I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 34(Kenapa marah)



Sila terhenyak, dia memang baru 13 tahun, tapi kesulitan hidupnya kerap membuatnya lebih dewasa dari umurnya, tumbuh dengan banyaknya kesulitan yang mendewasakannya, melihat ibunya banting tulang sekeras mungkin agar bisa mencari sesuap nasi hanya untuk hari ini, bahkan tidak tahu jika besok bisa menemukan nasi ataupun tidak.


Keduanya saling bertatapan dengan tajam, baik Sila maupin Cecilia.


"Tunggu apa lagi? Lo tinggal pergi dari sini kalau lo emang gak mau. Gue kayak gini karena gue tahu kondisi lo. Gue pengen bantu lo walaupun mungkin menurut lo cara gue salah. Tapi gue yakin lo bakal terima kasih sama gue nanti." Cecilia kembali duduk, membelakangi Sila yang masih berdiri menghadap punggungnya.


Lambat laun dia berjalan kembali ke arahnya, menarik kursi dan terduduk di depannya.


"Maafin gue kak!"


"Lo gak salah, kenapa harus minta maaf! Gue ngerti lo ngejaga harga diri lo dan keluarga lo. Iya kan?" tukas Cecilia tanpa melihat ke arahnya, dia tengah menikmati puding miliknya. "Tapi ingat, dunia ini kejam buat orang kayak kita. Yang harus banting tulang buat ngerubah nasib kita sendiri. Kalau ada kesempatan berubah, kenapa gak lo ambil aja. Bukannya jual diri lebih hina dan harga diri lo hancur sehancur hancurnya. Mau di taro dimana muka ibu lo kalau dia tahu. Hem?"


"Terus lo sendiri?"


Brakk!


Cecilia menggebrak meja dengan keras, kedua matanya membola sempurna, "Kita lagi bahas hidup lo! Bukan hidup gue. Kalau lo mau terima bantuan Irene, lo ambil kesempatan itu! Kalau lo gak mau, gue juga gak bisa maksa."


"Gue mau...." lirihnya kemudiaan.


"Bagus! Lo emang harus pilih itu. "Nih punya lo!" ujarnya kembali menyerahkan amplop titipan dari Irene.


Dengan ragu Sila mengambil bungkusan coklat itu dari tangan Cecilia, cukup tebal dan membuatnya penasaran. Tak lama Sila membuka amplop itu dengan kedua mata terbelalak setelahnya.


"Baru kan lo lihat duit sebanyak itu?"


Sila menelan saliva saat melihat segepok uang baru yang bahkan masih ada keterangan nominal dan juga nama banknya itu. Uang yang bahkan hanya dalam bayangannya saja.


Sila mengangguk, "Ini banyak banget kak! Kalau gue kasih ibu gue, dia juga bakal kaget kenapa gue punya duit sebanyak ini."


"Ya lo tinggal bilang aja lo abis jual diri. Beres kan!" Cecilia tergelak sampai mulutnya terbuka lebar. Membuat Sila mendengus pelan. "Makanya gue kasih lo kartu bank tadi, lo tabungin duit itu dan kasih sewajarnya biar ibu lo gak curiga, lo juga udah bilang lo kerja di tempat gue kan."


Sila mengangguk, nyatanya apa yang direncanakan oleh Cecilia itu adalah untuk kebaikannya sendiri.


"Lo beruntung ketemu gue! Kalau dulu gue ketemu ger mo beneran."


"Terus lo jual diri? Sampai sekarang?"


Kedua bahunya dia herdikan, bertanda dia enggan menjawab pertanyaan Sira.


"Yang pasti, gue bersertifikat resmi." Cecilia kembali tergelak.


Setelah menunggu pelayan membungkus dan menambahkan menu, kedua akhirnya keluar dari ruangan itu, ruangan yang sangat menjaga privasinya.


Tak disangka, saat mereka keluar bertepatan dengan seorang pria yang juga keluar dari pintu disampingnya. Membuat Cecilia mengulum senyuman dan juga senang karena melihatnya lagi,


"Dokter Irsan?"


Irsan menoleh ke arah belakang dimana Cecilia berjalan ke arahnya, senyuman manis telah terpasang sempurna di bibirnya.


Irsan terlihat biasa saja, bahkan dia tidak menjawab sapaan Cecilia sedikitpun.


"Disini juga? Tahu gitu kenapa kita gak bareng aja tadi?"


Irsan mendengus kesal, namun dia juga tidak berlalu pergi dari tempatnya, dia justru diam dan menatap Cecilia dan juga Sila. Namun senyuman Cecilia sirna begitu saja saat melihat sosok wanita berambut panjang yang dia lihat di salah satu unit kamar dilantai yang sama dengannya.


"Sudah?" tanya Irsan lembut.


Wanita berambit panjang itu mengangguk, lalu menatap sekilas ke arah Cecilia. "Ayo pergi! Aku harus ke suatu tempat dulu. Kau mau menemani kan?"


Irsan terlihat mengangguk, keduanya berjalan bersampingan lalu berjalan keluar.


"Jangan bilang kak Cecil cemburu! Itu Om om yang kita lihat di mall kan? Kan nyuruh lo bayar make up yang lo curi itu."


"Heh bego! Lo yang nyuri." ketusnya kesal, dia jelas bukan pencuri yang sebenarnya.


Keduanya pun keluar dari restoran jepang itu, dan sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Supir turun dan menghampiri Cecilia.


"Maaf Nona, saya di suruh nyonya untuk mengantarkan kalian berdua kembali pulang." Ucapnya sopan, mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam mobil.


Tentu saja Cecilia menolak, dia sendiri bawa mobil.


"Bilang sama tante Irene, aku bawa mobil! Tapi kalau mau antarkan saja dia pulang." ujarnya dengan menunjuk Sila yang membawa beberapa bungkusan.


"Gak apa apa kak! Gue bareng lo aja."


"Udah lo dianter dia aja ya! Gak apa apa kok, dia supir Tante Irene. Dia pasti nganterin lo sampe ke rumah. Gue ada urusan dulu soalnya."


"Ya udah deh kak, gue ikut lo!"


"Gila aja! Lo bahkan gak bisa masuk kesana. Udah lo balik aja dulu, besok baru ke rumah gue buat ambil barang lo." cegah Cecilia, dia tidak mungkin mengajak gadis di bawah umur ke klub. Karena dia tidak memiliki akses bebas keluar masuk klub seperti dulu.


Supir membawa barang barang Sila, dan membuka pintu untuknya. Gadis itu menurut saja, dia masuk dengan melambaikan tangan pada Cecilia.


Cecilia berbalik dan berjalan ke arah mobilnya terparkir setelah memastikan mobil yang mwmbawa Sila keluar dari pelataran parkir.


"Kau tidak kapok mengajak anak itu berbuat hal hal buruk Cecilia!" Seru seseorang dari belakang.


Cecilia yang hendak membuka pintu mobil pun kembali menoleh ke arah suara dan mendapati Irsan tengah berjalan ke arahnya. Kedua matanya mengedar ke sisi lain mencari wanita berambut panjang yang keluar bersamanya, namun dia tidak menemukannya.


"Aku?"


"Iya kau. Siapa lagi! Kau tidak lihat disini cuma ada kau saja. Tempo hari kau mengajarinya mencuri! Sekarang apa yang kau ajarkan padanya?" sentak Irsan dengan kedua mata menajam.


Cecilia terkekeh, entah kenapa Sila mencuri perhatian Irsan, dan itu menguntungkan baginya.


"Kepo deh!" kekehnya.


Namun Irsan mencekal lengannya keras, hingga Cecilia meringis kesakitan, "Aku tidak bercanda!"


"Aw ... Sakit! Pelan pelan bisa kan?"


"Kau sudah rusak! Otakmu juga rusak, setidaknya jangan merusak orang lain apalagi anak dibawah umur." ujar Irsan dengan kesal, terlihat wajahnya sangat marah.


"Kenapa marah? Toh aku tidak merugikanmu." Cecilia mendongkakkan wajahnya lebih dekat, dia sengaja saja melakukannya. "Atau jangan jangan, kau suka anak anak dibawah umur ya?" ujarnya lagi dengan terkekeh.


"Kau memang jalaang, tapi jangan membuat anak itu menjadi sepertimu Cecilia!"