
Cecilia tertegun, apa yang di katakan Irsan, kenapa harus khawatir pada orang tuanya.
"Apa yang kau bicarakan. Kenapa dengan Ibuku?" tanyanya heran, sudah lama dia tidak menghubungi Ibunya.
Irsan mengulas senyuman, menggenggam tangan Cecilia dengan lembut. "Setelah aku kembali dari Singapure, aku akan mengurus pernikahan kita."
"Pe---pe ... apa. Pernikahan? Kita?!" kedua mata indahnya mengerjap ngerjap saking tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kita. Menikah?"
Irsan mengangguk, "Kau tidak mau?"
Ingin sekali dia langsung berteriak dan mengatakan kalau dia sudah pasti mau, tapi,
"Tunggu ... Menikah? Kita?" ulangnya memastikan.
"Hm ...!"
"Ibu ... Maksudku ....."
"Justru Ibu yang lebih dulu mengatakannya," Kedua bahu Irsan terangkat, "Kau tahu apa yang dia katakan?"
"Apa?" Masih tidak percaya dengan apa yang Irsan katakan.
"Dia ingin kau jadi menantunya." Bibir Irsan terkulum sempurna, dengan tatapan nanar dan meneduhkan.
"Benarkah?" Cicitnya sungguh tak percaya.
"Hm ... Tapi setelah aku menyelesaikan pekerjaanku."
Cecilia masih mematung, dengan menatap pria yang berada di depannya, seakan waktu berhenti berputar tiba tiba, bak sejuta percikan kembang api menyala bersamaan, dengan puluhan ribu kupu kupu beterbangan mengelilingi dirinya saat ini.
Bahagia? Mungkin inilah definisi bahagia yang baru dia ketahui, bayangan gaun putih menjuntai indah menyapu altar, dengan pria yang menggenggam hangat jemarinya.
"Hei ... Kau kenapa?" Irsan melambai lambaikan tangan ke arah wajah Cecilia yang bahkan tidak berkedip. "Apa kau terlalu bahagia sampai tidak bisa bicara lagi?"
Gadis berambut panjang itu berhambur memeluk t7bih Irsan yang tinggi lalu menangis tersedu sedu.
"Hey ... Kenapa malah menangis, bukankah kau harusnya bahagia?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, lalu mengangguk lirih, entah apa yang bisa diucapkan untuk mengungkapkan kebahagiaan yang kini dia rasakan.
"Sudah jangan menangis lagi, mereka akan mengira aku berbuat jahat dan membuatmu menangis!" Irsan merengkuh pundak Cecilia, dia juga mengangkat dagunya ke atas. "Kau mau menikah denganku kan?"
Tentu saja Cecilia mengangguk, kembali menabrakkan dirinya ke dalam pelukan Irsan.
Irsan mengulas senyuman, "Kalau begitu jangan lagi menangis. Hm ...! Kita akan mempersiapkan semuanya setelah aku kembali dari singapure."
Cecilia mengangguk lagi, kali ini pelukannya semakin mengerat pada pinggang Irsan. Masih tidak menyangka kalau dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara seperti ini.
***
Akhirnya keduanya keluar dari ruangan, semua urusan Irsan di rumah sakit pun sudah selesai, dia juga tengah mempersiapkan semuanya terlebih mentalnya karena sebentar lagi akan bergabung di perusahaan peninggalan sang kakek.
Berbeda dengan Embun, wanita paruh baya yang kini telah kembali pulang ke rumahnya itu duduk termenung menatap pigura dengan foto suaminya.
Helaan nafasnya terdengar berat dengan kedua pipinya perlahan basah.
"Maafkan aku yang selama ini justru pergi dan tidak peduli padamu dan juga anak kita. Tapi sekarang aku pulang, aku ingin menebus semua kesalahan kesalahan ku padamu dan juga Irsan. Maafkan aku karena membutuhkan waktu sangat lama untuk kembali menyembuhkan luka hati yang aku sendirilah penyebabnya." gumamnya dengan mengelus poto seorang pria berjubah putih yang tengah tersenyum itu. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan Irsan, namun sifatnya sungguh berbeda. Dia sangat ramah dan supel, sedangkan Irsan sebaliknya.
Seseorang masuk kedalam setelah mengetuk pintu, berdiri dibelakangnya dengan kedua tangan yang dia tangkupkan.
"Tante!"
"Bagaimana?"
"Aku sudah menemukan mereka, kita bisa pergi sekarang."
"Baiklah, tunggu di luar Carl ... Aku akan siap siap dulu."
Carl kembali keluar dari kamar Embun, dia terlihat mengotak ngatikkan ponsel milikinya sembari menunggu Embun keluar dari kamar.
Suster pun masuk untuk membantunya, tak lama keduanya keluar dan segera menghampirinya.
"Kita pergi sekarang!"
"Iya Tante, mobil sudah aku siapkan, apa tidak sebaiknya kita tunggu Irsan saja?" Ujar Carl saat mengikuti langkah Embun yang berjalan di depannya.
"Tidak usah. Dia akan semakin sibuk nantinya."
Carl hanya bisa mengangguk saja, walau dalam hatinya ada sedikit penyesalan karena nyatanya Embun lebih gegabah dari pada gadis bar bar yang tadi pagi memukulnya.
"Kau dalam masalah besar kali ini Irsan!"
.
.