I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.259(Tega sekali)



"Wanita bodoh ini istrimu?"


Trak!


Kini bukan cuma bolpoin yang melayang, tapi papan nama Irsan yang mengenai kepalanya. Membuat Tristan tersentak kaget dengan serangan tiba-tiba dari seniornya itu.


Tristan tidak tahu, ucapannya benar-benar membuat Irsan marah.


Argghhk!


"Jangan sembarangan bicara! Kau tidak mengenal istriku, kau juga tidak kenal dengan sepupuku. Jadi berhenti mengatakan dia bodoh!"


"Senior arrggrh ... Sial sakit sekali!" Gumamnya dengan menggosok keningnya yang kini terluka,


Ujung tajam papan nama yang langsung menghantam mengenai dahi Tristan.


"Aku masih bisa sabar hanya karena mendengarmu mengatakannya satu kali! Tapi jika aku sampai mendengarnya lagi, bukan hanya dahimu yang luka. Aku tidak akan segan untuk membuat mulut besarmu itu tidak lagi berfungsi dengan baik!" tukas Irsan kesal. Dia tidak akan membiarkan orang lain menghina istri dan juga sepupunya.


"Maafkan aku senior, aku hanya tidak menyangka saja jika mereka adalah istri dan sepupumu, tingkah mereka yang gegabah tanpa berpikir panjang dalam melakukan hal itu!" Tristan mencoba lebih bicara dengan bahasa yang halus.


Irsan melipat kedua tangan di dadanya, "Sebelum kau menyalahkan mereka, setidaknya kau harus tahu apa salahmu. Mereka tidak akan berbuat seperti itu jika kau tidak melakukan sesuatu semaumu! Jadi sebelum menilai orang lain buruk maka berkacalah!"


"Baiklah ... Baiklah senior, aku minta maaf. Aku tahu aku salah karena parkir sembarangan." Tristan mengakui kesalahannya dengan cepat dan tidak mengelak maupun membela diri.


"Seharusnya aku tidak menyalahkan mereka, aku yang harusnya minta maaf. Oke Senior! Kau mau memaafkan aku kan? Jangan marah lagi ... Karena kau menyeramkan!" ujarnya lagi dengan takut.


"Aku tidak marah!"


"Kau tidak marah saja membuat dahiku berdarah, apalagi kalau kau marah senior. Oh god benar benar hari penyambutan."


"Sudahlah, sekarang ambil barangmu dan segera ke ruanganmu!"


Tristan masih belum beranjak juga padahal beberapa kali Ihsan mengajaknya untuk pergi dia akan menempati ruangan praktek yang selama ini ditempati oleh dokter Aji, di sanalah dia akan menggantikan dokter yang tidak memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Rumah sakit, khususnya pelayanan kepada orang lain.


"Tidak bisakah kita minum teh atau kopi sebelum bekerja? Hari ini hari pertamaku di sini, dengan sambutan yang sungguh luar biasa ini,"


Irsan ngelirik jam tangan di pergelangan tangannya, memang waktunya untuk beristirahat. Dia pun mengganti jubah putih kebanggaannya dan menggantungkannya.


"Kau masih marah padaku Senior? Aku akan minta maaf pada Istri dan sepupumu, aku fikir ini hanya salah faham saja dan aku akan memperbaikinya." tukasnya lagi.


"Sudahlah, lakukan itu nanti! Bukankah kau ingin minum kopi di hari pertamamu di kota ini." seru Irsan datar.


"Hah ... aku benar benar mati gaya olehmu! Kau memang hebat, tadi marah tapi sekarang tidak, tapi raut wajahmu tidak berubah!"


"Banyak omong!" Irsan terus melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit, tempat yang paling jarang dia kunjungi karena Irsan lebih suka memasak dibandingkan makan di luar.


"Oh ayolah. Apa kau hanya akan membawaku ke kantin Rumah sakit?"


"Kau ingin kemana. Jangan banyak tingkah!"


Keduanya masuk ke dalam kantin Tristan langsung duduk di tempat yang paling dekat dengan pintu sementara Irsan menyuruh seseorang untuk mengambilkan segelas kopi untuk Tristan, pria berusia 40 tahun itu bahkan tidak bertanya jenis kopi apa yang Tristan inginkan. Setelahnya Irsan duduk di hadapannya.


"Aku berharap kita pergi satu tempat, cafe atau semacam itu coffe shop. Kalau hanya kantin rumah sakit kapan-kapan juga bisa, kita akan berada di sini sepanjang waktu!"


"Kau ini tidak tahu terima kasih!"


"Oh ayolah Senior! Aku kema---" ucapan Tristan terhenti saat tiba-tiba ponsel Irsan berdering.


Pria itulangsung menempelkannya di samping telinga. 'Ya ... Oke, aku akan ke sana!'


Irsan langsung bangkit, dia juga mengeluarkan satu lembar uang dari dalam dompet dan menyimpannya di atas meja.


"Aku sudah memesan untukmu, aku pergi dulu!" tukasnya dengan melengos pergi.


"Hey Dokter Senior, kau biarkan aku minum sendiri di sini sementara kau pergi, hah?" teriak Tristan.


Irsan kembali menoleh, "Ya ... Untuk apa aku minum kopi berduaan denganmu!"


"Ah ... Senior, ayolah ... Untuk apa aku mengikutimu sampai kemari tapi kau sendiri pergi!"


"Terserah! Bukankah kau hanya ingin minum kopi? Minumlah selagi kau masih santai. Aku pergi dulu!" pungkasnya dengan helaan nafasnya.


"Senior ... Kau ini tega sekali padaku!"