
Keduanya turun dari mobil, berjalan masuk ke arah lift yang berada di basement, Irsan menekan tombol nomor lima dimana unit Ines berada. Sementara Cecilia bergelayut manja dengan tangan melingkar di lengannya. Irsan mulai risih walaupun nyatanya dia hanya bisa diam dan menghela nafas. Merasa jadi orang brengsekk karena melakukan hal tidak terpuji di tempat umum sekalipun melakukannya di dalam mobilnya sendiri, sekaligus menjadi bodoh saat ingat kalau kaca mobilnya berwarna gelap. Semua orang tidak akan bisa melihat aktifitas yang di lakukan di dalam mobil.
Hidupnya selama selalu datar, berkutat dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Dan hal yang tadi adalah hal gila yang baru dilakukannya, tapi membuatnya merasakan sensasi berbeda juga memacu adrenalinnya.
"Kau kenapa?" Cecilia bertanya karena Irsan diam saja. Benar benar datar seolah tidak terjadi ciuuman panas sebelumnya.
"Tidak apa apa."
Gadis itu terkekeh dengan kedua mata menyipit. "Jangan bilang kau nyesel!"
"Tidak ... Aku tidak menyesal."
Masih dengan terkekeh dan merekatkan tangan serta wajah yang menengadah ke arahnya. "Maksudnya nyesel kenapa sebentar kan?"
"Cecilia!"
Irsan nyaris berteriak dengan kedua mata yang lebar je arah gadis yang pintar memancing itu. Tidak hanya memancing adrenalinnya saja, memancing has rat juga pintar memancing kemarahannya.
"Sepertinya otakmu perlu di bersihkan!"
Ting
Lift terbuka dilantai lima, keduanya keluar dengan Cecilia yang terus tertawa.
"Kalau kau disuruh si sundel itu buat milih, kau pasti memilihku kan?"
"Kau mau aku pilih?"
Cecilia mengangguk pasti.
"Baiklah! Aku akan memilihmu."
"Yes, terus nanti kalau Ines kata katain aku, kau bela aku ya."
Irsan menoleh kearahnya, "Kau mau aku bela juga. Oke kalau begitu. Aku akan membelamu. Ada lagi?""
"Iihh ... Kenapa sih! Pertanyaan itu ada buat dijawab, bukan dijawab lagi sama pertanyaan." Dengus gadis berambut hitam itu tanpa menghentikan langkahnya. "Aneh, bener bener tuh tiang listrik. Cuma nyetrum kalau kita pegang, kalau enggak ya dingin, kehujanan kepanasan diam aja gitu." gerutunya.
Irsan hanya mengulas bibirnya tipis, usia mereka yang terpaut jauh itu membuat pemikiran mereka juga kerap berbeda. Terlebih dalam masalah ini, Irsan sangat santai membayangkan apa yang terjadi saat Ines dan Cecilia bertemu nanti.
"Aku udah tahu! Aku sering melihatmu masuk kesini, dan juga pernah masuk kesini buat ambil kunci mobil yang kau ambil." Sentaknya, lalu Cecilia berdecih. "Pura pura pikun."
"Tidak! Aku belum pikun," jawabnya datar.
Pria berusia 40 tahun itu memencet bel, sementara Cecilia menyibakkan rambutnya ke belakang saat menunggu Ines membuka pintu. "Ada gak. Lama banget sih. Apa perlu aku gedor aja?"
"Ada. Dia mungkin tengah berancang ancang bertemu denganmu, dia sangat marah."
"Heh ... Terus. Aku harus peduli gitu? Enggak ya, lebih cantik aku kemana mana."
"Kau benar." sahut Irsan dengan mengulum senyuman.
"Heran sih, sebenarnya kau belaain siapa? Plin plan banget, kau dukung si sundel atau dukung aku?"
"Kalian berdua." jawab nya singkat dan jelas, menepuk nepuk punggung Cecilia yang terus melingkar dilengannya.
"Enak aja dua. Dasar pria tak tahu diri, masih ada pengen dua."
"Memangnya tidak boleh dua?"
"Ya enggaklah! Aku lebih baik mundur daripada jadi yang kedua. Kau milih aku atau dia sih sebenarnya?" Cecilia berdecak kesal mendengarnya, melangkah mundur sebelum pintu terbuka, namun Irsan menahannya.
"Oke jangan marah, aku bercanda!"
"Candaanmu gak lucu tahu! Jadi kalau kau milih dia, aku pergi aja, gak usah ketemu si Sundel kalau gitu caranya. Gak guna."
Irsan menarik pergelangan tangannya, dan merekatkan tangan dipinggangnya, "Oke ...Oke, aku akan memilihmu dari pada dia. Oke, jadi kita temui dia ya."
"Kau serius milih aku?"
"Ya. Bukan kah kau ingin aku pilih?"
.
...Si Tiang listrik masih aja ngerjain si Cece, ngamuk lho nanti. Othor kabur nih, gak mau tanggung jawab ahhh....