I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.101(Ceritakan semua2)



"Ceritakan semua masalahnya padaku!"


Sila tidak tahu apa dia harus menceritakannya atau tidak pada pria asing yang duduk di hadapannya, sampai pria itu meletakkan kotak obat di atas meja dengan keras.


Brak!


Sila sontak terkaget, pria itu benar benar menakutkan walaupun tidak mengatakan apa apa.


"Itu ... Eempph! Aku gak tahu gimana nyeritainnya." desis Sila.


"Katakan tanpa ada yang kau lewatkan, aku punya banyak waktu." ujarnya datar bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dari perban di tangannya, mengikatnya dengan cekatan walau menggunakan satu tangan.


Sila menelan saliva, melirik jam yang menggantung di dinding tembok, jarum jam bahkan sudah berada di angka 2 dini hari. Banyak waktu apanya, ini sih nyuruh gue bergadang sampai pagi.


Dengan takut takut dia menceritakan semuanya dari awal, bahkan tidak ada yang dia lewatkan satu pun, pertemuan awalnya dengan Cecilia di mall pun dia ceritakan. Pria itu menyunggingkan bibirnya saat ingat hal itu. Pria yang dimagsud Sila adalah dirinya bagaimana mungkin dia bisa lupa begitu saja, hanya saja penampilan gadis berumur 14 tahun itu sudah sangat berbeda, cantik dan juga terawat.


Jadi gadis kecil ini, gadis lusuh yang juga aku jumpai di mall waktu itu, dia benar benar berbeda.


Tipuan Cecilia pada Irene pun tidak luput dia ceritakan, bahkan masalah yang saat ini muncul. Juga rencana Cecilia yang akan mencari orang untuk dia tumbalkan lagi sebagai Veronica.


Sila menghela nafas panjang setelah menceritakan semuanya pada pria yang hanya mendengarkannya tanpa menyela, dia menatapnya tajam saat mendengarkan semua cerita dari A sampai Z.


"Begitu rupanya! Dasar nakal." desisnya dengan rahang yang terlihat semakin tegas saja.


"Aku takut kalau Kak Cecil akan marah kalau aku ceritakan semuanya sama orang lain, dia pasti akan marah besar." cicit Sila dengan kedua mata yang mulai mengantuk.


"Tidak usah mengatakan apa apa! Anggap saja kau tidak menceritakannya pada ku. Tidur sana di kamar!"


Sila mengangguk kecil, bak seekor anak itik yang hanya bisa mengikuti induknya. Dia beringsut dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamar.


***


Cecilia terbangun dengan kepala yang masih sangat berat, dia tersentak kaget saat Sila yang tertidur disampingnya dengan kaki yang melingkar di pahanya. Dia juga menatap piyama yang kini menempel di tubuhnya.


"Duhhh ... Kepala gue!" gumamnya dengan memegangi kepalanya yang masih berdenyut hebat. "Sejak kapan gue tidur disini. Dan anak ini ...." Cecilia berdecak dengan mengangkat kaki Sila lalu menjatuhkannya begitu saja.


Derit pintu terbuka dengan perlahan membuatnya menoleh seketika dan tersentak kaget saat melihat Ines masuk dengan sebuah nampan di tangannya.


"Kau sudah bangun?"


"Kak Ines. Kenapa kak Ines ada di sini. Aawhhh ... Sialan! Sakit banget," ujarnya yang masih memegangi kepalanya.


"Makan dulu, setelah itu minum aspirin ini untuk meredakan sakit kepalamu." Ines meletakkan nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putuh dan juga sebutir aspirin.


Celaka ... Apa gue bikin kericuhan semalam, tapi seingat gue, gue pergi ke rumah Reno, apa jangan jangan, aaah ... Gue gak ingat apa apa. Batin Cecilia. Dia masih heran kenapa adik sepupu dari Irsan ada di unitnya sekarang.


"Kak Ines kenapa ada di sini?" pertanyaan yang kemudian dia ulang karena belum mendapat jawaban.


Ines duduk di tepi ranjang, berhadapan dengannya lalu menghela nafas. "Lo tuh nekad banget! Lo gak inget semalem lo mabok dan hampir nabrak nih anak."


Cecilia mengerjapkan kedua matanya, bukan karena penuturan Ines perihal kenekadannya, melainkan dengan gaya bahasa yang tidak lagi formal dari wanita berusia 27 tahun kepadanya.


"Kak Ines?"


"Aneh ya!" terkekeh. "Irsan yang menyuruhku kemari, dia ada operasi mendadak tadi pagi dan tidak bisa kemari Cecilia."


"Irsan. Menyuruhmu? Kenapa. Memangnya dia tahu aku semal---"


"Tahu kok! Itu sebabnya dia menyuruhku. Kalau tidak tahu, dia tidak akan memberitahu kenekadanmu."


Cecilia hanya menatapnya saja lalu beralih pada Sila yang masih tertidur pulas. Kenapa Irsan tahu gue mabok dan hampir nabrak Sila, emang iya gue mau nabrak nih anak, perasaan enggak deh. Cecilia lagi lagi membatin.


Ines beranjak dari duduknya, menepuk tangannya pelan, "Oke ... Karena kau sudah bangun, jadi aku bisa pergi sekarang, aku harus ke butik karena ada satu masalah di sana." Ujarnya dengan keluar, namun dia juga malah menggerutu sendiri. "Uuuh menyebalkan orang itu berani mengusikku. Padahal tempat itu sudah aku beli dari lama, kenapa dia ingin aku menjualnya lagi."


Setelah Ines keluar, Cecilia memindahkan nampan berisi bubur itu ke atas meja tanpa menyentuhnya, dia menggoyang goyangkan bahu Sila agar gadis kecil itu terbangun.


"Sil ... Sila! Bangun woii."


"Aahh ... Apaan sih! Gue masih ngantuk kak ...."


"Bangun elaah!!"


Sila membuka matanya sipit, menatap Cecilia yang sudah terbangun lebih dulu. Lalu dia mengerjapkan kedua matanya agar terbuka sempurna.


"Lo udah bangun kak. Lo gak apa apa kan?"


"Apa yang terjadi sama gue semalam. Apa iya gue hampir nabrak lo? Tapi gue gak ingat, terus Irsan kenapa tahu gue mabok parah."


"Irsan. Siapa Irsan?" Sila menatap langit langit, dan ingat pria galak yang menyuruhnya tidur. "Aahh ... Bapak bapak itu. Jadi dia Irsan. Siapanya lo kak?"


"Hah?"


Sila bangkit dan duduk memeluk bantal, mengucek matanya pelan, "Malem itu kakak dibawa kesini sama dia, dia yang mecahin kaca mobil sampai tangannya berdarah."


"Hah?"


"Hah Huh hah huh ... Jadi orang kebangetan nekadnya, gimana kalau lo celaka, lo juga ampir nabrak gue kalau lo gak keburu pingsan."


"Pingsan?"


Sila mengangguk, lalu gadis itu menguap dua kali, "Gue masih ngantuk kak ... Tidur hampir pagi gara gara lo!"


"Tunggu! Irsan tahu dong kalau gue mabok?"


"Ya tahu kak ... Kan dia yang bawa lo kesini. Oon juga lo tuh, jadi Irsan itu siapa lo kak?" Jawab Sila lanjut bertanya.


"Dia ... Dia pacar gue!"


"Hah?" Kali ini Sila yang terkaget sampai tidak bisa lagi mengatakan apa apa. "Dah ah gue lanjut tidur. Masih ngantuk." Sila kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk bantal lagi, membiarkan Cecilia yang masih terheran itu.


"Mampus kalau dia tahu gue mau ke rumah Reno. Sil ... dia ngomong apaan sama lo. Tanya tanya masalah itu gak?" Ujarnya menyikut Sila.


Tidak ada jawaban dari Sila yang sudah kembali terlelap itu, ataukah berpura pura tidur agar tidak di tanya tanya lagi, pasalnya dia takut Cecilia marah jika tahu kalau dia sudah menceritakan semuanya pada pria yang baru dia ketahui bernama Irsan yang ternyata pacar Cecilia.


Maafin gue kak, gue udah cerita semuanya sama pacar lo itu.