
Cecilia bersikeras ingin keluar, bahkan pergi dari sana secepat mungkin. Bertemu dengan Irene nyatanya tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah di hidupnya. Dulu, saat dia ketahuan Istri sang Daddy, dia masih berani memasang muka, walau cacian dan makian terlontar untuknya, dan akan selesai begitu saja. Namun kini berbeda, Cecilia mengenalnya begitu juga sebaliknya, bahkan mereka bisa dikatakan dekat karena Sila. Tapi apa jadinya jika Irene justru dia tipu habis habisan.
"Anjim ... Buka pintu ini sialan! Ini gak lucu tau, seenggak kau gak perlu ikut campur masalah ini, kau juga gak perlu melakukan apa apa, gak bantu sama sekali hanya karena aku ketemu dia." selorohnya dengan kesal, kedua matanya tajam dengan pupil yang melebar sempurna, ada kemarahan dan juga kekesalannya.
"Setidaknya kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu Cecilia! Minta maaf padanya, dengan begitu kau akan hidup tenang dan semua urusan akan selesai." tukas Irsan dengan nada suara naik dua oktaf.
"Hidup tenang?" Decihnya, "Kau tahu setenang apa hidup aku? So tahu. Udah deh ... Buka gak! Kalau gak dibuka, aku bakal pecahin." ucapnya lagi dengan melepaskan high hill berukuran 5 senti yang dikenakannya dan memukulkannya pada kaca mobil.
Trak!
Trak!
Kaca belum juga pecah walau Cecilia memukulnya berulang kali, Irsan masih tampak tenang dengan terus melihat pergerakan Cecilia yang sekuat tenaga ingin memecahkan kaca mobil.
Trak
Sekali lagi dia memukulnya, namun juga tidak mengubah apa apa.
Sialan ... Mobil ini gak bisa pecah, apa ini kaca anti peluru.
"Percuma Cecilia ... Sebanyak apapun kamu memukulnya, kaca itu tidak akan pecah." ujarnya dengan memperlihatkan alat khusus yang bentuknya menyerupai palu namun ukurannya sangat kecil.
"Kau! Iiih ... Bener bener ngeselin, sini ...!" merebutnya dari tangan Irsan, namun dia yang kepayahan sendiri.
"Cecilia!" suara Irsan kali ini lebih lembut lagi, dengan menyembunyikan alat pemecah kaca khusus itu di dalam genggaman tangannya. "Dengarkan aku!" Menghela nafas, "Kau mau kan? Ini demi kebaikanmu, semua akan berhenti mulai dari sini, urusanmu ... Masalahmu ... Adalah urusanku, masalahku juga. Reno saat ini berada di rumah sakit, dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Dan yang lebih parahnya lagi, aku dokter yang menanganinya Cecilia, kondisi Reno kapan saja bisa anfal!" terang Irsan membuat Cecilia terbungkam. "Kau ... Akan dianggap menjadi orang yang bertanggung jawab jika Reno sampai meninggal, dan Irene sudah tentu tidak akan tinggal diam jika itu terjadi. Jadi, sebelum itu terjadi ... Kau harus menyelesaikannya. Minta maaflah sebelum mereka memintanya Cecilia."
Cecilia tertegun dengan semua ucapan Irsan, namun tetap aja dia tidak mengerti kenapa Irsan melakukannya. Kenapa harus!
"Cecilia?" tanyanya lagi dengan memberikan alat pemecah kaca khusus itu padanya, memberinya kesempatan untuk memilih langkah apa yang akan diambilnya sendiri. Masuk kedalam dan bicara dengan Irene atau memilih keluar dan pergi begitu saja.
Lama terdiam, gadis itu hanya menatapnya saja tanpa mengatakan apa apa, namun sorot maniknya memperlihatkan kemarahan.
Kenapa gue harus meminta maaf, apa cuma gue yang salah dalam hal ini? Enggak kan, si Reno juga punya andil ... Bahkan lebih gede, dia yang khianati istrinya. Dan sekarang dia sakit juga mungkin hukuman nya dia sendiri. Cecilia membatin dengan terus menatap tajam Irsan, pria yang tidak bisa dia tebak apa yang akan di lakukannya, perhatiannya yang berbeda. Si taat aturan dan tidak pernah melakukan kesalahan.
Akhirnya gadis berusia 20 tahun itu menghela nafas, "Ok ... Aku akan bicara sama tante Irene, aku akan minta maaf kalau perlu aku akan sujud minta ampunan padanya, agar hidupku tenang setenang tenangnya! Puas kau ... Sekarang buka pintunya!" cibirnya dengan mendengus pelan.
Irsan membuka pintu mobil dari sebuah tombol dan pintu langsung terbuka, Cecilia keluar tanpa menunggu lama, disusul olehnya juga yang terlihat lega karena Cecilia mau bertemu dengan Irene.
Pria berusia 40 tahun itu tidak berani menolak permintaan Irene yang menangis di ruangan prakteknya saat dirinya berada di rumah sakit. Merasakan bagaimana rasanya di khianati oleh orang yang dia anggap paling mengenal dan mencintainya, bahkan dia berfikir Reno tidak akan berubah walau mereka tidak akan memiliki keturunan.
Irene juga menceritakan banyak hal padanya, salah satunya kehadiran Sila yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri, dan harus menelen kekecewaan yang teramat besar pada Cecilia yang ternyata menipunya selama ini, padahal dia sangat percaya padanya.
Dan kini, gadis setengah gila itu berada di pintu masuk, menunggunya untuk masuk bersama.
"Kau tenang saja, tidak ada orang lain selain kita dan Irene di sini?" Irsan menggenggam tangan Cecilia dan masuk ke dalam.
Gadis itu menelan ludahnya saat melihat kursi kursi kosong, dengan suasana hening yang justru membuatnya semakin mencekam. Bukan takut, tapi lebih tepatnya hatinya tidak nyaman saja.
"Aku harus ke toilet dulu," Cecilia menepis tangan Irsan saat melihat Irene duduk sendiri di sebuah kursi dengan posisi membelakangi, "Kau duluan saja!" lalu berjalan ke arah toilet.
Irsan mengangguk, dia lantas berjalan menghampiri Irene lebih dulu, sementara Cecilia masuk ke dalam toiket.
Sepi
Sunyi, dengan hati berdegup kencang. Malu dan semua bercampur aduk.
"Sial ... Sial ... Sial!" Cecilia mengepalkan tangan dan mengetuk ngetuk wastafel, "Bego banget punya pacar! Bukannya bantuin gue buat ngehindar, malah sengaja ngetemuin gue. Susah juga kalau punya pacar taat begitu!" rutuknya, lalu menepuk nepuk dahinya sendiri.
"Gue mesti kabur ini! Enggak enggak ... Kalau gue kabur, gue cemen banget dan pasti Irsan marah lagi sama gue. Aaah anjim banget tuh orang!"
Kepergian Cecilia ke toilet cukup lama, Irsan yang sudah duduk berhadapan dengan Irene itu sudah dua kali melirik jam ditangannya.
"Biar aku menyusulnya!" Dia bangkit dari duduknya dan,
"Gak usah ... Aku udah selesai." tukas Cecilia yang sudah berdiri di depannya.
Cecilia juga beralih pada Irene yang tengah menyeruput segelas teh miliknya, "Tante Irene!"
Seolah tidak mendengarnya, Irene terlihat dingin tanpa ingin menoleh ke arahnya sedikitpun.
"Duduklah!" Pinta Irsan, pria itu juga menarik kursi untuknya.
Giliran moment mesra mesraan aja gak mau dia narikin kursi buat gue.
Plak!
Belum sempat duduk, Gadis itu terkesiap karena sebuah tamparan mendarat sempurna di pipinya, perih dan membuat pipinya panas seketika, dan gerak tubuhnya tiba tiba saja memaku tanpa daya saking kagetnya, begitu juga Irsan yang tidak dapat menduga hal itu sebelumnya. Irene yang seketika bangkit dari duduknya dan langsung melayangkan tamparan keras itu menatapnya tajam.
"Dasar pelaaacuurr!"
.
hayoloooo ... Sakit ya Ce? Sampe nge frezze gitu, gak apa apa lah kan udah biasa ini. Wkwwkk. Noh salahin aja si tiang listrik yang bawa lo ke situ. Bukan othor lho ya yang ngasih ide ke dia.