Cecilia yang hanya bisa mengangguk dan membiarkannya masuk lebih dulu.


Alih alih pergi ke ruangan praktek Irsan, gadis berambut panjang itu justru masuk ke dalam ruang UGD, demi melihat Irsan yang tengah melakukan pekerjaannya.


"Tekan. CPR!"


Suara Irsan menggelengar di salah satu ranjang yang tertutup tirai berwarna pink yang menjuntai dengan salah satu tirai terbuka sedikit. Cecilia mengikuti suara itu dan melongo.


Dia memejamkan kedua matanya, saat melihat banyaknya darah pada seorang pasien yang terkapar. Bukan hanya itu, kini pakaian Irsan yang berwarna putih pun terdapat noda darah karena pasien sempat menyemburkan darah dari mulutnya sebelum Irsan melakukan penyelamatan dengan menggunakan alat pacu jantung.


Dengan dibantu dua orang suster, Irsan menangani pasien itu sampai mesin jantung yang terpasang dengan tubuhnya kembali normal.


Cecilia ikut menghela nafas saat garis berwarna merah pada layar kecil perlahan naik, berbentuk garis zigzag dan juga mengeluarkan suara nyaring yang terjeda jeda.


Irsan menyibakkan tirai dimana Cecilia berdiri, keduanya sama sama terkaget.


"Kenapa di sini? Bukankah aku suruh menunggu ri ruanganku?" Ujar Irsan membuka kaos tangan karet yang dikenakannya. Lalu membuangnya ditempat khusus yang dibawa oleh suster.


"Apa dia baik baik aja?" Tanyanya tentang pasien yang penuh luka itu. "Sakit apaan sih dia?"


"Dia korban tabrak lari, ada luka di organ dalamnya, jadi dia sempat memuntahkan darah tadi." ujar Irsan menjelaskan, walau dia tahu jika Cecilia belum tentu akan paham.


Cecilia mengangguk anggukan kepala, dengan terus menatap pasien yang kini tengah di bersihkan. "Kasian!"


"Kau tidak takut darah?" Tanya Irsan sembari mengisi resume pemeriksaan.


"Takut sih enggak, cuma ngeri aja."


"Luar biasa, tidak adayang kau takuti." ujar Irsan yang segera meninggalkan ruang UGD dan menuju ruangan prakteknya. Tiba tiba saja dia teringat perkataan Cecilia semalam, entah dia mengigau atau sadar saat mengatakannya. Bagaimana kalau dia kembali.


"Aku harus mengganti pakaianku." gumamnya saat masuk kedalam ruangan praktek.


Cecilia ikut masuk dan mengepaskan dirinya di kursi yang ada di sana, kedua maniknya terus mengikuti pergerakan Irsan, pria itu mengambil pakaian bersih yang selalu dia siapkan di dalam lemari kecil disamping meja kerjanya.


"Kenapa kau membawa banyak baju ke sini?"


"Aku jarang pulang ke apartemen," sahutnya dengan membuka pakaian yang telah kotor dengan banyak darah lalu membungkusnya dan memasukkannya ke dalam plastik steril.


"Gak pulang? Kenapa. Oh pas belum bisa move on ya." Ujar Cecilia yang harus menelan saliva karena melihat otot perut serta dada bidang Irsan.


Irsan tidak menjawabnya sama sekali, dia segera memakai pakaian baru dan mencuci tangannya.


"Jadi sudah selesai. Kita bisa pergi sekarang?"


"Belum ... Sebelum pasien menunjukan kondisinya kembali stabil, kau bisa menunggu kan?"


Cecilia mendengus pelan, namun juga mengangguk. "Ya mau gimana lagi, aku kan yang paling mengerti." Desisnya sedikit kesal.


"Hanya sebentar saja. Hm?" Irsan menatapnya lekat, "Aku harus melihatnya lagi, kau tunggu di sini ya."


Cecilia kembali mengangguk, tidak ada pilihan lain baginya selain menunggu dengan sabar. Walau rasanya selama ini dia tidak pernah menunggu, melainkan sebaliknya. Dia yang selalu di tunggu.


Irsan menghampirinya sebentar, mengacak pucuk kepalanya dengan lembut. "Setelah urusanku selesai, kita pergi. Hm!"


"Ya udah sana! Cepetan selesaiin. Kalo perlu kasih dosis tinggi, biar cepet." sahutnya tidak sabar.


Irsan mengulas senyuman, lalu menariknya hingga gadis itu berdiri, pria dingin tanpa banyak bertindak itu tiba tiba merekatkan tangan di pinggang Cecilia. Membuat Cecilia terkesiap.


"Eeh!"


"Tunggu aku! Jangan kemana mana hm? Dan jangan marah. Oke."


Cecilia mengangguk dengan mengulum senyuman, baru saja Irsan bertindak tanpa dia duga. Pria itu juga mengecup kening Cecilia lalu beranjak pergi.


"Tumben banget sih dia." Cecilia menatap pintu yang kini tertutup.


Hampir satu jam Cecilia menunggu, dia sudah duduk berselonjor kaki, menopang kaki bergantian ke kiri dan ke kanan, bahkan sudah berdiri lalu kembali duduk lagi.


"Lama banget sih." gumamnya dengan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Tiba tiba pintu terbuka, Cecilia berbalik dengan senyuman merekah namun sejurus kemudian dia menghela nafas.


"Aku tidak tahu kau ada di sini."


"Ya ... Aku dari tadi di sini Dokter Aji."


Aji mendengus, dia menatapnya dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku jubah putih yang dikenakannya.


"Apa kau tahu Dokter Irsan mulai jadi sorotan disini karena sering mangkir dan bolos."


"Gak tahu!"


Aji berdecih, "Jelas tidak tahu! Memangnya gadis sepertimu tahu apa."


"Gadis sepertiku? Memangnya kau tahu apa tentang gadis sepertiku. Dengar ya Dokter Aji, pacarku saja gak mempermasalahkannya, kenapa dokter harus ikut repot dengan gadis sepertiku yang gak sama sekali kau kenal."


"Kau! Lancang sekali."


"Kenapa marah. Bukankah kau yang mulai?"


Aji mendengus, dengan melangkah ke depan dan mengambil berkas di atas meja.


"Kenapa Dokter Irsan bisa menyukai gadis seperti kau. Tidak punya etika dan sopan santun."