I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.98(Berantakan)



"Aaaahh sial!!!"


Persetan dengan ungkapan ungkapan suci yang keluar dari mulutnya, ada yang lebih penting dan harus segera di tuntaskannya. Sesuatu yang membuat hidupnya yang tidaklah seru itu menjadi lebih indah. Adrenalin yang terpacu sangatlah hebat, bahkan mampu melupakan aturan aturan yang selama ini dia terapkan di hidupnya. Gadis yang berada di dalam kungkunganya adalah satu satunya orang yang mampu membuat logikanya berhenti bekerja saat ini. Gerak tubuhnya tidak sama dengan isi kepalanya yang menyuruhnya berhenti sebelum semuanya semakin kacau dalam kenik matan sesaat.


"Please! Jangan biarkan aku pakai benda sialan yang kau lihat di lemariku." ujar Cecilia dengan suara serak serak basah. Menenggelamkan kepala Irsan di dadanya, meminta lebih dari sekedar terbang serba nanggung.


Entah permohonan atau kah sebuah ancaman, Irsan tidak begitu peduli, karena dia pun tengah berperang dengan dirinya sendiri. Ingin mematahkan aturan yang dia buat sendiri. Peraturan di buat untuk dilanggar, dan menjadi brengsekk tidaklah membuatnya mati.


Irsan terus turun semakin bawah, membuka kedua paha Cevilia dan menenggelamkan dirinya di sana, mencecapp pusat inti miliknya dengan sesekali memainkan lidahnya menari nari dengan menyibak kain tipis berwarna pink.


Cecilia semakin menggelinjang hebat, merasakan semua gelanyar berkumpul di satu titik dan denyutaan hebat membuatnya kalang kabut. Satu tangannya meremasss ujung bantal sofa, serta satu lagi meremass Rambut Irsan.


"Eeemmmhh. Aah! Fuccckk ...!"


Tak sadar mengumpat justru membuat Irsan semakin bergeloraa. Dia melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, hingga menyisakan kain segitiga miliknya saja yang kian sempit karena senjatanya menegang.


"Aah ... Irsan! Fuuuckk." Umpat Cecilia saat melihat senjata yang semakin tegang dibalik kain.


Drett


Drett


Ponsel yang berdering mulai memecah konsentrasi Irsan, sampai Cecilia membalikkan ponsel miliknya itu dan menutupnya dengan pakaian miliknya yang sudah terlepas.


Dering ponsel tidak juga berhenti, benda sialann itu semakin menjerit di bawah onggokan pakaian serta bunyi bunyi notifikasi yang terus menerus.


Keduanya saling menatap, dengan dada yang kian turun naik, tinggal selangkah lagi agar sesuatu yang hebat itu segera mereka capai.


Dering ponsel berhenti, namun di gantikan oleh ketukan pelan di pintu masuk yang membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Ada yang datang?"


"Biarin aja!" sahut Cecilia dengan decakan kecil.


Irsan bangkit dari atas tubuhnya, menyambar pakaian miliknya dan mengenakannya, sementara Cecilia berdecak lagi dengan satu tangan bertumpu di kepalanya. "Gagal lagi?"


"Maafkan aku Cecilia ... Kau lihat lah ponselmu, mereka menghubungimu terus menerus pasti ada yang penting." Ujar Irsan yang kini mengancingkan kemejanya. "Pakai bajumu."


Cecilia berdecak kesal, dia meyambar ponsel miliknya dan melenggang begitu saja di depan Irsan tanpa mengenakan apa apa, hanya segitiga berearna pink yang masih melekat di tubuh seksinya. Sementara Irsan hanya mengikuti langkahnya saja sampai pintu kamar tertutup dengan keras.


Pria itu memijit pelipisnya yang berdenyut pening, lalu mengambil semua pakaian milik Cecilia, menggulungnya dan menyimpannya di sofa.


Ketukan di pintu juga sudah tidak terdengar lagi, Irsan masuk ke dalam dapur dan menbasuh wajahnya di wastafel.


Kedua tangannya bertumpu pada ujung wastafel tempat mencuci piring, dengan tetesan air yang masih menetes di dagunya. Entah keberuntungan atau ke sialan yang dia dapat kali ini, nyatanya semua aksinya kembali gagal. "Kau bodoh Irsan! Apa jadi nya jika tadi sampai benar benar terjadi, kau bukan hanya jadi pria brengsekk, tapi kau juga pria pecundang yang tidak bisa memegang ucapanmu sendiri." gumamnya pada dirinya sendiri.


Sementara Cecilia terbelalak sempurna saat membaca semua pesan masuk dan juga puluhan panggilan dari asisten Reno, hampir setengah jam pria kepercayaan Reno itu berdiri di depan pintu dan berusaha menghubunginya namun tidak juga dia buka. Dengan memakai bathrobe berwarna biru, gadis dengan rambut acak acakan itu berjalan mondar mandir dengan menggigiti kuku kuku jarinya.


"Sial ... Bisa mampus gue kalau dia tahu ada Irsan di sini! Gue harus keluar dari pada Irsan yang membuka pintu." ujarnya dengan masuk ke dalam kamar mandi, memercikkan air ke wajahnya lalu menggukung rambut menggunakan handuk kecil, setelah itu dia kembali keluar.


Irsan tidak ada di ruang tamu, tidak juga di meja makan, namun sepatunya masih ada. Dia pun segera menuju pintu dan menghela nafas. "Kemana dia?"


"Aku disini!" Irsan muncul dari dapur dengan wajah yang masih basah. "Kau mau kemana dengan menggunakan bathrobe?"


"Apakah ada hal yang penting?" Irsan menggulung lengan kemejanya.


Cecilia membantunya mengulung walau hatinya masih kecewa bersamaan dengan rasa was was jikalau ketukan terdengar lagi. "Gak ada! si Nita yang telepon. Gangguin aja, jadi gagal lagi kan kita."


Irsan mengelus pipinya, tapi juga mengernyit karena gadis itu menggulung rambut yang bahkan masih kering. Cecilia terkekeh saat menyadari Irsan melirik gulungan rambut seperti sesudah keramas.


"Udah pake shampo kok tapi belum aku cuci karena nge cek dulu pintu."


"Oh ...! Ya sudah aku pulang dulu ya,"


"Jangan! Maksudnya nanti ...." Cecilia memastikan Irsan tidak keluar dari apartemen sekarang karena takut bertemu Asisten Reno diluar. "Aku butuh bantuan, kran air di kamar ku gak nyala, atau rusak entahlah aku gak ngerti."


"Benarkah? Apa perlu aku panggilkan teknisi?"


"Enggak ... Bukan, maksudku kau saja yang lihat! Apa mungkin aku gak bertenaga saat memutarnya."


"Baiklah kita lihat ada apa dengan per ledeng an kita, disini kau kan bayar uang pemeliharaan yang mahal itu." Irsan terkekeh sembari masuk ke dalam kamar Cecilia.


Sementara Cecilia berlari ke arah pintu, membukanya sedikit lalu dia menhembulkan kepalanya keluar, mencari sesuatu yang mencurigakan di luar.


"Huuh ... Syukurlah." gumamnya saat tidak ada satu orang pun yang menunggu.


"Sepertinya kran air di kamar mandimu tidak apa apa, aku sudah melihatnya." Seru Irsan yang membuatnya kaget.


"Astaga!"


"Kenapa?"


"Ah enggak."


"Hm ... Kalau begitu aku pulang dulu." Irsan mengambil jas miliknya lalu keluar, "You oke?"


Cecilia mendengus pelan saat di tanya, "Gak oke! Samsek ... alias gak seru sama sekali."


Irsan mengecup pipinya pelan, "Sepertinya kita memang harus menunggu waktu yang lebih tepat lagi."


Setelah memastikan Irsan keluar dengan aman, Cecilia menghela nafas panjang. Bertepatan dengan ketukan di pintunya kembali terdengar.


Gadis itu tersentak kaget, hampir saja. Dia pun ragu ragu membuka pintu. Dan benar saja, asisten Reno sudah berdiri di hadapannya.


Cecilia yang kaget tentu saja terkesiap memdengarnya.


"Kau mau apa? Kau datang bikin acaraku berantakan saja!"


.


.Semoga lolos review yaa ...


Tuh Si Irsan perlu di ajarin apa yaa. Wkwkwk.