
"Dokter bisa nakal juga?"
Cecilia mengulum senyuman saat melihat Irsan yang sengaja mempermainkan dirinya, membuat dirinya tidak berdaya namun itu justru memperlihatkan keraguannya sendiri.
"Kau butuh obat kuat?" Kelakar gadis dengan jiwa bi nal yang meronta ronta, bibirnya terangkat satu garis ke atas dengan jari telunjuk bergerak liar di sekitar ceruk leher Irsan.
"Jangan sembarangan bicara! Aku ini pria kuat, mampu bercintta dengan hebat bahkan sangat hebat sampai kau tidak mampu berjalan nanti!" sahutnya dengan suara semakin serak, masih bertahan dengan gerakan yang membuatnya terlihat sangat bodoh, hanya memaju mundurkan benda yang sudah menegang itu dipusat inti milik Cecilia.
"Omong kosong! Kau dari tadi hanya bergerak sedikit sedikit!" Kedua mata Cecilia memicing ke arahnya, "Jangan bilang kau gak pernah melakukannya." ucapnya lagi menohok dengan tatapan semakin memicing.
Melihat raut wajah Irsan yang bisa dia tebak dengan mudah itu membuatnya terperangah, bagaimana mungkin pria berusia 40 tahun dan sangat dewasa itu tidak pernah melakukannya walaupun sekali saja dalam hidupnya, gerakannya yang kaku tanpa arah tujuan, dia memang cukup lihai dalam berciuuman. Namun untuk bercinnta, sepertinya Irsan sangat bodoh.
Apa itu sebabnya dia juga berhenti di saat genting di rumah sakit? Karena dia gak pernah ngelakuinnya lebih dari itu. Ooh Irsan ... Bego banget! Ngapain aja selama 40 tahun lo hidup di dunia ini. Gak tahu segimana enaknya.
"Tidak ... Enak saja! Aku seorang yang lihai!" ujarnya
Cecilia mendorong dada Irsan dengan sekali gerakan saja, membuatnya hampir terjungkal ke belakang, namun dia dengan cepat menariknya lagi dan menaiki tubuhnya. "Kalau gitu buktikan, aku ingin tahu seberapa lihai kau!"
Irsan menelan saliva saat Cecilia memundurkan tubuhnya, merayap dengan sesekali mengecup tubuh Irsan yang membuat desiran desiran dalam aliran darahnya semakin panas. Dia juga menyentuh batang keras yang semakin menegang.
Cecilia mengecupnya sekali, sebelum akhirnya mencecapnya lembut, memacu mundurkan benda menengang yang kini berada di dalam indera pengecapnya. Bak lolipop yang manis yang dia nikmati.
Irsan menggeram kecil, dengan rahang tegas menahan sesuatu yang rasanya mengalir di urat urat nadinya. "Heh ... Ah!! Shitttt! Hentikan Cecilia."
Cecilia terkekeh dengan menatap pria yang semakin gila saat dirinya bermain main dengan benda tak bertulang miliknya.
"Ceciliaaaa!!"
"Ayo lakukan! Buktikan kau memang lihai tuan Irsan," Tantang Cecilia dengan kembali duduk di perut berotot mikiknya di saat Irsan hampir mencapai puncaknya sendirian.
"Shittt!!! Kau memang jaalang!!" umpatnya mencengkram kedua bahu putih gadis yang masih terus terkekeh itu.
Kepalanya berdenyut hebat saat aliran di urat urat kembali melemah karena ulah Cecilia, dengan sekali gebrakan, Irsan membawa Cecilia dan mendudukkan nya di tepi ranjang. Membuka kedua pahanya lebar lebar dan langsung menghentaknya.
Geraman yang tertahan berpadu renyah dengan lenguhan dari bibir Cecilia dan memenuhi seluruh ruangan kamar. Penyatuan dua benda inti tidak bisa lagi terelakan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Irsan menyerahkan ke jantaanan pada seorang gadis yang memiliki track record yang buruk, bahkan sangat buruk dimatanya, pertahanannya runtuh begitu saja disaat hati dan logikanya tidak lagi bisa bekerja dengan baik. Seorang jalaang yang mampu memporak porandakan seluruh hatinya yang sekian lama terkunci oleh seseorang di masa lalu.
"Kau milikku sekarang!" Desis Cecilia yang berakhir dengan lenguhan panjang karena Irsan nyatanya mampu membawanya melayang layang.
Tidak ingin cepat selesai dan berakhir begitu saja, Cecilia lagi lagi mendorong Irsan dalam keadaan tegangan tinggi itu. Namun Irsan sudah lebih dulu mengkungkung tubuhnya, dan membuat Cecilia mengulas senyuman.
"Aku tidak lagi bisa diperdaya olehmu gadis nakal." ujarnya dengan pergerakan yang semakin liar.
Geraman panjang akhirnya lolos begitu saja dari bibirnya, disusul oleh rintihan merdu dari Cecilia, rasanya baru sekarang dia merasakan terbang melayang hingga ke puncak tertinggi, tidak ada fikiran soal uang saat melakukannya, bahkan untuk kesekian kalinya dia terbang lagi dan lagi.
Tubuh Irsan ambruk dengan peluh membasahi, pertama baginya dan benar benar luar biasa rasanya, seolah semua ketegangan menjadi lemah dibuatnya, begitu juga dengan aliran darahnya yang seperti berhenti saat itu juga.
Cecilia menoleh dan menatap Irsan yang juga menatapnya dengan teduh, pria dewasa yang kini dia taklukan juga. Untuk beberapa saat mereka saling menatap hingga akhirnya Irsan mengecup kening Cecilia yang basah karena keringat.
"Maafkan aku!"
Dua kata tulus yang tidak pernah dia dengar dari siapa pun seusai melakukan hubungan yang tidak semestinya selama ini. Dua kata yang membuatnya merasa benar benar dihargai lebih dari sekedar nominal uang yang dia dapat. Sederhana namun jiga benar benar berarti baginya.
Gadis itu mengangguk lirih dengan hati yang sedikit perih karena selama ini dia selalu ditinggalkan ketika sang pria sudah mencapai puncaknya sendirian, dan berakhir dengan beberapa lembar uang.
Irsan menarik selimut dan menutupi tubuh polos Cecilia, setelah itu dia mendekapnya dengan erat.
"Istirahatlah!"
Rasanya aneh gini, kenapa dia berubah jadi baik banget gitu sesudah melakukannya. Padahal bukan murni kesalahannya juga, gue juga. Kita sama sama enak kok. Batin Cecilia yang terus menatap heran pada Irsan.
"Kenapa?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Enggak! Cuma aneh aja,"
"Anehnya?"
"Kenapa kau mau melakukannya denganku sekarang? Kalau nyatanya kau belum pernah melakukannya sama siapapun selama ini."
.
...Gimana gimana? Wkkk.....
...Readers jangan pada ngamuk ngamuk sama othor yaa. Othor masih polos ini, gak bisa bikin part panas dingin. Wkwkw....
...Nah kan Si tiang listrik bener bener konslet kan sekarang. Mana dia masih ting ting lagi. Rejeki nomplok lo Ce. Dapet ting ting, biasanya kan dapet bekasan doang. Wkwkwk....