
Agnia menggeret kakinya keluar dari unit apartemen Nita, tanpa ada yamg bisa dia mengerti sedikitpun kenapa Nita bisa semarah itu pada Cecilia sampai dirinya pun ikut terseret. Dia keluar tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya, melangkahkan kakinya dengan gontai dan mencari Cecilia.
"Ce ...?"
"Gue gak mau bahas dia lagi. Kita cabut." Cecilia yang tengah berdiri membelakangi mobil miliknya bergerak masuk.
Gadis itu juga tidak mengerti kenapa Nita bisa semarah itu hanya karena dia tidak mendukungnya soal Carl. Sementara Agnia menghela nafas lalu ikut masuk ke dalam mobil tanpa bisa berkata kata lagi.
Suasana didalam mobilpun hening, tidak ada Cecilia yang banyak bicara apalagi ceria seperti biasanya, dia terdiam sepanjang perjalanan, Agnia juga hanya bisa melirik sebentar sebentar saja kearahnya.
"Lo mau gue anterin kemana?" tanya Cecilia memecah keheningan, datar dan tidak biasa.
"Ce ...!"
"Hm ...! Gue mau balik ke rumah sakit lihat Ibu gue."
Singkat, padat dan tentu saja jelas. Mungkin Cecilia ingin sendiri dulu. Fikir Agnia.
"Balik ke rumah aja Ce ... Biru gue titipin sama Bi Nur."
Cecilia hanya mengangguk saja, aneh rasanya melihat orang yang sudah kita kenal berubah seperti ini, kesalah fahaman ini jelas sangat berat dan Agnia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menyelesaikannya.
"Lo baik baik aja kan?"
"Menurut lo?"
"Enggak!"
"Ya udah!"
"Tapi apa mesti lo juga marah dan kesal sama gue Ce? Enggak kan? Gue yang gak tahu apa apa ini justru bingung harus bantu kalian gimana Ce?"
"Sorry Nia ... Gue gak ada maksud buat marah sama lo! Tapi gue serius ... Gue gak mau bahas masalah ini. Oke?" tukas Cecilia yang bahkan tidak melirik sedikitpun.
Agnia kembali menghela nafas, kembali mengatupkan bibirnya juga. Diam mungkin lebih baik dari pada mendesaknya saat ini. Mencoba mengerti keadaan mereka.
Mobil berhenti di rumah kediaman Zian yang saat ini hanya ditinggali Bi Nur dan Aya. Disanalah juga Agnia tinggal selama berada di indonesia sebelum kembali ke singapura.
"Gue mau balik ke singapure, tapi gue berharap masalah ini bisa selesai sebelum gue balik." Tukas Agnia sebelum dia turun dari mobil.
Tidak ada jawaban apapun dari Cecilia, dia kembali melesat tanpa ingin berpamitan atau hanya melambaikan tangan seperti biasanya, dan Ibu muda satu ini kembali menghela nafas dengan berat dan terus melihat mobil yang semakin menjauh pergi.
Cecilia kembali ke rumah sakit, dia menemui Ibunya di ruang perawatan dengan kondisi yang semakin membaik. Wajah murung serta lesu terlihat jelas saat dia memasuki kamar Ibunya.
"Cecilia! Kamu pulang Nak?"
Ucapan yang sama dari sang ibu selama beberapa hari ini saat Cecilia datang menemuinya. Ibunya belum sembuh seperti sedia kala, dia selalu merasa berada dirumah dengan sosok anak yang pergi meninggalkan dirinya. Rasa trauma berkepanjangan yang dari ketidak sehatan mental.
"Iya Bu ... Aku pulang, ibu udah makan?"
Cecilia mengulas senyuman, dia merebahkan tubuhnya dengan paha sang ibu yang menjadi bantalnya. Tangan kasar mengusap kepalanya dengan lembut, seiring air mata yang jatuh tanpa terasa.
Sulit diungkapkan bagaimana rasanya saat ini, tumbuh dengan keras bersama Nita dan banyak melewati semua hal dengannya, semua hal bahkan nyaris mati, saling bergantung dan saling menjaga layaknya saudara.
Menjadi saudara tidak harus sedarah, mungkin itulah mereka, bersama sama menghadapi kejamnya dunia pada usia belasan tahun sampai berada di posisi saat ini, berjuang dari titik direndahkan orang sampai bisa berdiri seperti sekarang. Tapi sekarang? Ibarat separuh dirinya ikut menghilang saat Nita mengatakan dia tidak akan peduli lagi begitu pun dengan apa yang di ucapkannya.
"Bu ... Apa yang ibu rasakan saat ayah meninggal?"
"Sakit." lirih Ibunya. "Dua kaki ibu terasa tidak menapak di bumi, tidak juga terbang ke langit. Mengawang ngawang saja." lirihnya lagi dengan terus mengelus kepalanya.
"Terus apa yang ibu lakuin?"
"Teriak! Mengutuk tuhan, bertanya padanya kenapa dia mengambilnya lebih dulu."
Cecilia tersenyum tipis dengan menyusut matanya yang basah. Kehilangan orang yang pergi karena telah habis batas usia memang lebih baik dibandingkan kehilangan orang yang kita sayang tapi masih bisa kita lihat. "Terus gimana bu?"
"Tapi ibu lebih sakit saat putri Ibu pergi meninggalkan Ibu. Ibu salah dan seharusnya ibu tidak membiarkannya pergi, rasa bersalah itu membuat Ibu tersiksa setiap hari, memikirkannya membuat Ibu tidak bisa makan, tidak bisa tidur, rasa bersalah paling besar karena ibu tidak berusaha mencarinya."
Titik bening kembali merembas, bahkan kini membuat paha ibunya basah, sesakit itukah kehilangan. Telinganya dengan jelas mendengar perkataan Ibunya, tapi fikirannya dipenuhi oleh sosok Nita dengan segala ucapannya.
Tanpa mereka sadari Dokter yang selama ini merawat sang Ibu masuk bersama seorang suster. Membawa obat dan hendak memeriksa. Namun keduanya hanya berdiri mematung dan menunggu saat melihat perlakukan seorang ibu terhadap anaknya.
"Kita pergi Sus!" desis Dokter kembali keluar, membiarkan mereka berbicara berdua saja tanpa di ganggu.
"Aku juga hari ini kehilangan sahabatku Bu!"
"Meninggal juga seperti suamiku?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Dia gak meninggal bu tapi dia meninggalkan aku karena marah. Aku gak tahu salahnya dimana?"
"Cari dia dan bilang minta maaf tanpa harus tahu salahmu dimana!"
Ucapan ibunya bak sembilu yang menghujam perih, "Jangan seperti ibu ini, Ibu juga akan melakukannya nanti kalau Ibu sudah keluar dari sini. Ibu akan mencari putri ibu Cecilia. Ibu akan minta maaf padanya, kalau perlu ibu akan bersujud di kakinya." ucapnya lagi.
Cecilia bangkit dan menatap Ibunya yang kini tersenyum, kadang kalanya dia memang ingat bahwa dirinya adalah Cecilia, tapi saat saat tertentu dia lupa kalau putrinya sendiri ada didepannya kini.
Trauma yang ditakutkan Cecilia terjadi lagi pada Nita setahun silam, yang tidak mau bertemu dengan siapa siapa kecuali dirinya, tidak mau keluar rumah bahkan keluar dari kamarnya. Kehilangan rasa percaya diri dan jati dirinya akibat kekerasan yang dia dapatkan dari sugar daddynya kala itu. Tapi Nita tidak mengerti dengan apa yang dia takutkan. Sama halnya dengan Ibunya yang tidak mengerti kenapa Cecilia pergi kala itu.
Pintu kembali terbuka, Irsan masuk lalu mengangguk pelan melihatnya, dengan cepat Cecilia menyeka air mata yang membuat wajahnya basah lalu menghampirinya.
"Suster menitipkan obat ini untuk ibumu, tadi meraka kesini tapi tidak ingin mengganggu kalian, Ibumu memang harus lebih banyak melakukan deep talk khususnya denganmu!" terang Irsan mencuil hidung Cecilia. "Kamu menangis?"
Cecilia berhambur memeluk Irsan dan menangis sejadinya, mereka memang melakukan Deep talk, tapi fikiran Cecilia habis hanya pada Nita saja saat ini.
"Apa yang terjadi?"