I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.74(Gadis bar bar)



"Irsan. Jadi benar kau memiliki pria lain?"


Ines tentu saja menggelengkan kepalanya sembari terus menghubungi Irsan. Sementara Satya sudah kepalang emosi.


"Dia sepupu aku Sat! Gadis itu salah paham."


"Pacar yang kau bilang sepupu? Moduskah ini Ines? Aku baru mengenalmu seminggu, bagaimana aku bisa percaya, sementara gadis itu tidak akan sekonyol itu menyerangmu ditempat umum kalau dia berbohong." Satya beranjak dari duduknya.


"Satya ... Ini benar! Dia salah paham padaku, kau harus percaya. Aku akan menghubungi Irsan dan suruh dia kemari untuk menjelaskannya padamu." ujarnya dengan mencekal pergelangan tangannya agar kembali duduk.


Satya yang sudah kepalang malu menjadi pusat perhatian itu pun menepis tangan Ines. "Tidak perlu! Lebih baik aku pergi saja. Dan kencan kita cukup sampai di sini! Aku tidak mau berurusan dengan wanita bar bar sepertimu."


Satya benar benar berlalu begitu saja meninggalkan Ines, dia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan darinya. Ditambah Irsan yang tidak juga mengangkat sambungan telepon.


"Sial! Benar benar sial." ucapnya dengan kesal lalu menangis tergugu.


Sementara Cecilia yang merasa benar masuk ke dalam room bersama Nita dan tertawa bahagia karena telah membuat kencan Ines berantakan.


"Ce ... Parah lo! Lo ngehancurin hubungan orang. Mana bar bar lo!"


"Heh ... Gue gini karena gue tahu Irsan, dia juga tahu gue bakal hancurin hubungannya sama tuh si Sundel."


"Serius lo? Demi apa. Dia tahu lo bakal hancurin hubungan dia sama cewe tadi."


"Demi lo dan nenek moyang lo yang pelaut itu!" ujarnya dengan terkekeh, lalu memilih lagu dan mulai menyalakan musiknya.


"Gue serius anjim!"


"Gue serius bego! Mana ada gue main main! Apalagi ini soal__"


"Jangan bilang lo beneran cinta sama Irsan setelah lo tidur bareng dia!" tuduh Nita dengan telunjuk mengacung ke arahnya.


Cecilia mengerdikkan bahunya, dia tidak tahu apa dia benar benar cinta atau tidak. Yang jelas tujuannnya menghancurkan hubungan Irsan dengan Ines seperti rencana awalnya agar Irsan tetap jadi miliknya seorang.


"Elah ... Lo tinggal ngaku ribet amat!"


"Gue gak tahu Nit! Pokoknya gitu deh! Susah juga gue jelasinnya sama lo."


Cecilia mulai menyanyi, pilihannya pada lagu Adele yang berjudul easy on me.


Go easy on me. baby


I was still a child


I didn't get the chance to


Feel the world around me


I had no time to choose what I chose to do


So go easy on me.


Sementara Nita menghela nafas sembari menghayati suara merdu sahabatnya itu. Lagu yang kerap jadi andalan pembuka saat mereka berkaroke ria.


Dua jam penuh keduanya larut didalam room gelap dengan lampu warna warni yang menyala dan berubah rubah setiap beberapa detik. Ditemani sebotol wine yang kerap mereka pesan khusus, juga beberapa camilan yang memenuhi meja.


***


Ines kembali pulang ke apartemen, dia berjalan gontai dengan tas yang dia jinjing lemah ditangannya. Entah berapa kali kencannya gagal. Tapi rasanya kegagalannya kali ini lebih parah dibandingkan yang lain. Dan dia sudah bertekad akan minta pertanggung jawaban dari Irsan.


Pengusaha butik berusia 27 tahun itu masuk kedalam lift dan menekan nomor tiga dimana unit Irsan berada. Dadanya bergemuruh hebat saking emosinya dia karena perbuatan Cecilia.


Ting


Lift baru saja terbuka, namun Ines segera merangsek keluar dan berjalan dengan amarah yang kian memuncak.


"Irsan! Buka brengsekkk."


Bukan lagi ketukan lembut atau pun ucapan lembut khasnya, melainkan tendangan di pintu dan juga suara teriakannya, Ines yang anggun menyeramkan saat kesal apalagi marah.


Irsan membuka pintu dan terperangah melihat wanita berantakan didepannya.


"Kau kenapa?"


Ines melemparkan tas miliknya ke arah Irsan, hingga pria itu menangkisnya dan berhasil mengambil tas yang dilemparkan sepupunya itu.


"Ini semua gara gara kau! Kencanku berantakan gara gara kau! Brengsekk."


"Hei ... Hentikan! Kau sudah gila." ujar Irsan yang melihat Ines melemparkan bantal sofa ke arahnya satu persatu.


"Ya ... Aku gila! Semua gara gara kau! Aku kembalikan mobil sialan mu itu tapi kau harus menjelaskan semuanya pada Satya sampai dia mengerti dan melanjutkan kencan kami." ujarnya dengan terus melempar barang barang yang berada tidak jauh dari pandangannya ke arah Irsan.


"Apa ini! Aku masih belum mengerti. Kau cerita yang jelas! Jangan marah marah begini. Kau fikir aku paham." Kedua tangannya menggenggam bantal yang dipakai menutupi wajah dan kepalanya, "Aw ... Ines! Hentikan!" ujarnya lagi saat sebuah vas bunga mengenai kepalanya.


Ines baru berhenti setelah melihat Vas bunga jayuh ke lantai dan pecah berserakan, ditambah Irsan yang meringis karena Vas bunga mengenai kepalanya.


"Duduklah! Ceritakan semuanya. Kau merusak barangku seenaknya."


Dada Ines turun naik mengontrol emosi lalu menghempaskan beban tubuhnya di sofa, sementara Irsan berjalan dengan berjinjit menghindari pecahan Vas ke arahnya.


"Kau tahu! Gadis itu ... Gadis yang kau sangat sukai itu menghancurkan kencanku." Ines kembali menitikkan air mata. "Dan semua gara gara kau yang tidak menjelas semua padanya." ujarnya dengan memukul lengan Irsan secara brutal. "Kau penyebabnya sialan!"


"Hey ... Tenang dulu! Aku tidak mengerti. Kau bilang siapa? Cecilia."


"Memangnya ada wanita lain yang kau sukai sekarang selain dia. Wanita bar bar. Dia bahkan mempermalukanku di kafe tadi. Kau lihat ini, cakaran kukunya." ungkapmya lagi memperlihatkan bekas cakaran kuku Cecilia di lehernya. "Untung saja tidak mengenai wajahku." ungkapnya lagi dengan terisak.


Irsan justru terkekeh membayangkan Cecilia tengah mengamuk gara gara melihat Ines bersama pria lain.


"Kau!!! Kenapa malah tertawa. Pokoknya aku tidak mau tahu! Kita harus temui Satya dan kau jelaskan semuanya sampai dia percaya. Kalau tidak aku tidak akan bilang pada bibi agar jangan merestui kalian, bibi tidak akan suka kalau kau dekat dengan gadis bar bar seperti itu."


"Heh ... Kau sedang mengancamku Ines!"


"Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau urus semuanya sampai Satya mau menemuiku lagi." ujarnya dengan beranjak pergi meninggalkan Irsan.


Pria tinggi itu menghela nafas, namun sedetik kemudian mengangkat garis bibirnya ke atas. Tak lama dia menyambar jaketnya dan meninggalkan unitnya. Berjalan dengan cepat menyusul Ines yang akan masuk kedalam lift.


"Kau mau pulang? Biar aku antar."


Ines berdecih dengan kedua mata menyalang ke arah sepupunya. "Tidak perlu, kau urus saja gadis bar bar itu!"


"Ya ... Sekalian saja! Kalian kan satu lantai, setelah mengantarmu pulang, aku akan menemuinya dan bicara padanya."


Setelah memastikan Ines masuk kedalam unitnya, Irsan sengaja menunggu Cecilia di depan pintu unit miliknya.


Satu jam


Dua jam


Tiga jam bahkan dia sudah menunggu dengan kesal. Sampai derap langkah beserta suara tawa menggema di ujung lorong, dan anehnya justru membuat jantung Irsan berdebar kencang.


"Heh ... Kau disini?" tanya Cecilia saat melihat Irsan, dia lantas terkekeh.


"Ooh ... Pacarmu pasti sudah mengadu."


.


.


3 chap lagi ... Yuk bisa yuk komen yang banyak sebelum semangat othor mengendur lagi nanti kan ahhh...