I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.258(Tristan: Astaga)



"Ya sudah terserah kau saja kalau begitu!" tukas Irsan dengan malas.


"Tentu saja Senior, dengan mendapat dukungan penuh darimu. Aku akan melakukannya." Ujarnya dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menyalakan ponsel miliknya. "Ah hari pertama datang ke negara ini dan disambut dengan sangat luar biasa, kerusakan ban mobil kesayanganku." ujar Tristan.


Tidak aneh memang, dari dulu Tristan memang juniornya yang paling berani melawan, entah kebijakan kebijakan yang di keluarkan managemen kampus atau kebijakan Dosen sekalipun. Terkenal urakan namun sangat royal. Ucapannya dan juga sifat, semua dikemas dengan sangat apik melalui prestasinya yang luar biasa.


Perwakilan mahasiswa saat mendemo, pembicara yang handal dan mampu mengerahkan massa, dia akan selalu berada di barisan paling depan ketika sedang mengutarakan setiap aspirasi, suara suara lantang pada pemerintah bahkan kampusnya sendiri.


Ponselnya kini sudah menyala, Tristan memang sengaja menghubungkan ponsel pintarnya dengan Dashcam mobil dengan tujuan melihat kejadian kejadiam yang terjadi, entah itu perjalanannya yang lancar, macet, bahkan kecelakaan lalu lintas.


Video Dashcam sudah berputar. Tristan kembali menegakkan tubuhnya dengan kedua sikut yang menumpu di atas kedua lututnya, serta dengan dua tangan yang memegang ponsel yang saat ini tengah menampilkan rekaman Dashcam yang Tristan pasang di dalam mobilnya.


"Dua wanita ini ... Dua wanita ini yang telah merusak ban mobilku!" ujarnya dengan menunjuk ke dalam layar ponsel.


Irsan yang biasanya tidak peduli kini duduk disampingnya karena penasaran. Dia membulatkan kedua manik tajamnya saat melihat dua wanita yang tengah merusak mobil Tristan.


"Hah?"


Irsan terbeliak, terlebih pada sosok sang istri yang dengan nekat menusuk ban mobil Tristan dengan menggunakan sesuatu. "Kau lihat ini Senior?" Tristan memperbesar layar yang kini memperlihatkan tangan Cecilia tengah memegang benda yang sama dengan benda yang ditemukan Tristan.


"Ini benda yang sama! Dia membuangnya di tong sampah dan aku menemukannya, dasar wanita bodoh!" tukasnya dengan menggelengkan kepala.


"Apa kau tadi datang ke apartemen di jalan xx?" tanya Irsan dengan kedua mata terus menatap video yang tengah berputar itu.


"Apartemen xx? Ah ... Yaa untuk sementara aku tinggal di rumah saudaraku yang berada di sana sampai aku menemukan tempat yang cocok, dan mobilku masih berada di sana sekarang." Tristan mendengus kesal. "Aku belum menghubungi perusahaan derek karena harus datang kemari. Aku bahkan menggunakan taksi untuk bisa datang ke sini."


Irsan terdiam dengan panjangnya penjelasan yang Tristan ceritakan. Entah apa yang harus dia katakan saat ini melihat kelakukan istri dan sepupunya itu.


"Aku tinggal di sana!" lirihnya lemas. Entah dia marah, kecewa atau harus tertawa. Yang jelas dia tidak bisa berpikir dengan sikap istrinya yang tidak pernah berubah itu. Selaku nekat melakukan apapun.


"Benarkah?"


"Ya dan 2 wanita bodoh yang kau sebutkan itu adalah istri dan sepupuku!" ujarnya dengan merebut ponsel dari tangan Tristan.


Mencoba melihatnya dengan lebih jelas. Dan dia berdecak saat melihat keanehan yang menurutnya menjadi penyebab Cecilia dan Ines melakukan hal tersebut.


"Ini mobilmu?"


"Ya ...!"


Irsan pun menggelengkan kepalanya lagi. "Kau lihat ini, mobilmu menghalangi mobil sepupuku yang berada di sini." tunjuknya pada mobil yang jelas jelas pemberiannya pada Ines. "Sementara mobilmu melintang seperti ini, kau menghalangi jalan bung!" sentaknya kesal. "Kau salah mengambil jalur parkir Tristan, ini bukan luar negeri!" pungkasnya lagi.


Tristan terdiam, merebut kembali ponsel dari tangan Irsan, "Harusnya kan mereka bicara baik-baik, mereka bisa mencariku atau bahkan menanyakanku pada pihak security!"


"Mungkin mereka tidak Menemukanmu!" Irsan berusaha membela karena tahu Cecilia pasti melakukannya dengan sebuah alasan kuat.


"Tidak mungkin ... aku menyimpan kartu ID card ku pada security di sana, mereka pasti tidak mencariku! Astaga ... Bahkan sambutannya dari keluargamu sendiri Senior. Aku tidak percaya terlibat dengan orang-orang ini... astaga!" keluh Tristan dengan berkali kali meraup wajahnya kasar. "Aku sampai kehabisan kata-kata!" ujarnya lagi dengan menghempaskan punggung pada sofa.


"Sudahlah selesaikan semuanya sampai sini, aku akan menanggung semua biaya kerusakan mobilmu."


"Bukan itu masalahnya, kalau kau tinggal di sana istrimu dan sepupumu ini ... ah aku akan terus terlibat denganmu dan terus-terusan mati gaya! Aku tidak suka ini. Tidak akan seru kalau berteman denganmu di Rumah sakit dan juga di Apartemen."


"Kau ini ada-ada saja!"


"Ayolah Senior! Aku saja masih lelah karena perjalanan,"


Irsan yang kini bersandar di depan meja dengan kedua tangan melipat menatap tajam Tristan yang tidak pernah berubah itu.


"Berapa usiamu sekarang?"


"Oh Ayolah Senior. Kenapa kau bertanya hal sensitif seperti itu, yang jelas aku lebih muda darimu!" terangnya tersenyum dengan kedua alis naik turun


"Iya aku tanya berapa?" Irsan mulai kesal, jika Tristan saja mengatakan dia sudah tua, lantas bagaimana dengannya.


"Senior sendiri berapa?" Tristan justru membalikkan pertanyaan.


Irsan melemparkan pulpen ke arahnya, "Jawab saja aku!"


"Ini yang paling tidak suka terlibat denganmu Senior, dari dulu sampai sekarang hanya membuatku emosi saja tanpa bisa melawanmu, sudah pasti aku lebih muda. Itu kenyataannya."


Irsan berdecak lagi,


"Iya baiklah ... Baiklah, karena kau Seniorku dan aku menghormatimu. Aku akan menjawabnya. Aku 30 tahun!"


"Punya pacar?" tanya Irsan lagi.


"Astaga ... Apa Senior sedang wawancara kerja?"


Irsan lagi lagi berdecak lagi.


"Lagi pula siapa yang mau dengan orang sepertiku. Pria yang tidak punya tujuan ke depan dan yang santai seperti di pantai, mengalir seperti air. Itulah aku." kelakarnya.


"Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak Tristan!"


"Ya baiklah, aku tidak punya. Kau puas Senior? Kenapa kou mau menjodohkanku? Aku tidak suka perjodohan," Ujarnya dengan asal.


"Mungkin saja kau cocok!"


"Cocok untuk jadi apa? Untuk siapa? Kau serius ingin menjodohkanku Senior? Yang mana ... Yang depan atau yang belakang." ujarnya lagi dengan menunjuk foto Cecilia dan juga Ines.


"Yang rambut lebih panjang itu istriku!" tukas Irsan dengan posisi yang tidak juga berubah.


"Hah? Astaga. Apa kau gila senior? Ini lebih cocok untukku. Sama sama urakan."


"Tidak ... Dia memang istriku!"


"Astaga ...!" desis Tristan yang kembali menatap Cecilia yang tengah menusuk ban mobil miliknya, sampai sampai video itu dia putar beberapa kali.


"Wanita bodoh ini istrimu?"