
Ketiganya saling memandang secara bergantian, saling menerka nerka dan menduga duga.
"Apa Cecilia memiliki kenalan orang penting, atau orang yang berpengaruh besar terhadap semua ini?" cetus Ines membuyarkan keheningan.
"Aku rasa tidak! Yang dia fikirkan selama hidupnya hanya uang dan uang. Dia tidak akan peduli latar belakang seseorang." jawab Irsan dengan mendudukkan bokongnya di sofa, berada di tengah tengah antara Carl dan Ines.
Carl mendengus, posisi Irsan menghalangi pandangannya terhadap wanita cantik yang masih berusaha move on itu.
"Oh ya? Aku rasa dia tidak sesederhana itu." sela nya dengan mendengus.
"Kau tahu apa. Aku yang mengenalnya dibanding kau!"
Carl berdecak, "Aku tahu walau hanya melihat tatapannya saja, aku ini sangat mengenal berbagai jenis wanita. Kau lupa julukanku? Aku ini pecinta wanita."
"Terserah kau saja Carl. Yang pasti jangan macam macam dengannya." liriknya pada Ines, sikap posesifnya muncul terhadap satu satunya sepupu yang dia miliki. "Kalau tidak kau akan tahu akibatnya."
"Sudah. Kenapa kalian jadi ribut soal yang tidak penting, kalian lupa di sini apa yang sedang kita bahas!" Ines ikut bicara saat keduanya mulai merembet kemana mana, "Dan kau. Jangan urusi aku ... Termasuk hal privasiku. Aku tidak mau semua kacau lagi. Mengerti?" ujarnya pada Irsan.
Carl mencibirnya lalu terkekeh, sementara Irsan mendengus kasar.
Melihat tatapan Irsan, Carl meraih kembali laptop dan kembali pada persoalan. "Oke kembali bekerja. Apa yang harus aku lakukan sekarang."
"Kau bisa mencari tahu siapa yang Cecilia temui dan mintai bantuan."
"Oke ... Tunggu sebentar!"
Carl mengotak ngatik kembali laptop miliknya, dengan keahlian mumpuni yang dia miliki, menerobos sistem keamanan perusahaan milik Irene, mencari tahu dan juga mencari akar dari permasalahan ini bukan hal besar untuknya. Namun berbeda saat bekerja dengan Irsan yang selalu taat aturan, dia selalu berhati hati.
"Kau tidak berniat bergabung?" cicitnya pada Irsan namun kedua pandangannya masih tertuju pada layar laptop yang terus menyala.
"Tidak! Sudah ada kau di sana. Aku bisa mengandalkanmu selama kau bekerja dengan baik."
"Memangnya selama ini aku tidak baik? Hanya padamu aku bersikap baik selama bekerja, aku tidak macam macam." dengus Carl tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sudahlah ... Kau tidak perlu meracuniku. Aku tetap pada pendirianku. Dulu dan sekarang. Menjadi Dokter adalah cita citaku."
"Lalu hubunganmu dengan ibumu?"
"Itu urusanku bukan urusanmu."
Ines terkekeh mendengarnya, "Sudahlah Carl ... Kau tidak perlu membujuknya, dia perlu alasan yang kuat untuk kembali, ibunya saja tidak bisa membujuknya apalagi kau."
Carl baru menoleh itu pun hanya pada Ines saja, "Ya kau benar cantik. Aku salah bicara, ku fikir dia akan kembali satu hari nanti. Dan membiarkanku menghirup udara bebas."
Ines kembali tertawa, sementara Irsa mendengus ke arahnya, "Jangan mulai Nes!"
"Oh ya ... Apa Cecilia baik baik aja? Maksudku dia tidak bersedih, atau menangis karena hal ini. Aku akan menemuinya dan menemaninya." Ines bangkit dari duduknya.
Namun Irsan mencekal lengannya dan membuaynya kembali duduk, "Tidak usah. Dia baik baik saja. Dia masih bisa tertawa dan menertawakanku."
Kali ini Carl yang terkekeh, "Sudah ku bilang. Gadismu luar biasa. Dia seperti kucing, menggemaskan dan lucu, tapi sekali ekornya terinjak, dia menggigitmu sampai berdarah."
Irsan menatapnya dengan tajam, menyamakan Cecilia dengan seekor kucing sama sekali tidak tepat. Terlebih mengingat apa yang Cecilia perbuat tempo hari padanya, memberinya minuman perang sang dan membuatnya dalam masalah besar, namun pada akhirnya dia sendiri.yang kewalahan dan menyesal.
"Kau fikir lucu?"
"Ya ... Kau fikir apa. Oh aku lupa, kau lebih mengenalnya daripada aku. Jadi kau nilai sendiri dan cari perumpamaan yang lain." Jawab Carl masih dengan terus terkekeh.
"Binggo! Aku menemukannya. Mr Orlan, Pria berusia 60 dengan kekayaan mencapai 8,5 miliyar dan menduduki peringkat ke 8 sebagai orang terkaya di negeri ini, memiliki 40 persen saham di perusahaan batu bara yang kini di pimpin oleh Irene, tapi...!" Carl menjeda ucapannya, kembali mengotak ngatik laptopnya. "Dia terkena alzhemer sejak setahun lalu, dan tengah menjalani perawatan. Aneh ... Apa yang dia bisa lakukan, dia mungkin tidak akan ingat uangnya."
Ketiganya terdiam, membayangkan sosok Orlan yang membuat Irsan semakin penasaran saja.
"Lalu bagaimana dengan gugatan Irene padanya?" tanya Irsan.
"Jo masih belum memberiku informasi, aku akan memastikannya lagi." cetus Carl lagi.
Irsan bangkit dari sofa, "Kalau begitu aku pergi dulu. Ayo Carl."
"Mau kemana? Pekerjaanku belum selesai."
"Ayo! Matikan laptopnya." Irsan menarik lengannya dan menyuruhnya bangkit. "Aku tidak percaya padamu soal yang satu ini."
"Apa?" Carl mengambil laptop dan dia masih di tarik tarik oleh Irsan."Ines yang cantik, aku pergi dulu. Aku masih harus mengurus sepupu manja mu ini." ujarnya lagi pada Ines serta melambaikan tangannya.
"Nes ... Aku pergi!" Irsan menarik Carl hingga keluar dari unitnya.
Mereka berdua berjalan ke arah lift, lalu menyuruh Carl masuk ke dalam lift.
"Kita mau kemana?"
"Kau pulang! Aku juga akan pulang."
"Hah?"
"Kau fikir aku akan membiarkanmu terus di sana, menggoda Ines begitu? Tidak akan ku biarkan Carl."
"Kau ini pelit sekali. Aku dan dia sama sama gagal berkencan, kami bisa saling mengobati Dokter Irsan!"
Irsan mendengus, menarik tangannya lagi saat lift terbuka dan membawanya keluar. Mereka berjalan di basement.
"Pulang sana!"
"Kau sampai kesini hanya untuk memastikan aku tidak kembali ke atas? Benar benar kau ini."
"Ya ... Sudah pulang sana. Dan pastikan Irene memcabut laporannya besok pagi. Kalau tidak, kau akan rasakan akibatnya." Irsan mendorongnya masuk kedalam mobil, dia bahkan yang membuka dan menutup kembali pintu mobil dan memastikan Carl melaju dan pergi.
"Sialan kau dokter!" gumamnya lalu menggelengkan kepala seraya melaju, melihat kelakuan Irsan yang menurutnya paling berbeda di antara teman temannya yang lain.
Setelah memastikan Carl pergi, Irsan kembali naik. Dia kembali ke unitnya di mana sekarang ditinggali Cecilia, karena masalah ini juga dia tidak sempat pindah unit dan masih terus tinggal bersama walau dia tahu jika terlalu beresiko kalau terus tinggal bersama. Iman dan kesabarannya yang akan terus di uji.
Irsan membuka pintu unit, masuk ke dalam dan mendapati Cecilia tengah berada di balkon. Tampak kacau dengan wajah resah.
"Kau belum tidur? Bukankah kau lelah."
Cecilia menoleh ke arah suara, "Gimana aku mau tidur! Aku gak bisa tidur."
"Kau pasti khawatir tentang besok, tentang laporan Irene padamu. Tenang saja. Aku akan pastikan dia mencabut laporannya. Kemarilah." Ucapnya dengan mengulurkan tangan.
Cecilia meraih tangannya, saling merekat disela jari jari besar Irsan, dia mengangguk kecil namun juga terkekeh.
"Tapi aku gak khawatir soal itu, aku baik baik aja. Semua akan normal kembali. Kamu juga gak usah khawatirkan aku. Aku gak bisa tidur karena aku gak nemuin minumanku." Terkekeh lagi, lalu memicingkan kedua mata melihatnya. "Kau pasti membuangnya. Iya kan."
"Cecilia. Astaga!"
.
.
Wkwkwk ... Abang, mending khawatirin othor aja. Atau cecelover yang udah kesemsem sama abang. Dari pada si Cece. Dia mah gak usah di khawatirkan. Justru abang tiang harus hati hati. Nanti dibikin nyetrum lagi sama dia. Wkwk