
Sementara Ines yang mendapat kabar jika bibinya itu berada di unitnya dengan cepat menarik tangan Irsan, mereka berdua segera berlari ke arah lift.
"Bibi ada di unitku! Kita harus segera ke sana, sebelum semuanya terlambat!"
"Hah? Kau yakin. Kenapa dia bisa pergi ke tempatmu! Apa kau sengaja mempermainkanku?" sentak Irsan yang juga makin panik mendengarnya.
"Untuk apa aku harus melakukannya! Kau gila."
Irsan menekan pintu lift berulang kali, namun lift tidak juga berhenti. Pria itu berdecak kesal lalu berlari ke arah ujung lorong dimana tangga darurat berada.
"Irsan!"
"Cepatlah! Aku tidak ingin mereka terlibat masalah." Serunya dengan masuk ke dalam pintu, ada tangga ke atas dan merupakan tangga darurat. Dia terpaksa melakukannya karena tidak ada jalan lain yang bisa di tempuh sementara lift sangat lambat.
"Aku tidak akan membiarkan mereka bertemu, mereka pasti akan sama sama keras kepala. Aji saja bisa dia timpal dengan mudah, bagaimana dengan ibu!" gumamnya saat dia berlari menuju ke atas, dua lantai yang harus dia lewati dengan menggunakan anak tangga.
Nafasnya mulai tidak beraturan, dia berhenti dengan kedua tangan memegangi pinggangnya. Mencoba mengatur nafasnya yang kini mulai berat.
"Aku harus segera ke sana, jangan sampai mereka berdebat." gumamnya lagi dengan kembali menaiki tangga.
Tak lama di sampai dilantai lima, berlari sekuat tenaga menuju unit Ines, sementara Ines masih terus berlari naik.
Bruk!
Kedua matanya dengan tajam menyisir seluruh ruangan, Cecilia yang berdiri tak jauh dari ibunya yang kini terdiam.
"Apa yang terjadi?"
Embun yang sudah memakai selang oksigen yang terpasang pada hidung dan mulutnya, bersandar pada kursi roda dimana suster tengah memasangkan ventilator portabel yang selalu di bawa nya untuk keadaan darurat.
Tatapan ibu dan anak itu kini beradu, Embun tampak berkaca kaca menatapnya sementara Irsan menatapnya datar.
"Apa yang terjadi?" Sentaknya dengan suara yang lebih menggelegar dari sebelumnya.
"Tanyakan padanya! Nyonya Embun mengalami sesak nafas saat bicara berdua dengan nona Veronica." Kata pria berkaca mata dengan menunjuk Cecilia yang kini berdiri di depannya.
Irsan menghampirinya, "Apa yang terjadi Cecilia?"
Cecilia menatap Embun yang kini menatapnya juga, dia beralih pada Irsan. "Aku hanya bicara satu dua hal dengannya."
"Katakan apa yang kau bicarakan? Jangan berbuat ulah Cecilia. Aku sudah katakan padamu berkali kali." Irsan marah lalu melengos, dia menghampiri suster yang tengah menyiapkan obat untuknya.
"Apa keluhannya?"
"Sesak dan sakit dibagian dada Tuan." jawabnya, "Sakit yang nyonya alami setahun belakangan ini." sambungnya lagi.
"Sudah kau bawa ke rumah sakit?"
"Nyonya selalu tidak mau tuan!" jawabnya lagi.
Irsan menghela nafas, menatap ibunya yang kini menatapnya dalam diam.
Ines masuk dengan nafas terengah engah, dia mengernyit dengan apa yang terjadi di unitnya.
"Bibi. Kau tidak apa apa?" Menghampiri Embun dan bersimpuh dengan bertumpu pada kedua lututnya. "Bibi gak bilang mau ke sini dulu. Aku menunggumu dari tadi." Ujar Ines lagi dengan menoleh pada Cecilia yang masih teridam di tempatnya.
Ini bakal jadi drama panjang kayak di sinetron. Tuh calon ibu mertua pasti bakal nyalahin gue, lebih lebih karena kita cuma ngomong berdua aja dari tadi. Dia pasti ngadu yang bukan bukan pada Ines dan juga anaknya. Awas aja, gue gak bakal diem aja kalau ini jadi drama, apalagi semua jadi nyalahin gue. Cecilia tidak hentinya bicara dalam hati, dia sudah menduga apa yang terjadi selanjutnya dari penyakit sang ibu.
"Jangan lagi gunakan obat itu!"
"Tapi tuan, itu obat yang di gunakan Nyonya selama ini, dari resep Dokter di singapure."
"Siapa dokter yang bertanggung jawab memberikannya obat itu. Hah? Itu hanya pil penenang. Kita ke rumah sakit sekarang juga." Ujar Irsan dengan sigap, dia merogoh ponsel di dalam saku dan menghubungi seseorang di ruang UGD untuk bersiap dan juga mengirimkan ambulance.
Suster hanya bisa mengangguk, dia dibantu oleh pria tegap disampingnya mendorong kursi roda keluar dari unit Ines.
Namun Irsan menarik bahunya. "Aku ingin bicara denganmu."
Ines keluar lebih dulu, sementara Cecilia tampak bingung apakah dia harus ikut atau tidak. Irsan menoleh ke arahnya saat dirinya hendak melangkah menyusul Ines.
"Kau tidak usah ikut. Tunggu di sini saja, kau hanya akan memperrumit keadaan saja." tukas Irsan yang keluar bersama pria berkaca mata.
Cecilia mendengus kasar, lalu menendang udara. Bagaimana Irsan bersikap kasar lagi padanya setelah hubungannya baru saja membaik.
"Sialan. Gara gara mereka tuh!"
Irsan berjalan disamping pria berkaca mata yang selama ini menjadi asisten ibunya, sementara Ines dan perawat mendorong kursi roda berada tidak jauh di depannya.
"Apa yang ibuku rencanakan. Kenapa dia kemari?"
"Nyonya memang berniat pulang untuk beberapa urusan, tapi nyonya khawatir padamu setelah melihatmu dan juga nona Veronica keluar dari kafe. Beliau menyuruhku mencari tahunya dan menemukannya di sini. Tapi aku tidak mengatakan jika kau tinggal bersama dengannya. Nyonya pasti akan langsung drop jika tahu, begitu juga dengan latar belakang dari pacarmu itu. Aku belum bisa mengatakan apa apa padanya."
"Terima kasih! Setelah ini, pulanglah ke singapure. Jangan biarkan ibu memikirkan hal hal berat termasuk pacarku dan urusanku di sini."
"Carl sudah mengatakannya padaku juga!"
Irsan mendengus, "Orang itu!"
"Tolong jangan salahkan nyonya dalam hal ini, dia selalu ingin yang terbaik untukmu."
"Terbaik untukku? Dengan memisahkan aku dari calon istriku dulu? Aku berpura pura tidak tahu hal itu Toni! Dan sekarang dia akan melakukan hal yang sama lagi? Memisahkan aku dari Cecilia?"
Pria berkaca mata bernama Toni terdiam, dia benar benar tidak tahu jika Irsan mengetahui hal yang di tutupi selama ini, mengenai Alisa dan kepergiannya.
"Tapi aku tidak bisa menyalahkan Ibu, karena nyatanya Alisa sendiri.yamg memilih uang dari pada bertahan denganku." tukasnya lagi.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku masih belum tahu! Dan kau tidak perlu tahu. Lakukan saja tugasmu dan jaga ibuku. Jangan sampai dia melakukan hal hal yang akan membuatnya kesulitan sendiri. Bilang padanya aku sudah dewasa dan tahu apa yang aku lakukan."
Toni mengangguk, dia lantas berjalan lebih cepat dan menyusul Ines dan juga mengambil alih kursi roda. Sementara Irsan menghela nafas dengan memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Kenapa kau selalu melakukan hal seperti ini bu!" Desisnya melihat ketiga punggung orang yang mengantar ibunya ke rumah sakit.
Sementara Cecilia tidak bisa diam begitu saja saat dirinya terancam, dia harus tahu apa yang terjadi. Gadis itu pun keluar dari unit Ines, berjalan mengendap ngendap bak seorang pencuri yang tidak ingin ketahuan mengikuti Irsan dan rombongan yang masuk kedalam lift.
"Enak aja nyuruh gue diem dan gue nanti di tuduh yang enggak enggak! Hellow gue bukan tokoh protagonis yang hanya bisa nangis, gue Cecilia. Dan Gue gak bisa di giniin!"
.
Ayolo Ce .. Mau bikin ulah apa lagi lo? Wkwkwk ... Pening pala othor mikirin kelakuanmu. Tapi kali ini sih bener Ce, lo gak boleh diem aja sama ibu tiang listrik yang dinginnya sama. Apa dia yang di sebut gardu listrik. Wkwkw.