I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.195(Semuanya)



Cecilia mau tidak mau ikut turun juga dari mobil saat melihat Embun masih berdiri diambang pintu menunggunya. Mereka berdua masuk ke dalam toko perhiasan yang cukup terkenal, kotak kotak kaca berisi berbagai macam perhiasan yang menyilaukan. Tapi tidak membuat Cecilia tertarik pada benda mewah yang biasanya disukai para wanita di muka bumi.


"Bu. Ibu nggak niat beliin aku perhiasan kan?"


"Memangnya kau berharap aku akan membelikanmu atay tidak?"


"Tidak!" sahutnya dengan jujur.


Langah Embun terhenti saat itu juga, dia menoleh pada Cecilia dan menatapnya penasaran.


"Kenapa kau jujur sekali?"


"Ya aku gak suka jewelry bu, entah itu perhiasan biasa atau berlian, aku sukanya Tas, sepatu, property,"


Embun mendengus kasar, dia tidak pernah bertemu orang yang secara terang terangan menolak.


"Padahal aku belum tentu akan membelikanmu!" ketusnya dengan kembali berjalan. "Bukankah semua wanita menyukainya!" desisnya saat mengayunka langkahnya lebih dulu.


"Ya ... semua wanita menyukainya tapi aku gak masuk wanita itu. Walaupun Ibu belum membelikanku, aku mending nolak." sahutnya menayamai langkah Embun.


"Kenapa menolak?"


"Ibu udah nerima dan mencoba sayang sama aku aja itu udah lebih dari cukup Bu."


Perkataan Cecilia sungguh manis, membuat Embun mengulas senyuman tipis.


Bisa bisanya gue ngomong setulus ini. Batin Cecilia.


"Tidak perlu merayuku, aku tidak luluh hanya karena kau bicara sangat manis." ucapan Embun berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan.


Cecilia terkekeh, "Aku juga gak tahu kenapa aku bisa ngomong kayak gitu ya tadi. Tapi itu bener kok bu, Ibu udah nerima aku dengan baik aja aku sudah sangat beruntung, aku dapet cinta dari seorang anak sekaligus ibunya itu lebih dari cukup."


"Kau hanya membual saja!" Deliknya pada Cecilia.


"Enggak kok bu ... Itu benar, aku sudah berfikir sekarang, nyatanya uang tidak selalu bisa membeli semua kebahagiaan, buktinya Ibu sendiri. Banyak uang tapi jauh dari anak, ibu gak bisa menukarnya dengan uang juga kan. Aku juga gitu bu, aku mencintai Irsan tanpa tahu dia memiliki uang, ku fikir dia hanya dokter biasa saja, bukan pembisnis atau pengusaha apalah itu." Ucapnya terang terangan.


Embun terdiam, tak lama kemudian dia menarik tangan Cecilia dan berjalan kembali keluar.


"Eeh Bu. Gak jadi lihat lihat?"


"Bukankah kau tidak suka? Kalau aku membelikanmu 1 set perhiasaan kau hanya akan menyimpannya atau bahkan kau jual kembali. Jadi kita ke tempat lain saja."


"Hah?"


Mereka keluar dari store Jewelry dan masuk kedalam toko tas branded. Cecilia cukup tercengang karena tas branded yang biasa di jual di sana hampir semua limited edision. Selera Embun nyatanya bukan kaleng kaleng, walaupun usianya sudah cukup uzur namun seleranya masih sangat bagus.


Terbukti pilihannya sama dengan Cecilia. Dia tahu barang mana yang bisa dijadikan investasi jangka panjang dan mana yang hanya untuk jadi ajang pamer saja.


"Cecilia lihat ini, kau suka?" tanyanya pada Cecilia yang dengan menunjukan tas berwarna hitam.


"Bu ... Ini tas hanya ada 5 di seluruh dunia, harga nya pasti no kaleng kaleng, bersertifikat pula. Ibu yakin beliin ini untuk aku?" Seperti biasa, tingkat kepercayaan diri Cecilia tinggi, berfikir kalau Embun akan membelikannya.


"Kau bilang di dunia ada 5?"


Cecilia mengangguk, "Iya Bu. Kalau di beli ini bisa di jual lagi dengan harga 2 kali lipat."


"Astaga kau ini! Aku membelikanmu untuk kau pakai, bukan untuk kau jual lagi." Dengus Embun seraya menggelengkan kepalanya.


Gadis berusia 20 tahun itu terkekeh, "Tapi lumayan kan Bu kalau bisa di jual lagi. Ini kita bakal untung besar."


Embun berdecak, sungguh baru pertama kali dia mengenal orang macam Cecilia.


"Kau memiliki jiwa enterpreuner, apa kau memiliki usaha sendiri sekarang?"


"Belum bu," Cecilia menggelengkan kepalanya, "Tapi cita citaku jadi Bos. Punya usaha sendiri tapi biaya hidupku terlalu tinggi saat dulu. Uang habis untuk hal hal menyenangkan diri saja." terangnya dengan tertawa.


"Oh iya ... Irsan juga berniat kasih aku coffe shop miliknya untuk aku kelola, tapi aku belum putuskan untuk mengambilnya."


"Benarkah? Informasi ini tidak sampai padaku." Embun tersentak mendengarnya. "Apalagi yang sudah dia berikan padamu. Hm?"


"Semuanya sudah diberikan?"


"Semuanya. Maksudmu semuanya?" Lebih tersentak lagi kali ini dengan apa yang dia dengar, bahkan langkahnya kembali berhenti.


Dia menatap Cecilia penuh rasa was was, dengan fikirannya berkelana kemana mana. "Semuanya ... Semuanya?"


Cecilia mengangguk kecil lalu terkekeh, "Semuanya ibu, bahkan...."


"Astaga!"


Sementara dua pria dewasa yang sejak awal mengikuti mereka berdua pun hanya bisa memaku di tempatnya. Jelas bukan tempat yang tepat untuk mendengar semuanya. Walau tidak secara gamblang, mereka semua tahu apa yang di magsud dengan kata semua yang di ucapkan gadisnya itu.


Carl tergelak, namun sejurus kemudian dia menutup mulutnya seraya bersembunyi dibelakang. Sungguh informasi yang sangat penting yang dia dapatkan selama mengenal Irsan.


"Kau!" Desis Irsan yang juga takut ketahuan. "Pelankan suaramu brengsekk."


Entah kenapa pria taat aturan dan disiplin itu lebih sering mengumpat saat ini, membuat Carl kembali menahan tawa.


"Apa itu benar Dokter Irsan yang baik budi pekerti?"


"Brengsekk!" Irsan tidak lagi kuasa menahan diri, dia memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya yang hanya berjarak beberapa langkah saja.


Pria itu berjalan menghampiri kedua wanita yang tengah saling bertatapan dengan seluruh fikiran fikiran mereka.


"Apa yang kau lakukan?" sentaknya pada Cecilia tiba tiba.


Cecilia tersentak kaget saat melihatnya, begitu juga dengan Embun yang berdiri ditempatnya dan mematung.


"Ayo pergi!" ajaknya dengan menarik pergelangan tangan Cecilia.


"Heh ... Tunggu, aku sedang berbelanja dengan Ibu? Kau kenapa kesini. Bukannya kau bilang kembali bekerja?" selorohnya dengan heran karena kemunculan Irsan yang tiba tiba.


Sementara Embun hampir tidak bisa berkata kata, sampai Carl menghampirinya.


"Lebih baik Tante pulang ke rumah, urusan mereka tidak bisa dicampuri." Carl terkekeh, "Putramu sudah lebih dari dewasa, itu bukan hal aneh bagi pria dewasa seusianya." Katanya lagi semakin membuat Embun tersentak.


"Segera nikahkan mereka Carl!"


.


Irsan membawa Cecilia masuk kedalam mobil, dia membuka pintu dan mendorong pelan bahu Cecilia agar masuk. Sementara dia berjalan ke arah kemudi.


Bruk!


Bahkan Irsan menutup pintu dengan sangat keras. "Apa yang katakan tadi? Kau tidak sadar pada siapa kau mengatakan hal itu Cecilia?"


"Apa. Kenapa kau marah marah?"


"Astaga! Kau lupa kalau fikiran ibuku tidak sama dengan kebanyakan orang Cecilia? Hal seperti itu masih dia anggap tabu dan tidak layak dilakukan. Kau gila dengan mengatakan semua padanya."


"Emangnya kenapa? Aku gak bilang kau menyerahkan keperjakaanmu padaku kan tadi. Aku hanya bilang semuanya,"


.


.


Wkwkwk ... Bikin Embun lama lama stroke lo Ce.