
"Kita kempesin ban mobilnya aja, biar dia tahu rasa, terus kita pergi pake mobil gue!"
"Astaga, itu konyol sekali Cecilia, bagaimana jika kita ketahuan orang."
"Ka Ines tenang aja, kita tutup CCTV itu lebih dulu sebelum kita bikin ban mobil itu kempes." ujar Cecilia menunjuk ke arah CCTV dengan dagunya.
Tak lama dia melangkah ke arah CCTV, dia mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk menutup lensa kamera yang masih menyala itu, terlihat titik merah yang berkedip kedip. padahal bisa saja mereka pergi ke ruang managemen untuk mengetahui siapa pemilik mobil, jika pemiliknya hanya bertamu, sudah tentu akan meninggalkan kartu identitasnya di meja resepsinis.
Ya itu pun jika tamu yang datang dengan cara yang benar dan melewati setiap prosedur ynag diterapkan, tapi jika tamunya yang sedikit nakal seperti Cecilia, jelas dia tidak akan mematuhi peraturan yang berlaku, dia akan memilih menyusup tanpa rasa bersalah. Ah, satu lagi, Cecilia dan Ines lupa siapa pemilik gedung apartemen itu? Untuk apa melakukan hal itu jika mereka sadar siapa yang memiliki kuasa, tinggal menyuruh security untuk mencari tahu, beres urusan.
Hap!
Cecilia melompat dan berhasil menutup kamera CCTV dengan menggunakan slayer yang dia temukan menempel di spion mobil seseorang tanpa sengaja.
"Wah .. Kamu bisa juga ternyata!"
"Iya dong kak. Ini sih masalah kecil."
Setelah memastikan CCTV yang mengarah ke arah mobil, Cecilia benar benar membuat ban mobil itu kempes. Dia menusuk ban dengan sesuatu yang dia ambil dari dalam mobil miliknya. Ines sempat tersentak kaget, lalu bertanya dengan wajah yang khawatir, jujur ini kali pertama dia melakukan hal semacam ini, perasaan takut, resah dan was was bercampur campur jadi satu. Terlebih dengan apa yang Cecilia pegang ditangannya.
"Cecilia ... Astaga, apa yang kau pegang itu, bukankah itu benda tajam?"
"Elah kak. Tenang aja, ini hanya pembuka botol. Mana ada senjata tajam kayak gini,'
"Pembuka botol?"
Cecilia mengangguk, "Pembuka botol yang rusak ujungnya jadi runcing kayak gini, tajem pula. Gue mau buang tapi belum sempat, eeh malah kepake sekarang ya kan!" Cecilia terkekeh menjelaskan secara detail.
Setelah berhasil melubangi ban mobil hingga membuat ban itu kempess dengan sendirinya, mereka berdua tertawa sampai terpingkal.
"Nanti siang sudah pasti kan jadi heboh nih." Ines masih tertawa dengan melingkarkan tangan pada lengan istri dari sepupunya itu.
Sementara Cecilia mengangguk dengan membuang alat pembuka botol itu saat melewati tong sampah. Mereka berjalan berdampingan ke arah miobil Cecilia yang terparkir satu blok di belakangnya.
Sampai mereka masuk kedalam mobil dan akhirnya Cecilia melajukan mobil keluar dari basement. Mereka terus tertawa, membicarakan semua hal yang akan terjadi saat pemilik mobil tahu apa yang terjadi dengan mobilnya.
"Kebayang raut wajahnya begini!" tukas Ines dengan memasang wajah kaget dengan mulut menganga.
Sementara Cecilia tertawa melihatnya, tidak mau ketinggalan, dia juga memasang wajah kaget dengan lebih drama "Atau begini ..."
Keduanya kembali tertawa sampai suara tawanya membahana. Namun tiba tiba Ines terdiam.
"Tunggu Ce .. Perasaan ada yang aneh deh!"
"Maksudnya?"
"Kenapa kita melakukan hal itu tadi, padahal bisa aja tadi kita pergi ke ruang managemen untuk melihat rekaman CCTV dan akan langsung tahu siapa pemilik itu mobil."
Ceciia terdiam, itu benar tapi tidak terlintas sedikitpun olehnya maupun Ines tadi.
"Kenapa kak ines baru sadar sekarang coba? Lagian kita mudah kok minta rekaman CCTV, kak ines sepupu pemilik gedung juga kan." Cecikia tergelak setelah sadar kebodohannya.
"Iya dan kau itu istri dari pemilik gedung kan!" timpal Ines akhirnya juga tergelak.
Keusialan yang di lakukan, serta tawa tawa yang renyah mengingatkannya pada sahabat sekaligus saudara tanpa hubungan darah. Nita.
Cecilia masih terus mengingat Nita sampai saat ini, bahkan hal hal kecil semakin membayang seolah dia pernah melakukannya bersama Nita. Hal hal kecil dan kenakalan yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun.
Gadis berusia 20 tahun itu terlihat menghela nafas dengan berat. Sampai membuat Ines menatapnya lekat.
Cecilia mengangguk, "Iya kak ... Aku kangen banget sama dia, gak tahu apa salah aku sampai Nita kayak gini. Dan aku gak ngerti lagi."
"Ku dengar juga Nita menyukai Carl. Apa itu benar?"
Cecilia kembali mengangguk, "Bener ... Tapi sejauh mana aku juga gak tahu. Carl selalu mengelak kalau di tanya,"
"Bagaimana kalau kamu tanya Toni saja, dia kan asisten Carl sekarang."
"Toni?"
"Hm ... Yang menculik kamu dan bawa kamu di heli kan dia."
Cecilia terdiam sejenak, bak menemukan secercah harapan baru saat jalan yang dia tempuh untuk menemukan Nita gelap gulita.
"Oke kak ... Aku pasti tanya Toni."
"Aku akan menghubungi dia agar bisa meluangkan waktu untuk ketemu kamu." ujar Ines dengan menepuk bahu Cecilia berulang ulang kali.
"Makasih ya kak!"
"Sama sama." ujarnya dengan kembali pada sosok Ines dengan pembawaan dewasa dan elegan.
Tak lama mereka tiba di butik milik Ines. Tempat yang menurut Cecilia tidaklah asing. Kedua matanya menyisir tempat dimana butik Ines dibangun dengan gedung yang cukup besar, memiliki dua lantai dan bergaya modern.
"Ayo turun!"
"Kak Ines." Cecilia mencekal lengan Ines saat dia hendak membuka pintu dan keluar.
"Kenapa?"
"Kak Ines udah berapa lama tinggal di sini? Maksudnya butik ini."
"Hm ... Sekitar 3 tahun. Kenapa?" tanyanya heran.
"Apa kak Ines sebelumnya membeli tanah dan bangunan butik juga, tapi lebih kecil?"
"Iya ..., kok tahu? Pemilik awalnya kan sekarang membuka salon di ujung sana." tunjuknya pada ruas jalan di depannya. "Disana."
"Aah ... Ternyata benar, jadi kak Ines yang beli bangunan tua itu?"
Ines mengangguk, "Orangnya baik walau banyak bicara hal hal yang tidak penting, tapi dia menyenangkan."
Cecilia mengangguk, sudah terbayang raut wajah serta nada bicara yang gemulai dari pemilik butik dress second yang jadi langganannya dulu. Bisa dibayangkan bagaimana reaksinya jika tahu kalau Cecilia yang dulu seorang gadis nakal dengan segala tingkah polahnya kini sudah jadi istri seorang Dokter dan jadi menantu kesayangan.
"Memangnya kenapa Cecilia?"
"Ah ... Enggak kak, cuma inget masa lalu aja."
Keduanya keluar dari mobil dan langsung masuk ke pintu masuk butik.
Sementara seseorang kini tengah uring uringan saat mendapati mobil kesayangannya kini tidak bisa jalan sebab ban mobil miliknya telah di rusak seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Dia melihat ke arah CCTV yang sengaja ditutupi lalu mengalihkan pada posisi mobilnya yang berada tepat di depannya.
"Sial ... dia mau main main denganku!" gumamnya dengan rahang yang mengeras lalu merogoh ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.
"Aku tidak mau tahu! Bagaimanapun aku akan segera menemukan orang orang itu!"