
Mikir Ce ... Mikir, lo gak kasian apa sama Irsan. Dia bela belain lo, lo bego banget sih. Batinnya ikut bicara.
"Ka---kamu baik baik aja?" tanyanya resah, berada di antara keadaan yang serba membingungkan.
"Hm!" ujar Irsan menahan kesakitan, kini dadanya berdebar debar semakin hebat, hawa panas yang semakin bergelora, membakar seluruh urat urat di tubuhnya. Bahkan dia meremass ujung sofa dengan kuat saat senjata miliknya menegang sempurna.
"Aku rasa kamu gak baik baik aja! Maaf..."
Ting
Alih alih menjawab Cecilia, Irsan memilih melihat notifikasi pesan yang baru saja masuk ke ponsel miliknya. Lalu melemparkannya begitu saja ke atas sofa.
"Kenapa. Ada masalah?"
"Lebih baik kau buka pintu sekarang juga!"
Cecilia melirik ke arah pintu, lalu menatap Irsan lagi, "Ta--tapi ...!"
"Buka Cecilia, pengacaramu sudah datang."
Cecilia mengangguk, lalu dia berlari ke arah pintu dan segera membukanya. Sementara salah seorang polisi keluar dari kamar dengan membawa tas milik Cecilia. Pria berseragam lengkap itu mengernyit saat melihat Irsan.
"Anda baik baik saja?"
"Ya ... aku hanya sakit perut biasa! Kalau kau sudah selesai, bisakah aku ke kamar mandi?"
"Silahkan ... Kenapa harus menunggu kami selesai jika anda tidak kuat menahannya."
"Terima kasih!" Irsan bergegas masuk ke dalam kamar, melewati seorang polisi yang masih membongkar koper Cecilia yang masih berantakan.
Pria itu masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air hangat.
Sementara Cecilia tertegun melihat pria berjas yang sempat dia lihat juga di kafe tempo hari. "Kau?"
"Halo cantik! Kita bertemu lagi di sini. Bagaimana kabarmu dan kabar tiang listrikmu?"
"Kau Carl?"
Carl masuk ke dalam, walaupun Cecilia belum mempersilahkannya untuk masuk. "Masalah apa lagi sekarang Hm? Mana dia ... Benar benar membuatku harus mengebut untuk sampai kemari." tukasnya dengan membuka kaca mata hitam yang dipakainya.
"Apa maksud omongannya, masalah apa lagi katanya. Emang ada berapa banyak masalah?" gumamnya menutup pintu.
Carl bicara dengan kedua polisi yang hanya akan membawa tas milik Cecilia, data data pribadi miliknya semua mereka sita untuk penyelidikan. Carl juga menyerahkan surat yang entah apa isinya itu pada mereka, setelah mendapatkannya barulah mereka pergi.
Carl duduk di sofa, mengotak ngatik ponsel miliknya sebentar lalu menyimpannya kembali ke dalam saku di balik jas yang di kenakannya.
"Mana pacarmu?" tanyanya pada Cecilia.
Cecilia yang baru saja merasa lega setelah kedua polisi itu pergi menghampirinya dan duduk di soga single.
"Kayaknya dia ke kamar mandi!"
"Sejak kenal denganmu, dia selalu memarahiku!" dengusnya pelan, "Sekarang ceritakan semuanya dari awal, tentang bagaimana kau bisa memberikan data datamu pada anak itu!"
Cecilia mendengus mendengar ucapannya, "Emangnya sejak kapan dia gak marah marah, semua orang juga dia marahi. Aku juga!" Cetusnya dengan menghentakkan kaki.
"Karena kau terlalu banyak memberinya masalah, tapi bagus juga, dengan begitu aku merasa dia itu hidup." Carl terkekeh.
Cecilia pun hanya menanggapinya dengan gerakan bibir yang dia bulatkan hingga berbentuk huruf O namun tanpa suara. Dia juga menceritakan semuanya dari awal, tujuannya yang ingin membuat Sila lebih baik, dan yang pasti alasan utama yang tidak ingin tertangkap basah.
Carl berdecak, lalu mengangguk anggukkan kepala, mencatat semua yang Cecilia ceritakan.
"Kau mengganti datanya sendiri?"
"Ya ... aku kerja sendirian!"
"Sebenarnya kau cerdik juga, aku suka talentamu, kita bisa bekerja sama sebagai hacker." Carl menaik turunkan kedua alisnya.
"Kau hacker juga. Apa kau tahu cara melawan Irene?" tanyanya.
"Irene itu pemilik saham terbesar di perusahaan yang dia pimpin sekarang, ditambah saham suaminya yang sudah meninggal, dia hanya tidak ngin membuat perselingkuhan kalian sebagai alasannya karena sudah tentu dia akan kehilangan muka. Maka dia menggunakan hal itu. Tujuannya memang sama, membalas sakit hatinya,"
"Aku punya sesuatu, mungkin kau bisa menggunakannya!" cetus Cecilia.
"Jangan gegabah! Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan."
Cecilia menghela nafas, mengikuti sarannya mungkin lebih baik saat ini. Walau hatinya tidak bisa menerima perbuatan Irene begitu saja.
Carl bangkit dari duduknya, "Aku akan ke kantor polisi lebih dulu, sampaikan pada Irsan, aku tidak punya banyak waktu menunggunya selesai. Sudah seperti anak gadis saja dia itu."
Cecilia hanya mengangguk kecil, menatap Carl yang mengayunkan kakinya keluar, setelah pintu tertutup Cecilia bergegas masuk ke dalam kamar.
Tok
Tok
"Kamu gak apa apa kan?" Katanya sambil mengetuk pintu kamar mandi, dia tidak ingin langsung membukanya seperti sebelumnya.
Tidak jawaban dari dalam kamar mandi, membuatnya khawatir jika Irsan semakin tidak baik baik saja.
"Irsan?"
"Hm ... Aku baik!"
Akhirnya Cecilia lega setelah mendengar suara Irsan yang terdengar lebih berat. Pintu terbuka, Irsan yang sudah basah kuyup melangkah keluar.
"Astaga!"
"Bantu aku Cecilia!"
Cecilia tertegun, menatap wajah kesakitan yang tampak jelas terlihat, wajahnya merah dengan air dan keringat yang sudah bercampur.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" ujarnya dengan tangan mengepal pada tembok. "Ini ...!"
"Ma--magsudmu. Kita....?"
Dengan satu tarikan Irsan menarik tengkuk leher Cecilia, melumaat bibirnya dengan rakus dan juga kasar. Bahkan sangat kasar. Cecilia sampai hampir kehabisan nafas dibuatnya, ini tidak seperti yang dia harapkan.
"Tunggu!"
"Kenapa. Bukankah kau yang menginginkannya? Aku akan mengabulkannya kali ini!" Ujar Irsan kembali menarik ceruk leher Cecilia, hingga tubuhnya kini saling merapat. "Maaf! Tapi aku tidak ada pilihan lain, semua cara sudah aku coba, tapi ini membuatku semakin tersiksa Cecilia." ungkapnya lagi lalu kembali menyambar bibir Cecilia, dengan rakus dia menyelusupkan benda tanpa tulang dan menyisir bagian dalam indera pengecapnya.
Dan dengan satu kali tarikan saja, Irsan memutarkan tubuh Cecilia hingga hampir membentur tembok, mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengecup leher bagian belakangnya bertubi tubi.
"Irsan stop! Hentikan."
Namun Irsan yang sudah tidak bisa mengendalikan semua yang kini menyeruak semakin hebat itu tidak lagi peduli, dia mengangkat satu kaki Cecilia dan memegangnya erat, dan menghujam pusat inti Cecilia dari belakang.
"Aaahhkk. Irsan! Kau brengsekkk."
"Maaf!" gumamnya dengan terus menghujamkan senjatanya, menghentaknya berkali kali hingga Cecilia kewalahan sendiri.
Irsan melakukannya dengan cukup kasar sampai Cecilia merintih kesakitan. "Aah shitttt!"
"Maafkan aku Cecilia!"
"Kau brengsekk Irsan! Ini sakit sekali."
Suara keduanya saling menggema di dalam kamar tanpa di kunci, Irsan menggeram saat senjatanya semakin menegang dalam kehangatan di bawah sana, sementara Cecilia terus merintih kesakitan karena dia tidak siap akan serangan tiba tiba dan kasar dari Irsan.
"Aku tidak ada pilihan lain, semua cara sudah tidak mempan lagi."
"Jadi kau terpaksa melakukannya dengan ku aaahhh!! Sialan, pelan pelan brengsekkk ... Itu sakit!"
Cecilia berusaha keluar dari tubuh Irsan yang menghimpitnya dari belakang, namun dia tidak bisa melepaskan diri, kedua tangannya pun Irsan kunci hanya dalam satu genggaman namun sangat kuat.
"Brengsekk! Ini sama aja aku di per kosa!"
.
Rasain lo Ce ... Wkwkwk ini kan yang lo pengen. Mana sempet sempetnya lagi tuh bang doksan minta maaf. Dah lah gak usah minta maaf segala, biar tahu rasa tuh si Cece di setrum tiang listrik. Wkwkwk