I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.40(Bikin Pangling)



"Lo katanya minta bantuan gue! Kalau gak, ya udah gak usah minta bantuan sama gue dong! Gimana sih." ketus Nita kesal.


"Ya lo kenapa maen ganti ganti! Gue gak tau rencana lo apaan. Mana rambut gue masih bagus lagi, ngapain juga harus ganti. Heran gue."


Keduanya malah sibuk berdua, berdebat satu sama lain dan membuat semua pegawai saling menatap dan diam memperhatikan, hingga seseorang turun dari lantai atas dengan berdecak.


"Kalian masih mau pada ribut? Mending ribut dulu di luar baru masuk deh! Kebiasana kalian gak hilang hilang dari dulu."


Keduanya menoleh kearahnya, sama sama terbelalak kaget setelah melihat siapa yang bicara.


"Madam!"


Keduanya menghampiri wanita paruh baya dengan rambut berwarna mereah yang di gulung ke atas.


"Gimana kabar kalian? Masih ingat aku rupanya." ujarnya terkekeh.


"Pasti inget dong Madam! Gak bakal lupa sedikitpun," tukas Nita, "Iya kan Ce?"


Cecilia mengangguk, memeluk wanita paruh baya itu bergantian.


"Butik Madam kemana sekarang? Kok jadi salon?" tanya Cecilia.


"Panjang ceritanya! Intinya aku sekarang sudah alih profesi menjadi salon kecantikan, butik pakaian bekas itu udah aku jual pada seorang desainer ternama. Jadi ya disini lah aku sekarang. Gimana? Kalian mau coba treatment apa?"


Pemilik butik pakaian bekas yang dulu menjadi langganan keduanya saat merintis kini tersenyum bangga, usahanya berkembang pesat dan hilang kabar. Cecilia dan Nita juga tidak lagi mengunjunginya sejak keluar sekolah.


"Ini si Cecil, mau ganti warna rambutnya!" Tukas Nita bersikeras walaupun Cecilia menolaknya.


"Ya udah ... Yuk ke dalem. Kalian bisa pilih sendiri. Nanti ada pegawai yang bakal bantuin kalian, dan tenang, kalian dapet harga promo." ujar Madam terkekeh.


Keduanya masuk diantar olehnya yang segera menyuruh pegawainya untuk segera melayaninya, Cecilia menatap Nita begitu juga sebaliknya.


"Gila si Madam! Sekarang udah bisa nyuruh nyuruh orang." ujar Nita setengah berbisik.


"Hooh ... Dia udah kaya sekarang! Lah kita masih gini gini aja." timpal Cecilia.


"Memangnya pekerjaan kalian masih sama dari dulu?" celetuk Madam dari belakang, yang ternyata mendengar apa yang diceritakan keduanya.


Cecilia juga Nita terkekeh dengan menggaruk kepalanya. "Udah ada peningkatan dong ya, aku lihat kalian makin wow." ujarnya lagi.


"Ya gitu lah Madam, namanya juga kerja gitu! Kalau gak wow mana ada yang mau!" sikut Cecilia pada Nita lalu keduanya terkekeh.


Madam mengangguk anggukan kepalanya, "Hebat juga kalian! Ya sudah, untuk kali ini gratis, tapi ingat kalian harus sering kemari untuk melakukan perawatan, salon ini kumplit, segala macam ada. Ada treatment untuk mengencangkan miss kalian." ucapnya dengan menatap sesuatu di bawah pusar keduanya bergantian, lalu terkekeh.


"Gila!" desis Cecilia yang langsung di sikut oleh sahabatnya.


"Hussst! Itu bakal bagus buat lo nanti."


***


Cecilia mendengus kesal, menatap Nita yang terus terkekeh saat melihat penampilannya yang kini berubah, rambut pirang miliknya kini sudah berganti menjadi hitam legam, juga tindikan hidung yang sudah di buka paksa oleh sahabatnya itu tanpa bisa menolak.


Keduanya keluar dari salon kecantikan milik perempuan yang mereka panggil madam tersebut, dengan gratis pula. Namun wajah Cecilia memperlihatkan ketidak sukaannya, selain penampilannya yang berubah dan tidak sesuai dengan kemauannya.


Sementara Nita terus terkekeh dengan mengacungkan kedua jempol ke arahnya, "Lo makin kece, lumayan lah bikin pangling."


"Sialan lo! Ini bukan gue banget Nit!"


"Udah deh. Lo kalau mau gue bantuin ya harus nurut! Yuk cabut." ujar Nita menariknya keluar.


Keduanya lantas pergi ke mall, keluar masuk toko pakaian mencari sesuatu yang berbeda.


Nita memilih banyak pakaian untuk Cecilia, walaupun gadis itu merengut karena lagi lagi fashion yang dipilih untuknya tidak sesuai dengan jati dirinya, namun dia juga tidak bisa menolak karena dia sendiri yang meminta bantuan Nita.


"Nit! Lo ngerampok gue!" Ucapnya saat melakukan pembayaran di kasir, lebih dari 10 setelan yang dia beli cukup menghabiskan uangnya.


Nita terkekeh, "Lo mau berhasil kan?" Cecilia menganggukkan kepalanya, "Ya udah nurut."


Dia hanya mendengus kesal dengan beberapa paperbag yang kini di bawanya, sedangkan Nita melenggang keluar begitu saja.


Mereka mampir untuk makan siang yang terlambat, dengan wajah Cecilia yang masih terus mengkerut, dia terus menuruti Nita walau gadis itu masih belum menceritakan rencananya.


"Sekarang lo jawab gue! Abis ini ngapaian? Rencana lo apa?" Cecilia memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Makan dulu lah ... Gue laper!" ucap Nita menyuap nasi di piring miliknya.


Cecilia lagi lagi hanya bisa mendengus, "Awas aja kalau gagal! Gue sumpel mulut lo pake ini!" ujarnya dengan menunjuknya dengan garpu.


Tak berselang lama, keduanya kembali pulang ke apartemen Cecilia, barang bawaan sebegitu banyaknya dan hanya di bawa oleh Cecilia sendirian.


"Nit! Tega lo sama gue, bantuin napa?"


"Ogah! Itung itung lo latihan. Dah ayo, gak usah rewel." Nita kembali melenggang pergi dan membiarkan Cecilia kerepotan seorang diri.


Security yang melihatnya pun buru buru menghampirinya.


"Apa anda perlu bantuan?"


Cecilia menoleh, "Pak Dika! Kebetulan pak. Tolong bawa ini ke atas yaa. Aku pegel nih."


Security itu mengernyit, menatapnya dengan heran.


"Pak! Malah bengong."


Dika mengangguk, walaupun dia sendiri tidak yakin harus mengantarkannya ke unit mana, karena Cecilia memang benar benar berubah dengan penampilannya.


Cecilia baru saja sadar saat memasuki lift, Dika yang tidak menekan nomor lantai justru bertanya padanya.


"Bapak gak ngenalin aku?"


Securty baru sadar saat Cecilia tertawa, "Ya ampun Non Cecil ...!"


"Astaga pak! Baru sadar kalau ini aku."


"Iya Non ... habisnya berubah sekali mukanya,"


"Lebih cantik ya pak!" Cecilia terkekeh lagi.


"Iya gitu Non ... Pangling pokoknya!"


Segini aja udah bikin pangling, apa kabar kalau gue udah pake baju yang tadi dibeli. Udah kayak teller bank aja.


Lift terbuka, Nita berdecak saat melihat Cecilia tertawa bersama security tersebut.


"Ce ... Buruan!"


Keduanya masuk kedalam unit Cecilia, dan barang bawaan yang di bantu oleh Security apartement.


Setelah Pak Dika keluar, Cecilia menoleh ke arah Nita lalu terkekeh memegang kedua pundak sahabatnya itu.


"Nit! Gue bener bener berubah ya! Pak Dika sampe pangling lihat gue,"


"Gue bilang juga apa! Baru nyadar kan lo!"


"Terus rencana lo apa?"


"Lo bakal tahu besok! Sekarang gue mau istirahat dulu, cape banget gue." ujar Nita melenggang masuk kedalam kamar.


Cecilia beedecak kesal, dia menyusul Nita ke dalam kamar dan menarik tangannya agar kembali bangun.


"Nit!! Lo ih ... Ngomong sekarang juga bisa kan! Pake besok lagi. Anjim banget sih lo."


.


.


Hayolooo apaan rencana lo Nita buat si rusuh Cece ... Anjim banget dia hebohnya.