
Semburat jingga melukis langit pagi itu, sayup sayup angin semilir menerobos masuk ke dalam celah jendela dimana Irsan masih terlelap dengan bergelung selimut. Sedetik kemudian kedua matanya mengerjap, dengan tangan menyisir ranjang di sebelahnya.
Ah, rasanya semalam dia sangat kelelahan sampai dia tidak ingat jika dia sudah ber pindah ke kamar dan kembali tertidur. Dia juga tidak ingat kapan Cecilia keluar dari unitnya.
"Dasar gadis nakal!" desisnya dengan bibir terangkat keatas, mengingat sosok menakjubkan yang telah membuatnya jadi pria brengsekk dalam hitungan jam karena melakukan hubungan tanpa ikatan suci. "Aku telah menjaganya selama 40 tahun. Dan hilang begitu saja dalam semalam." ujarnya menyibak selimut dan tersentak kaget karena dirinya masih polos tanpa kain satu pun. "Persetan!" ujarnya lagi turun dari ranjang.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka seketika dan lengkingan suara Ines mengagetkannya.
"Aaaagghhkk!! Sialan, kau membuat mataku ternoda Irsan."
Bruk!
Ines menarik kembali pintu kamar dengan keras, "Sial sekali aku dari kemarin! Sudah ditinggalkan begitu saja di klub, dan sekarang melihatmu telanjang seperti tarzan. Kau benar benar sudah gila!"
Irsan yang terpaku mengerdikkan bahu, dia juga merasa heran karena sampai lupa memakai pakaian karena dia sangat kelelahan semalam.
"Kenapa kau kemari?" tanya Irsan datar, menyambar bathrobe dan mengenakannya. Lalu dia berjalan keluar dari kamar dan melihat Ines tengah berdecak dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Kenapa aku kemari? Sudah jelas aku khawatir padamu, kau benar benar gila, kau minum tiga gelas tequila dan membawa gadis itu pergi begitu saja, sedangkan aku ... Kau tinggal begitu saja di sana. Menyebalkan."
Irsan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bersalah karena meninggalkan Ines begitu saja semalam, namun saat ini Ines masih banyak bicara dan terlihat baik baik saja sudah membuatnya tenang. Lantas dia kembali mengayunkan kedua kakinya ke arah meja makan dan menuangkan air putih lalu menenggaknya.
"Tidak udah khawatir! Aku baik baik saja. Bahkan sangat baik!" ujarnya dengan tersenyum, tentu saja bayangan percintaannya semalam kembali hadir di kepala, membuat hatinya dipenuhi bunga bunga bermekaran juga wajah berseri seri.
"Sangat baik?" Ines menelisik ke arahnya, memperhatikan wajah Irsan yang berseri seri. "Kau?"
"Apa? Jangan berfikir negatif, tidak ada yang kami lakukan semalam." kilahnya dengan memutarkan tubuhnya membelakangi Ines.
"Kau semakin mencurigakan setelah mengatakan hal itu. Memangnya aku tanya apa?"
Irsan menelan saliva, kebohongan pertama yang justru membuat Ines semakin curiga karena penuturannya yang aneh.
"Lupakan!" Ucapnya kembali masuk kedalam kamar dan menutupnya.
"Dasar aneh! Aku kemari untuk bertanya tentang rencananya semalam, bodoh sekali aku! Aku rasa aku gagal mendapat mobil itu." Ines menghela nafas, "
Beberapa saat kemudian Irsan keluar dari kamar dan sudah terlihat rapi dengan wangi farpum menyegarkan indera penciuman Ines. Gadis berusia 27 tahun itu kembali memicing saat kakak sepupunya itu semakin mencurigakan.
"Kau masih disini? Tidak pergi bekerja hari ini?" tanyanya dengan terus menggulung kemeja sampai sebatas lengan.
"Aku bisa sesuka hati bekerja, toh aku bisa mendesain dress dimana saja, butik juga milikku sendiri."
"Oke baiklah. Nona pemilik butik!"
Ines terperangah mendengar ucapannya, selama ini Irsan cukup serius dan jarang sekali berkelakar yang tidak jelas seperti itu. Nyaris tidak pernah.
"Kau aneh sekali!" ujar Ines yang menghampirinya, dia menepis satu tangan Irsan yang tengah menggulung kemeja dengan susah payah. "Biar aku saja!" ucapnya lagi. "Dulu aku paling senang kalau menggukung kemejamu saat kecil. Kau pasti mencariku hanya untuk menggulungkan kemejamu seperti ini."
"Ya ... Dan kau akan sengaja membuatnya berantakan, sampai aku terlambat pergi ke kampus." jawab Irsan dengan mengacak pucuk rambut Ines.
"Heh ... Apa yang kau lakukan! Sudah makin aneh kau ini! Sepertinya telah terjadi sesuatu semalam antara kau dan dia sampai sampai kau menjadi semakin aneh begini."
"Aku harus pergi! Ada operasi pagi ini."
"Heh ... Tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku." Ines menyusuli langkahnya.
Irsan yang sudah membuka pintu tersentak kaget saat melihat Cecilia berdiri didepan pintu dengan wajahnya yang cantik dan juga tersenyum manis.
"Pag----"
"Kau tidak bisa pergi gitu aja sebelum menjawab pertanya----" Ines tersentak kaget sampai hampir menabrak punggung Irsan didepannya saat melihat Cecilia.
Begitu juga dengan Cecilia yang terperangah melihat ke arahnya. Sementara Irsan mengulas tipis senyuman di bibirnya saat keduanya terpaku ditempatnya masing masing.
Ines merangkul Irsan, dia melingkarkan tangan di lengannya dengan mesra. Aku harus berhasil membuatnya cemburu demi mobil Irsan, setelah semalam gagal walaupun aku tidak tahu Irsan membawanya kemana dan apa yang terjadi pada mereka.
"Sayang ... Walaupun semalam kau meninggalkanku. Aku tahu kau punya alasan untuk itu." ucap Ines sembari kembali merapihkan gulungan kemeja di lengan Irsan. Membuat pria itu tersentak kaget dan menatapnya tajam.
Cecilia mengulum senyuman, dia benar benar menjadi bodoh karena berfikir Ines itu kekasih Irsan, hidup sebagai seorang simpanan membuatnya terbiasa melakukan sandiwara.
Ines menatapnya tajam, "Kau hendak menemui kekasihku?"
"Nes!"
"Iya, hanya untuk mengantarkan pesanan!" jawabnya dengan menunjukan paperbag kecil berisi dua cup kopi yang masih panas, dengan bodohnya lagi dia menyodorkannya pada Irsan, "Kau bisa membayar cash seharga 100 Rp."
Irsan mengernyit dengan tingkah kedua gadis yang sama sama bersandiwara itu, tanpa ingin menyanggah maupun berkata apa apa. Ines mengangguk kecil, dia mengambil uang dari dompetnya lalu menyerahkannya pada Cecilia. "Nih ...!"
Paperbag sudah berpindah tangan, Cecilia mengangguk lalu berbalik pergi.
Dia itu perjaka ting ting, kenapa gak ngelakuin sama pacarnya itu, kenapa justru sama lo Ce? Bego banget lo, ngapain juga lo pergi gitu aja. Cecilia terus membatin seiring langkahnya yang kian menjauh.
Sementara Ines terkikik melihat wajahnya.
"Berhasil kan?"
Irsan menghela nafas, melangkah keluar dari unitnya begitu saja. Dia bergegas menyusul Cecilia walaupun dering ponselnya kini terdengar. Panggilan dari rumah sakit.
"Irsan!" teriak Ines, "Mobil gue mana?" ucapnya lagi dengan nada lebih rendah.
Irsan menyusul Cecilia yang sudah masuk kedalam lift, beruntung dia tidak terlambat dan langsung mencekal lengannya.
"Apa yang kau lakukan! Kau ingin ketauan pacarmu? Sudah lepaskan." ujar Cecilia menepiskan tangan Irsan. "Aku tidak mau cari ribut! Jadi profesional lah, kau bisa menjaga kekasihmu, dan kau juga bisa bermain main denganku nanti." ujarnya lagi menohok.
Niat hati ingin menjelaskan, Irsan justru mengeratkan gerahamnya karena perkataan Cecilia. Dia meraup wajahnya sendiri seraya bergumam.
"Brengsekk!"
.
...Wkwkwk sue kan lo tiang listrik, lo fikir Cece seserius itu suka sama lo walaupun kalian udah nganuh, no no no ... Cece masih cari untung di luar sana asal lo tahu, makanya ayo kasih tunjuk rekening lo deh. Hahaaha....