I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.32(Pancingan berhasil)



Keduanya berdiri didepan sebuah pintu, dimana pelayan kafe mengetuk dan baru mempersilahkan keduanya untuk masuk. Namun Cecilia masuk kedalam seorang diri, sementara Sila masih berdiri di luar menunggu kode.


Kalau gue kasih kode. Lo baru masuk! Inget, di dalem lo itu Veronica, lo gak kenal sama gue. Ok?


Kata kata yang di ucapkan oleh Cecilia sebelum masuk itu tertanam di otak Sila, dengan hati yang berdebar debar dan tentu saja menantang adrenalin. Ini hari pertama baginya melakukan hal yang dianggap nyeleneh, menyamar sebagai orang lain yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa apa. Yang pasti uang yang bicara dan juga entah kenapa ucapan Cecilia yang membuatnya percaya.


"Demi duit yang udah gue kasih ke nyokap dan gak mungkin gue kembaliin lagi. Gue harus bisa." Gumamnya menyemangati diri sendiri, kepercayaan dirinya pun meningkat.


"Kalau gue sekarang berhasil, gue bakal kayak Kak Cecil. Gak masalah gaet gaet laki dewasa, yang penting gue bisa dapetin duit banyak." gumamnya yang hanya bisa dia dengar sendiri.


Cecilia berjalan kearah Irene yang sudah menunggu dengan resah, terlihat wajahnya berkeringat dengan kedua tangan yang meremass basah.


"Tante."


"Cecil! Mana wanita itu?" ujarnya dengan mengedarkan pandangannya mencari.


"Tante tenang ya, jangan panik! Jangan juga marah, karena ada sesuatu yang harus tante tahu sebelum aku membawanya bertemu tante." ucap Cecilia saat dirinya sudah mendudukkan bokong di sofa.


"Apa?"


"Wanita itu bukan wanita biasa, dia masih dibawah umur dan sepertinya suami tante hanya ingin membantunya saja."


"Benarkah?"


"Aku udah cari tahu ini beberapa hari Tante, dan aku tidak pernah salah menilai, aku juga cari tahu latar belakang keluarganya, pendidikannya dan semua yang berkaitan dengannya." terangnya dengan mengeluarkan beberapa foto Sila bersama keluarganya di rumah.


Jangan tanya dia dapat dari mana, tentu saja dia mengambilnya diam diam saat mengikuti Sila pulang beberapa hari yang lalu. Kondisi rumah dan juga keluarga yang memprihatinkan membuat rencananya semakin sukses.


Memanfaatkan Sila? Tentu saja, namun dia lebih senang menyebutnya kerja sama. Toh dia juga memberikannya uang dan tetap memberinya kenyamanan. Eksploitasi anak dibawah umur? Ah jangan katakan itu disaat dunia terasa di adil. Si kaya akan tetap kaya dan si miskin akan tetap miskin, bahkan semakin miskin.


Irene menatap lembar demi lembar foto yang diberikan Cecilia, rumah sederhana yang bagian plafonnya sudah mulai merosot hampir ambruk, warna cat dinding sudah tidak lagi berbentuk. Cipratan air hujan bercampur tanah merah karena rumah itu tanpa lantai keramik. Seorang gadis berambut pendek duduk disamping dua anak kecil yang bahkan tidak memakai pakaian, hanya kaos singlet yang sudah lusuh.


"Ini?"


"Namanya Veronica. Usianya baru 13 tahun, dia punya dua adik yang masih kecil kecil, ibunya janda bersuami."


Irene mendongkak ke arahnya setelah penjelasan yang membuatnya bingung dengan kedua alis berkerut.


"Maksudnya suaminya pergi gak tanggung jawab, disebut janda tapi juga belum bercerai." Cecilia terkekeh.


Irene mengangguk lagi, dia juga kembali menatap atu foto dimana wanita yang tengah menjemur pakaian, usianya lebih muda darinya, namun kerutan di wajahnya serta kemuraman yang membuat hatinya ikut sakit.


"Ini ibu mereka?"


"Hm ... Tante betul! Dia bekerja sebagai buruh cuci. Kesehariannya hanya bekerja. Dan Veronica sering membantu ibunya. Aku tidak tahu gimana awal mula Veronica kenal dengan Om Reno, yang jelas Om Reno sepertinya hanya membantunya saja. Veronica memiliki akun bank yang setiap bulannya Om Reno isi untuk membantu kesehariannya." terangnya lagi sangat menyakinkan.


"Kenapa tidak mengatakannnya padaku saja."


"Entahlah Tante, tapi semenjak aku datang ke rumah tante, Om Reno memang berbeda, mungkin dia merasa tidak enak hati pada Tante, takut menyakiti perasaan tante karena kalian tidak memiliki anak kalau tante tahu om Reno mengurus anak anak yang masih kecil itu. Tante akan sedih."


Hati Irene merasa iba saat mendengarnya, dia juga merasa bersalah karena menuduh suaminya dekat dengan wanita lain hanya dari transaksi bank.


Irene yang memang berhati lembut mengangguk, dan hatinya kini tenang ditambah melihat keluarga yang memprihatinkan itu.


"Kalau Tante udah siap. Aku akan meminta Veronika masuk."


"Dia ada di sini?"


"Ya iya lah tante, aku bawa kesini agar tante tahu sendiri dan gak berfikir aku mengada ngada." terangnya lagi.


Cecilia benar benar pandai bersilat lidah, menyakinkan orang orang adalah keahliannya. Hanya saja keahliannya itu dia pakai untuk sesuatu yang tidak benar. Tentu saja tidak ada kata benar atau salah dalam kamusnya, dia hanya akan mengatakan kalau itu adalah takdir yang harus dia jalani, perihal salah atau benar. Itu urusan nanti.


"Aku hanya ingin pastikan Tante tidak marah marah saat melihatnya tadi! Sebelum tahu kebenarannya. Dan jangan bilang pada Veronica tante tahu tentang keluarganya, dia pasti akan malu tante."


Irene mengangguk, menyimpan kembali foto foto itu dan Cecilia segera mengambilnya dan menyimpannya ke dalam tas.


Dia menyuruh pelayan membawa Sila ke dalam, dan tentu saja setelah memastikan Irene tidak akan bertanya tentang keluarganya.


Sila melenggang masuk dengan percaya diri, wajah yamg dirias sangat cantik dan juga pakaian yang membuat dirinya lebih dewasa dari usianya.


Kedua matanya melebar sempurna saat tahu yang ditemuinya seorang wanita yang menatapnya teduh, bukan pria paruh baya dan siap memberinya uang seperti bayangannya.


"Veronica?" Irene berdiri.dan menyodorkan tangannya.


Angguk angguk kepala, tugasnya hanya mengangguk ya dan menggeleng tidak.


"Iya."


"Ayo duduk." ajak Irene lembut dengan menuntunnya agar duduk di samping Cecilia.


"Halo Veronica."


Sila kembali mengangguk saat Cecilia menyapanya. Dia juga duduk dengan ragu ragu.


"Tidak usah takut begitu! Tante Irene tidak akan menggigitmu. Iya kan Tan?" ujar Cecilia dengan terkekeh. Sungguh dia benar benar menahan diri agar tidak tertawa saat melihat wajah penuh bingung Sila.


"Aku sudah pesankan makanan! Kita makan dulu."


Sila mengangguk lagi.


"Aku dengar kamu itu punya dua adik yang masih kecil?" tanya Irene, walaupun Cecilia mewanti wanti agar tidak bertanya perihal keluarganya, namun dia benar benar penasaran.


Binggo


Pancingan gue berhasil. Cecilia membatin, dia benar benar membuat Irene bertanya perihal keluarga Sila. Semakin penasaran orang, dia gak bakal peduli walaupun dilarang. Dan itu pancingan pertama gue. Begitu juga dengan Sila yang terbelalak sempurna karena dia tidak pernah menceritakan masalah keluarga pada siapapun termasuk Cecilia, tapi tugasnya hanya mengatakan ya atau tidak tanpa kecuali.


Sialan kak Cecil. gue bener bener kayak terjebak tanpa pilihan. Tapi ini tugas pertama gue dan gue harus berhasil.


"Ii--iya."