
Cecilia hanya terkikik melihat Irsan yang melebarkan kedua manik hitamnya, pria itu juga berdecak karena yamg difikirkan Cecilia dan ternyata yang membuatnya resah tidak bisa tidur hanya sebatas alkohol saja. Sementara dirinya khawatir dan panik bukan kepalang bahkan resah sejak tadi.
"Kenapa yang ada di otakmu hanya hal hal yang tidak ada manfaatnya!" Ujarnya dengan mengambil rokok yang masih menyala di jari kirinya.
Cecilia terbeliak, takut jika Irsan akan membuang sebatang rokok yang terakhir dia punya itu, namun ternyata Irsan hanya memainkan rokok di sela jarinya. Memutar mutarkannya lalu menjentikannya sedikit.
"Kata siapa yang aku fikirkan tidak bermanfaat?"
Irsan mendengus. "Apa kau tahu didalam bungkus rokok saja sudah ada peringatan kalau rokok itu berbahaya bagi kesehatan, begitu juga dengan alkohol."
"Ya aku tahu! Bahkan di setiap iklan pun di akhiri dengan slogan kalau rokok dan alkohol itu berbahaya."
"Kalau kau tahu kenapa kau masih tidak bisa melepaskan alkohol dan juga rokok. Hm."
Cecilia menatap batang rokok yang masih menyala dan semakin pendek itu, dia segera merebutnya dan mencecapnya dalam dalam. "Karena aku terlalu mencintai negara ini."
Irsan mengernyit, merebut kembali rokok yang tengah di hisapnya lalu mematikannya dengan menjatuhkannya kemudian dia injak.
"Hei! Kau ini ... Itu rokok terakhirku." sentaknya dengan kesal, menepis tangan Irsan yang masih menggenggamnya. "Kau tahu tidak, yang seharusnya di larang itu bukan pengguna. Melainkan pembuatnya, percuma aja dilarang tapi produsen rokok dimana mana. Kau tahu kenapa? Rokok dan alkohol itu penghasil pajak terbesar selain tenaga kerja wanita. Kita beli mahal mahal, digunakan sendiri, merugikan diri sendiri juga. Kenapa gak dilarang yang jualannya coba, gak bisa kan ... Karena mereka nyari untung, satu satunya jalan ya harus ditutup dong pabriknya. Jangan suruh produksi, biar gak ada yang beli." cerocosnya panjang lebar dengan kesal. "Pabriknya juga gak bisa ditutup gitu aja, ada banyak karyawan yang kerja cari nafkah buat keluarga, kalau ditutup pengangguran makin banyak. Semua terhubung, dan sebagai warga negara yang baik, aku membantu pemerintah dong. Semakin banyak aku beli rokok, semakin untung pemerintah. Ya kan." gamblangnya secara blak blak an.
Irsan berdecak kesal, "Kau ini sebenarnya pintar."
"Ya emang,"
"Hanya saja kau tidak menggunakan kepintaranmu dengan hal hal yang baik." Ujar Irsan melengos, pria itu memilih masuk ke dalam, berjalan ke arah meja makan dan menuang air putih ke dalam gelas lalu menenggaknya.
Sementara Cecilia menyusulnya dari belakang, lalu mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.
"Saking pintarnya, aku bahkan tidak tahu apa apa tentang dirimu." cetus Irsan lagi.
"Mau tahu apa lagi?"
"Aku mau tahu ketika kau itu rajin kuliah dan belajar, menggunakan waktu masa mudamu dengan hal hal baik, buang masa lalu dan mulai lah sebaik mungkin dari sekarang."
Alih alih mendengarkan nasihat Irsan, Cecilia justru celingak celinguk ke kiri dan ke kanan seperti orang yang tengah kebingungan.
"Kenapa?"
"Enggak ... Aku hanya ngerasa sedang ibadah." Cecilia bangkit dan terkikik, membuka lemari es dan mencari sesuatu. "Aku gak bisa tidur! Di dongengin kek, di kelonin kek. Ini malah diceramahin." gumamnya dengan kepala yang masih melongo ke dalam lemari es.
"Kau ini!"
"Kamu gak tanya aku tadi kemana?" Cecilia menutup pintu lemari es setelah mengambil dua buah apel. Satu apel dia gigit tanpa dia cuci lebih dulu. Satunya lagi di sodorkan pada Irsan. Dia benar benar heran kenapa Irsan tidak bertanya apapun padanya.
Irsan mengambilnya, lalu dibangkit dan mencuci apel kemudian mengelapnya hingga mengkilap. "Aku sudah tahu!"
"Hah. Kau tahu dari mana? Aku aja belum bilang apa apa kok."
"Aku sudah tahu Cecilia. Dan aku tidak akan bertanya lagi kalau aku sudah mengetahuinya."
"Ah ... Aku lupa, pasti Carl kan, dia bilang dia hacker juga, tapi saat aku tawarkan sesuatu yang bisa jadi solusi, dia gak mau." jawabnya dengan mengerdikkan bahu. Pasti dia takut padamu."
"Iya ... Aku emang sengaja, mancing Reno biar jadi bukti. Dibantu Jo juga, sebelum aku tahu kalau Jo itu ternyata memiliki tujuan lain dengan bantuin aku. Tapi Kamu tidak usah khawatir, mereka membantuku karena mereka juga punya tujuan berbeda, dan gak ada hubungannya sama aku. Ya anggap kita saling menguntungkan, selain membantuku, mereka juga membantu perusahaan tante Irene," Sahut Cecilia dengan alis naik turun.
Pantas saja saham kembali naik hanya dalam kurun waktu sebentar.
"Jadi itu sebabnya kau tampak setenang ini? Tidak khawatir lagi pada apapun."
"Enggak juga. Aku hanya khawatir melihat polisi aja, selebihnya aku udah biasa. Aku udah biasa bermasalah, masalah yang aku hadapi juga banyak, bahkan hampir seumur aku hidup, sejak kecil sampai hari ini." ujarnya lagi masih terus mengunyah apel tanpa di cuci. Raut wajahnya tenang, tidak ada keresahan atau pun kekhawatiran.
Sementara Irsan memotong motong apel menjadi 8 potong kecil, menyimpannya di atas piring kecil lalu diletakkan di depan Cecilia.
"Aku selalu percaya jika tuhan tidak selalu mewarnai langit itu dengan warna biru, aku juga percaya, jika tuhan tidak melulu memberi badai. Jadi tidak usah khawatir. Aku baik baik aja kok." cetus Cecilia.
"Kau memang berbeda Cecilia. Tapi tidak semua hal bisa kau hadapi sendirian."
"Ya ... Aku memang selalu sendirian! Tapi bukan berarti aku gak mau di teminin kan." terkekeh lagi, menyimpan apel yang hanya tersisa bagian tengahnya saja.
Irsan berdecak dengan bibir yang mengembang, perasaannya cepat berubah saat bersama Cecilia. Obrolan santai maupun perdebatan bisa dia sikapi dengan baik. Beberapa kali Cecilia juga menguap. "Aku ngantuk! Tapi mataku gak bisa merem."
"Apa kau tahu juga kalau video itu sudah tidak ada?"
"Benarkah?"
"Hm ...!"
"Baguslah, Jo dan Mr Orlan menepati janjinya." Ujarnya lagi santai, kembali menguap dua kali.
"Kau sepertinya harus mulai terapi alkohol. Itu akan terus mengganggu kalau kau terus minum sebelum tidur."
"Kau kan dokter! Harusnya bisa kasih aku terapi dong." Cecilia terkekeh lagi, "Tapi itu sulit, aku pernah mencobanya, dan gak bisa, kecuali...."
"Jangan memikirkan hal yang bukan bukan Cecilia."
"Apa? Aku gak mikirin apa apa. Fikiranmu tuh yang negatif terus mentang mentang aku selalu kasih kamu masalah."
Irsan menghela nafas, "Tidurlah!"
"Udah aku bilang, aku ngantuk tapi mataku gak bisa merem!"
Irsan bangkit, membereskan meja makan dan membuang apel bekas gigitan Cecilia,
"Eeh kenapa di buang. Itu masih ada. Masih bisa di makan." Ujarnya mengambil apel itu. "Ini gak bakal apa apa, vitamin nya juga masih banyak kalau cuma abis pinggirnya doang."
"Buang saja! Kau bisa makan yang lain, itu sudah kotor Cecilia."
"Belum lima menit!"
Irsan tidak menjawabnya lagi, dia mengambil apel dari tangannya lalu menyimpannya di atas piring, menarik tangan Cecilia dan membawanya ke dalam kamar.
"Lebih baik kau tidur! Aku akan menemanimu."