I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.86(Aku serius)



Irsan menolehkan sedikkt kepalanya ke arah gadis yang tengah tersenyum tipis dengan kedua alis yang dia turunkan.


"Apa kau sedang main main denganku?"


Cecilia mengernyit lalu sedetik kemudian dia kembali merubah wajahnya serius dan mengalihkan pandangannya. "Enggak ... Buat apa."


Irsan menggeser tubuhnya dan menghadap ke arahnya. "Kau pura pura marah dan menyuruhku melakukan hal itu kan. Kau tidak benar benar marah kan? Kau benar benar."


Cecilia terdiam menunduk dan mengigit sedikit bibirnya bagian dalamnya. "Aku benar benar marah kok!"


Pria itu hanya mendengus saja.


Ting


Pintu lift terbuka, Irsan lebih dulu melangkah keluar disusul oleh Cecilia yang menghela nafas sambil meninju udara. "Udah lempeng, gak peka pula. Untung hidup. Kalau enggak ... Hiih!"


"Kau bicara apa?" Tiba tiba Irsan menoleh ke arahnya.


"Enggak ... Udah deh!"


"Aku jelas jelas mendengarnya! Kau bilang apa. Katakan lagi."


"Kau salah dengar Pak dokter." sahutnya menahan kesal.


"Kau yang salah! Dikit dikit marah, dikit dikit marah."


"Iyu karena kau selalu memancing emosiku Cecilia."


Cecilia berdecak pelan, dan berjalan mendahuluinya."Ini gak bakal selesai selesai, aku kesel kau enggak, kau kesel aku enggak. Kapan selesainya. Aku lapar. Terserahlah kau ikut atau enggak."


Akhirnya Cecilia keluar basement dan menuju mobilnya sendiri. Sikap Irsan seperti angin baginya. Setiap detik nya berubah ubah.


"Gue gak paham. Ada orang punya sikap kayak dia." gerutunya sambil berjalan.


"Kau mau kemana. Mobilku ke arah sana."


"Mau makan ... Makin lama perutku makin lapar." sshutnya asal.


Irsan menarik tangannya dan membawanya berjalan ke arah mobil miliknya. Tanpa bicara sepatah kata pun. Pria itu membuka pintu mobil dan mendorong pelan tubuh Cecilia agar masuk kedalam. Setelah memastikan pintu mobil tertutup, dia berjalan ke arah pintu kemudi lalu masuk.


"Aku enggak mau pergi!" ujar Cecilia melipat tangan di depan dadanya.


Irsan yang baru saja menghidupkan mesin kendaraannya kembali mematikannya lagi. Pria itu menoleh, "Jangan membuat semuanya jadi rumit Cecilia."


"Aku serius! Aku gak mau pergi kalau kau masih marah, yang ada selera makan ku nanti hilang. Aku pesen online aja." jawabnya dengan tangan sudah berada dihandle pintu dan siap membukanya.


Ayo cegah dong, capek gue nunggu reaksi lo.


Pintu sudah terdorong sedikit namun Irsan tetap tidak mengatakan apa apa. Sampai suara decakan pelan keluar dari mulutnya.


"Aku tidak marah! Ayo kita makan malam."


Cecilia menoleh, memasang wajah kaget dengan dua pupil melebar.


"Aku serius, aku tidak akan marah marah lagi. Lakukan semaumu. Katakan apa yang kau ingin katakan. Aku akan pura pura tidak mendengarnya."


Cecilia mengulas senyuman, lalu mengangguk kecil.


"Ayo pergi Pacar!"


Irsan kembali menyalakan mesin kendarannya lalu melaju keluar. Dia juga tidak mengerti kenapa emosinya bisa meledak ledak saat berhadapan dengan gadis gila yang kini duduk disampingnya. Ada kata kata yang sulit dia ucapkan, dan itu membuatnya emosi.


***


Keduanya tiba di sebuah kafe yang cukup ramai malam itu, bahkan tempat parkir nyaris penuh.


"Gak biasanya kafe ini seramai ini." cetus Cecilia. "Ah ... Aku baru ingat, kan malem ini ada meet and great artis yang lagi viral." ujarnya lagi menepuk jidatnya sendiri.


"Oh ya? Apa kau tetap ingin makan disini?"


"Hih ... Ogah! Kayak gak ada tempat lain aja,"


"Buat apa? Enggak penting. Aku gak fanatik."


Irsan mengangguk angguk kecil. Lalu melaju kembali.


"Aku gak suka lihat artis, apalagi yang penuh sensasi. Aku fanatik sama diri sendiri, ngefans sama dirinya sendiri." ujarnya dengan tersenyum.


"Hm! Begitu."


"Dan sama kamu sekarang." Cecilia menoleh ke arahnya dengan senyuman yang lebih lebar dan tentu saja sangat manis.


"Benarkah? Apa kau juga mau tanda tanganku?"


"Ihhh ... Apaan, tanda tangan dokter itu gak bagus."


Irsan berdecih, "Benarkah?"


"Hm ... bahkan tulisannya aja jelek, cuma suster yang paham." gadis itu kini tergelak,


Irsan menoleh ke arahnya lalu tersenyum geli, "Kau benar, aku juga heran kenapa tulisan dokter harus jelek begitu."


Cecilia masih tertawa, "Kau harusnya tahu alasannya, eeh ... stop stop! Kita makan disana." tunjuknya pada sebuah warung tenda dipinggir jalan.


"Disana?"


"Hum ... Ayam bakarnya enak, kau harus coba."


"Benarkah?"


"Iya ... gak percaya? Ayo kesana dan cobain."


Irsan menghentikan mobilnya tepat disamping warung tenda kaki lima itu, warung yang terletak tidak jauh dari kafe yang hendak mereka masuki namun tidak jadi. Keduanya turun dan Cecilia lebih dulu masuk kedalamnya. Memesan menu makan malam 2 porsi nasi dan juga ayam bakar.


Irsan masuk dan langsung menarik kursi plastik disamping Cecilia.


"Apa kau sering makan ditempat ini?"


"Hm ... Dulu," ujarnya lalu mencondongkan kepala ke arah Irsan. Sampai pria itu gelagapan dan memundurkan wajahnya, karena takut kalau gadis cantik itu menciumnya tiba tiba. "Waktu aku masih kekurangan uang, aku selalu beli satu porsi berdua sama Nita. Ujarnya lagi membuat Irsan terbeliak.


"Satu porsi berdua?"


"Hm ...! Segini." ujarnya lagi mengangkat piring berisi nasi. Juga ayam yang ukurannya tidaklah besar itu. "Dulu aku rasa segini ini bikin kenyang, tapi setelah aku punya uang, kenapa ini jadi bikin gak kenyang." jelasnya lagi sambil terkekeh, "Asal kau tahu saja, aku selalu senang saat makan ayam sekarang."


"Pasti karena Ayam makanan favorite mu."


Cecilia menggelengkan kepala, "Enggak. Tapi karena tiap makan ayam, aku selalu ingat masa lalu. Menertawakan masa masa sulit yang berhasil aku lalui." ungkapnya lagi dengan kedua mata berbinar.


Irsan menatapnya lekat, diam diam mengagumi juga semakin penasaran dengan masa lalu yang dilaluinya hingga gadis itu tumbuh dengan segala tindakan dan tingkah polahnya.


"Kau pasti banyak melalui masa masa sulit."


Cecilia mengangguk, "Hm ... Makanya, kau harus menyayangiku, mencintaiku, memanjakanku. Benarkan?" ujarnya dengan terkekeh.


"Kau ini." mengulas senyuman. "Memangnya pria pria itu tidak memberikan semua itu padamu?"


Tanpa rasa malu ataupun ragu Cecilia menggeleng, tingkahnya seperti anak kecil yang polos saat ditanya. "Kita hanya barter, menukar semua perasaan dengan uang. Gak ada yang tulus sayang sama aku, gitu juga aku." menghela nafas berat.


"Kalau begitu berhenti dan bekerja dikafe milikku seperti yang aku katakan sebelumnya."


Cecilia terdiam, karena dia ingat Reno dan kontraknya yang belum selesai.


"Apa kau masih menjalin hubungan dengan salah satu pria?" tanyanya lagi, kali ini dengan sangat serius.


"Ya ... Hanya sebatas kontrak!" jawabnya dengan acuh dan menyeruput es jeruk hangat miliknya, jujur dan apa adanya.


"Kalau begitu putuskan kontraknya dan aku akan membayar finaltynya."


Cecilia menolehkan kepalanya. saat Irsan menggenggam tangannya.


"Aku serius Cecilia. Berhentilah. Aku akan menjagamu."