
Ana mengerjap ngerjapkan kedua matanya, dia tidak faham dengan apa yang dikatakan Irsan. Masalah apa yang menjadi kesalahan seorang Irsan.
"Sepertinya kau butuh dari sekedar teman bìcara? Apa aku perlu panggil suamiku agar kau bisa leluasa." tawarnya lalu mengambil ponsel dari saku jubah yang dia lipat diantara kedua tangannya.
"Tidak usah! Jangan ... sebelum aku bicara saja dia sudah berada di ruanganku nanti." ucapnya dengan terus melangkah.
"Kalau begitu selamat berjuang dokter Irsan, Ingat jangan kebawa bawa ke meja operasi. Bahaya, taruhannya bukan hanya kau sendiri, kita dan pasien juga ada keluarganya. Ingat itu, dan soal wanita ... Mungkin kau harus lebih jelas lagi apa masalahmu." terang dokter Ana yang berhenti melangkah didepan pintu prakteknya.
Sementara Irsan yang terus melangkah hanya mendengus mendengar penuturan dokter Ana yang menjadi dokter Anestesinya saat di meja operasi dan istri dari Dokter Aji.
"Apa Aji tahan dengan kemampuan bicaranya! Aku minta pendapatnya sebagai wanita. Bukan minta dia untuk ceramah." gumamnya.
Dokter Irsan masuk ke dalam ruangannya dan tersentak kaget saat melihat dokter Aji yang duduk di kursi miliknya dan seseorang yang duduk di kursi yang berada di depan mejanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya pada Aji. Namun setelah mengenali siapa yang duduk hanya dari rambutnya saja dia kembali tersentak, "Lanjutkan saja!"
"Hei ... Kau sensi sekali! Aku bisa saja memeriksanya, terlebih aku sangat tahu penyakitnya. Tapi sayang, dia hanya ingin diperiksa oleh mu." ujar Aji yang langsung bangkit dari duduknya. "Kau saja yang lanjutkan, jangan lama ditunda tunda. Nanti ditikung orang." sindirnya dengan menepuk bahu sahabatnya lalu melangkah keluar.
"Jangan melakukan hal gila di sini! Pergilah, bukankah kau sibuk bermain main." ujar Irsan yang berjalan ke arah tiang gantungan dan menggantung jubah putihnya.
"Ah kenapa jadi susah berpura pura di depanmu. Padahal aku tidak memperlihatkan wajahku."
"Sudahlah, kau mau apa kemari Cecilia! Aku tidak punya waktu bermain main denganmu."
Cecilia bangkit dari kursi yang di dudukinya, dia menghampiri Irsan yang masih membelakanginya. "Gak mau main main ya! Jadi kau marah karena aku bilang kayak gitu tadi pagi?"
Irsan berbalik dan hampir menabrak tubuh gadis yang dia sendiri tidak tahu sejak kapan gadis itu berada tepat didepannya.
Rahangnya kembali terlihat mengeras dengan menatapnya tajam sementara Cecilia mengulum senyuman. "Aku tidak tahu kalau kau mempermasalahkan kata kata itu. Aku fikir kau akan berterima kasih karena aku membantumu agar tidak ketauan oleh pacarmu yang itu."
Irsan hanya mendengus, tanpa mengalihkan pandangnya pada Cecilia yang juga menatapnya dalam.
"Apa kau benar benar menyukaiku Dokter?" Senyuman terbit sangat manis sampai membuat Irsan berdesir, namun dia tidak menjawab pertanyaannya. Hanya menatapnya saja dengan kedua tangan berada di dalam sakunya.
"Kalau diem aja aku anggap itu benar!" ujarnya lagi dengan kedua alis turun naik menggemaskan. "Lalu kau akan mengorbankan wanitamu yang baik itu hanya untuk aku yang begini?" tanyanya lagi dengan merubah raut wajahnya.
"Kalau iya kenapa?"
Cecilia tersentak kaget saat Irsan mengatakan hal itu, namun sedetik kemudian dia mengulas senyuman lagi. "Benarkah itu?"
"Ya ... Tadinya!"
"Kok tadinya? Apa kau sekarang berubah fikiran dan tidak jadi melepaskannya."
"Ya benar ... Tadinya aku akan melepaskannya, tapi sekarang aku berubah fikiran dan tidak jadi melepaskannya." ujar Irsan yang hanya mengikuti ucapan Cecilia saja.
"Kenapa gak jadi? Kenapa hatimu cepat berubah?"
Irsan berdecih, "Kenapa? Kau tanya kenapa? Hatimu saja cepat berubah. Kenapa aku tidak!"
"Iih ... Kenapa kau hanya mengulang ucapanku dan membalikkannya saja."
"Tidak!"
"Kalau gitu kenapa kau tidak jadi melepaskannya, apa karena aku bilang kita hanya bisa bermain main nanti?"
"Kau fikir saja sendiri! Aku sibuk." Irsan melangkah menuju meja melewatinya.
Irsan berbalik, "Kalau begitu coba saja! Buat kami berpisah, sementara kau juga hanya bermain main denganku."
"Enggak! Aku serius, kau percaya?"
"Tidak!" Irsan menepiskan cekalan tangan Cecilia dan duduk di kursi miliknya. Ada perasaan yang sulit diungkapnya, dia menahan senyuman agar tidak terlihat jelas oleh Cecilia, Silahkan saja, aku dan Ines jelas tidak akan berpisah. Lucu sekali, aku akan tetap membiarkan dia berfikir aku memiliki hubungan dengan Ines.
Kebangetan nih tiang listrik, kenapa kesannya jadi gue yang mohon mohon sama dia.
"Oke! Siapa takut, aku akan membiarkan wanitamu itu tahu kalau kau pria brengsekk yang meniduri ku." ucapnya dengan mengulum senyuman.
"Kau fikir dia akan percaya begitu saja?"
"Enggak sih! Tapi aku bisa kasih dia bukti." ujarnya melangkah mendekatinya lagi dengan menunjukkan foto Irsan yang tengah tertidur tanpa pakaian di sofa yang sengaja di foto untuk sekedar menggodanya. Namun ternyata sangat berguna saat ini baginya. Irsan terbelalak melihatnya dan secepat kilat dia merebut ponsel dari tangan Cecilia.
"Kau sudah gila!" ujarnya dengan cepat menghapus foto itu. "Kau mau menghancurkan reputasiku atau bagaimana kalau ini tersebar?"
Cecilia terkekeh, "Makanya aku kan tidak setengah setengah! Itu hanya untuk menggodamu saja."
"Gila!" Irsan menggeser kembali galeri foto dan menghapus beberapa foto dirinya yang berada didalamnya.
"Hey ... Kenapa dihapus semua. Itu kan kenang kenangan bercintta kita!"
"Kau benar benar gila Cecilia! Bagaimana kau menyebut ini hanya kenang kenangan bercintta kita, apa kau juga mengoleksi semua foto foto pria yang memakaimu hah?"
"Tidak ... Hanya kau saja!" ujarnya dengan terus terang dan juga terkekeh karena kekesalan Irsan sangat jelas, pria itu terus menggulir galeri foto di ponsel miliknya.
"Bagaimana bisa kau begitu jujur mengakuinya tanpa berfikir dulu." desisnya pelan.
"Iya kan? Tidak ada yang lain selain fotomu sayang. Uuupss."
"Kenapa kau senang sekali! Dasar gila. Kau benar benar membuatku pusing. Sebenarnya apa mau mu heh?" ujarnya meletakkan ponsel di atas meja dengan kasar.
"Mau ku ya kamu."
"Berhenti bercanda! Aku serius."
Cecilia duduk dipangkuan Irsan begitu saja, membuat Irsan tersentak kaget. "Aku juga serius, jadi jangan marah marah lagi ya ... maaaf! Aku hanya menggodamu saja karena kau benar benar bikin gemes."
Irsan mengeryit, lagi lagi berhasil digodanya. Lagi lagi dipermainkan seorang gadis dan lagi lagi tidak bisa mengendalikan perasaannya yang kadung tumbuh subur untuk gadis gila itu. Dan wajah Cecilia yang tersenyum dan menggemaskan hanya membuatnya menghela nafas panjang.
"Kapan kau akan bertingkah serius Cecilia?"
"Semalam saat kita melakukannya aku serius."
"Ceciliaaa!"
Gadis itu hanya terkekeh karena berhasil membuat Irsan kembali kesal. Dia mengalungkan kedua tangan di lehernya. "Sekarang aku serius, aku minta maaf yaa."
Perlahan gadis itu mendekatkan wajahnya dan meraup lembut bibir Irsan begitu saja, menggigit sedikit bibir bawahnya hingga membuatnya terbuka agar lidahnya bisa menerobos masuk.
Mendapat serangan tiba tiba dari gadis yang perlahan mulai memasuki hatinya dan menggeser satu nama yang tertanjap disana itu tentu saja membuatnya tersentak. Tidak lama dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Cecilia dan membalas pagutannya.
"Kau selalu berhasil merusak fikiranku Cecilia."