
Irsan yang sudah rapi dengan pakaiannya kini menuju dapur untuk menyiapkan makan malam yang dijanjikannya, dengan cekatan mengeluaran bahan bahan yang diperlukan untuk membuat masakan, dia juga membereskan barang belanjaan yang masih berada di atas meja, sesekali bibirnya melengkung tipis, saat mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama sang istri, hal yang dilakukan dengan sadar dan tentu saja sangat menyenangkan.
Sementara Cecilia sendiri masih belum selesai dengan bayangan-bayangannya serta fikiran yang terus melanglang buana kemana mana. Bernyanyi nyanyi kecil dengan riang walau sudah melai kedinginan.
"Hey ... Kau belum selesai juga?" Irsan menyembulkan kepalanya ke dalam kamar mandi. "Astaga ... Kau akan kedinginan, ayo cepat. Makan malam saja sudah akan siap, dan kau masih belum selesai juga." sungutnya dengan menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.
Cecilia hanya terkekeh, dia mengambil bathrobe yang disodorkan Irsan padanya, lalu bangkit dan mulai membilas tubuhnya dengan air bersih sementara Irsan mematung dengan kedua tangan yang dilipatkan di depan dadanya.
"Kenapa kamu disitu? Ayo keluar dulu," tukas Cecilia yang merasa tidak nyaman ketika terus di lihat suaminya sendiri, "Jangan bilang kau ingin lagi." kekehnya yang membuat Irsan tersenyum.
"Bukankah kita baru melakukannya tiga kali, belum sepuluh, dua puluh bahan seratus." Irsan tertawa.
Cecilia menyipratkan air padanya namun Irsan menghindarinya dengan cepat. "Itukan hanya ibarat saja, eeh bukan bukan, hanya perumpaan aja," kilahnya dengan terkekeh. "Aku lapar dan aku lelah." cicitnya lagi dengan kedua mata yang mendelik ke arahnya.
Irsan tertawa lalu menggelengkan kepalanya, entah apa yang dia fikirkan saat itu, kemudian kembali keluar dari kamar mandi.
"Dih laki aneh, irit banget kalau udah ngomong. Jawab apa kek." keluh Cecilia yang kembali meneruskan aktifitas bersih bersihnya.
Harum masakan sudah menyebar kemana mana, membuat Cecilia yang sudah lapar itu berhambur ke arah meja makan dengan bathrobe dan gulungan handuk yang masih membungkus rambutnya.
"Wangi banget," serunya dengan duduk di kursi,
"Pakailah pakaianmu dengan benar sayang." cetus Irsan yang menyimpan piring berisi ikan asam manis yang masih mengepul panas.
"Kalau makan dulu emang gak boleh? Aku lapar sayang." sahutnya dengan mencuil sedikit daging ikan .
"Kau hanya akan menggodaku kalau kau seperti ini, dan itu dipastikan akan membuatmu semakin lama makan nanti, kau mau?" terang Irsan yang menggelengkan kepalanya saja.
Karena hal itu cukup mudah dilakukannya sekarang, mengingat Cecilia yang hanya memakai bathrobe. Dengan satu tarikan saja tali bathrobe itu akan terbuka dan memperlihatkan tubuh Cecilia yang polos di dalamnya.
Cecilia menatap ke bawah, dimana paha putih miliknya yang tersingkap dengan jelas dan juga bathrobe yang dikenakannya, lalu beralih pada Irsan yang menatapnya dengan kepala terangguk angguk kecil serta bibit melengkung tipis.
Melihat sang istri yang masuk ke dalam kamar membuat Irsan tertawa geli, bukti nyata jika gadis berusia 20 tahun itu cukup kewalahan dengan aksi nya di atas ranjang. Sampai beberapa saat kemudian Cecilia kembali keluar dengan pakaian dan wajah yang sudah segar, namun Irsan menggelengkan kepala saat rambutnya yang masih bercucuran air itu dibiarkan nya begitu saja.
"Astaga ..."
Cecilia terkekeh, "Laper sih."
"Kemarilah dan makanlah sepuasmu." Irsan tertawa kecil, seolah yang dia lihat adalah seorang anak kecil yang kelaparan.
Cecilia tentu saja mengagguk, lantas dia duduk dan langsung menyendok nasi. Tidak peduli dia makan di jam malam yang biasanya paling dihindari seorang wanita. Sementara Irsan justru masuk ke dalam kamar dan kembali keluar dengan handuk kering serta hairdyer.
Alih alih makan malam malam bersama, Irsan justru mengeringkan rambut Cecilia, dengan menggosoknya pelan meggunakkan handuk kecil yang sengaja dibawanya,
"Ayo makan Mas." kekeh Cecilia yang selalu merasa geli sendiri saat memanggil panggilan itu pada suaminya, walau Irsan sendiri terlihat tidak begitu peduli pada panggilannya.
"Aku seperti seorang suami yang merangkap jadi ayah, dimana putrinya ini sangat nakal dan bandel sampai rambutnya masih bearantakan seperti ini." ujar Irsan yang sedang menyisir rambutnya.
Cecilia tertawa, menoleh ke arah belakang dengan mulut penuh makanan.
"Kamu pasti jadi ayah yang baik nanti. Jadi sebelum kamu nanti sibuk mengurus anakmu, sekarang kau harus lebih dulu sibuk ngurusin aku. Iya kan?" kelakar Cecilia.
"Kau mau saingan dengan anakmu sendiri. hm?"
"Buat dapetin perhatianmu? Kenapa enggak." sahutnya lagi dengan asik makan sendiri.
"Berarti kita harus cepat membuatnya,"
Cecilia mengangguk angguk kepala tanpa sadar, namun segera menoleh lagi ke arah Irsan,"Membuat apa?"
"Ya anak ... Apalagi!"