I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.251(Si so paling kenal)



"Kalau gitu .... Itu artinya... Aku akan jadi seorang ibu?"


"Kita harus memeriksa lebih lanjut untuk tahu apa kau hamil apa tidak." Tukas Irsan.


"Kalau ternyata gak hamil?"


Irsan tersenyum, tangannya terulur mengelus perut rata sang istri. "Tidak masalah, masih banyak waktu untuk mencobanya lagi dan lagi."


Cecilia mengangguk kecil seraya terkekeh. "Benar juga Mas Dokter, kalau gitu apa yang harus aku lakuin biar cepet hamil."


Irsan bangkit dan menarik kursi, menggesernya sedikit sampai menghadap tepat ke arahnya.


"Berhenti minum alkohol, berhenti merokok dan makan makanan sehat!"


Cecilia tentu saja mencebikkan bibirnya, hal yang menjadi tantangan berat jika harus lepas secara total dari kedua kebiasaan itu.


"Aku mau konsultasi sama dokter Siska aja!" cicitnya kemudian. "Kalau sama kamu nanti kurang akurat, kamu kan dokter bedah dalam, gak ada hubungannya dengan persoalan hamil atau tidak, ini juga belum tentu kan? Cuma mood yang kaku bilang itu."


"Kalau begitu kita buat janji dengan dokter Siska." Irsan mengambil ponselnya yang berada tidak jauh dari jangkauannya.


Sementara Cecilia mengangguk lagi, lebih leluasa jika bicara dengan ahlinya dibandingkan dengan praduga yang hanya muncul dari perasaan suami yang menganggap mood istrinya berubah ubah.


Irsan mengocek kumpulan huruf di dalam ponselnya, namun tidak lama dering telepon justru terdengar.


"Ya ...! Sekarang saja."


Cecilia terbeliak, sendok yang dipegangnya pun urung masuk kedalam mulutnya.


"Hah ... Sekarang?"


Pria berusia 40 tahun itu pun mengangguk dengan menyimpan kembali ponsel yang panggilannya sudah berakhir itu.


"Ya ... Sekarang saja! Kenapa harus nunggu besok?"


"Astaga sayang, gak sabaran banget sih. Besok juga kan bisa."


"Tidak apa apa Cecilia, lebih cepat lebih bagus. Agar kita bisa menyiapkan segala sesuatunya dari awal."


Cecilia terdiam, kehamilan memang dinantikan setiap pasangan yang telah menikah, terlepas dari seberapa lama mereka menikah. Namun yang ditakutkan Cecilia jika nyatanya dirinya belum hamil dan jelas akan membuat Irsan kecewa.


Bunyi bel dipintu terdengar, secepat kilat Irsan membuka pintu, dan Cecilia sontak langsung dilanda kegelisahan terlebih saat yang datang itu benar dokter Siska.


"Maaf menghubungimu malam malam, aku tidak bisa menunggu untuk besok pagi." Tukas Irsan saat membuka pintu.


"Aku tahu perasaanmu, dan itu tidak jadi masalah buatku, kau teman baikku dan aku akan senang jika bisa membantu mu." Sahut Siska dengah tersenyum, lalu melangkah masuk saat dipersilahkan. "Halo Cecilia ... Kau siap aku periksa," Ujarnya lagi dengan tersenyum saat melihat Cecilia.


Sementara orang yang di lihat hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apa apa. Dia hanya mengangguk dengan sendok yang masih berada di dalam mulutnya.


"Ahh ... Kulihat kalian sedang makan malam, aku akan menunggu sampai selesai saja." tukasnya lagi.


"Ini gara gara dia yang gak sabaran Dokter, padahal makanannya saja belum dia sentuh sedikitpun." Cecilia menunjuk piring yang masih utuh milik suaminya.


Siska terkekeh, menepuk lengan Irsan,"Kau ini dasar, begitulah dia Cecilia, kau akan terkejut setelah tahu bagaimana sifat khawatirnya yang berlebihan,"


Cecilia terdiam, membuat Siska juga terdiam seolah salah bicara,


Apa maksudnya, dia mau pamer kalau dia lebih kenal Irsan dibandingkan gue.


"Dokter Siska emang paling tahu gimana sifat suamiku ya?" cicitnya terkekeh. "Sejauh apapun itu gak penting buat aku. Dia suamiku sekarang." tegasnya lagi,


"Ah maaf Cecilia, aku tdak bermaksud mengatakan hal itu, tapi aku mengenalnya sejak dulu, dia pria baik, dan...."


"Aku tahu kok!" selanya dengan bangkit dari duduknya dan menghampiri Irsan.


"Itu sebabnya dia nikahin aku, iya kan sayang."


Si So paling kenal jauh.


"Baiklah, bagaimana kalau diperiksa sekarang saja, sayang?"


Irsan mengelus punggung tangan Cecilia yang melingkari lengannya, seolah memberi isyarat agar tidak perlu mengkhawatirkan apa apa,


Irsan lupa siapa istrinya itu, dia tidak akan khawatir tentang apa apa, apapun termasuk soal wanita lain, selama tidak mengusiknya duluan tidak akan menjadi masalah berarti baginya.


Cecilia pun masuk kedalam kamar, begitu juga Siska yang mengikutinya, menyuruhnya berbaring agar dia bisa memeriksa, bertanya seputar tamu bulanan persis seperti apa yang di katakan Irsan, dan dia menjawabnya juga tanpa keraguan.


"Perasaan kalian baru menikah." tukas Siska.


Dia pun memeriksa bagian perut rata milik Cecilia, bagian perut bawah dimana rahim berada, kemudian mengecek bagian bagian yang Cecilia tidak pahami,


"Emangnya kenapa kalau belum lama nikah? Kita sering ngelakuinnya sebelum nikah juga kok!" tukas Cecilia dengan bangga.


Siksa menoleh ke arah belakang, dimana Irsan berdiri di belakang pintu dengan kedua tangan melipat di depan dadanya dengan berdecak.


"Benarkah itu?"


"Sudahlah periksa saja, lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, tidak perlu bertanya hal yang tidak penting untuk di tanyakan." Tegas Irsan.


Siska mengangguk lirih, tidak menyangka saja jika Irsan yang di kenal baik dan menghormati wanita itu nyatanya bisa juga melakukannya.


"Mau aku ceritain?" tantang Cecilia dengan mengerling ke arah Siska dengan sedikit sombong.


Makan tuh si paling kenal baik, gak tahu kan segimana jauhnya hubungan kita. Dasar. Emang enak .... Batin Cecilia.


"Tidak usah! Aku mengerti." Siska meneruskan pekerjaannya tanpa mengatakan apa apa lagi.


Sementara Irsan hanya bisa terdiam dengan tingkah Sang Istri dengan sesekali berdecak dan memejamkan mata namun juga tidak mengelak apalagi menyangkal.


Hampir 3 menit Ruangan itu hening, sampai akhirnya Irsan melangkah maju.


"Bagaimana?"


"Belum selesai Dokter Irsan, sabarlah." pungkas Siska dengan mengeluarkan wadah kecil dari tas peralatan miliknya.


Siska memberikan wadah kecil sebagai alat tampung urine yang akan dia periksa pada Cecilia yang kini terduduk di atas ranjang.


"Tapi aku lagi gak pengen pipis."


"Mungkin harus menunggu sebentar lagi, rileks saja. Setelah kau ingin buang air kecil, segera tampung di wadah ini ya."


Cecilia mengangguk, dia juga masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan keduanya.


"Aku fikir kau tidak akan pernah melakukannya sebelum menikah." tukas Siska pada Irsan setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup.


"Sekali lagi itu bukan urusanmu." tegas Irsan,


"Ya ... Memang bukan urusanku! Hanya saja aku tidak menyangka saja. Ternyata Cecilia yang bisa meluluhkan hatimu." Siska tersenyum dengan memasukkan alat alat yang sudah dia pakai ke dalam tas khusus miliknya.


Irsan tersenyum tipis, menatap pintu kamar mandi.


"Ya ... Aku senang bisa bertemu dengannya. Hanya dia yang bisa membuatku berubah seperti ini."


Cecilia jelas mendengarnya, karena dia sengaja membiarkan pintu tidak tertutup dengan benar, setelah lega mendengarnya dia pun keluar dari kamar mandi.


"Udah aku bilang, seberapa jauh kita mengenal seseorang, gak jadi jaminan buat jadi pasangan." Sela nya dengan menyodorkan wadah tampung urine pada Siska.


Dokter Siska sedikit tersentak, namun dia langsung tersenyum dan mengambil wadah yang di sodorkan Cecilia. "Aku akan memeriksanya."


Dia langsung memasukan alat tes kehamilan yang sebenarnya bisa di lakukan secara mandiri itu ke dalam wadah. Irsan terlihat harap harap cemas terlebih Cecilia.


"Gimana hasilnya, apa aku benar benar hamil?"