I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.27(Langkah Pertama)



"Hah?"


"Lihat saja kalau kau mau." Irene beranjak dari sofa, dia menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya. "Aku harap rencanaku berhasil, dengan mu yang aku yakin bisa membantu."


Cecilia kembali harus menelan saliva, dia paling tidak suka dengan situasi begini, walau dia sendiri tahu resiko dari pekerjaannya adalah tertangkap basah. Sikap Irene masih perlu di waspadai, berpura pura untuk menjebaknya atau memang benar benar tidak tahu.


"Tapi aku gak janji ya Tante, apa aku bisa bantu atau tidak!" lirihnya saat Irene membuka pintu keluar. Dia menoleh kebelakang sebelum benar benar keluar. "Lebih tepatnya gue kejepit ini." gumamnya saat Irene benar benar keluar dan menutup pintu.


Dia buru buru masuk ke kamar dan mencari ponselnya, seseorang yang pertama kali dia harus hubungi yaitu asisten Reno.


"Kalau benar dia diluar! Dia pasti bakal lama ngangkat telepon gue."


Sambungan terhubung, namun pemilik nomor masih belum menerima panggilannya. Cecilia berdecak lalu kembali menelepon lagi. "Dia emang dalangnya!"


'Halo Nona'


'Heh brengsekk! Lo bilang apa sampai Irene kesini dan bilang kalau gue bisa bantuin nemuin wanita lain itu!'


'Ikuti saja kemauan nyonya Irene, atau kita akan kena masalah nanti!'


'Heh ... Kau di luar kan! Atau sama Reno, mana aku mau bicara.'


Tidak ada sopan santun Cecilia saat bicara dengan Asisten Reno, dia satu satunya orang yang tahu jika Reno berhubungan dengan nya, namun sepertinya Cecilia juga tidak takut padanya.


'Tuan Reno sedang sakit! Itulah sebabnya nyonya datang ketempatmu, aku tidak punya pilihan lain karena Nyonya menemukan nomor lamamu dan juga kredit card yang sudah kau blokir.'


Tut


"Asisten sialan! Dia berani nutup telepon padahal gue belum selesai ngomong!" ujarnya dengan melempar ponsel ke atas kasur. "Untung banget kartu kredit dari Reno udah gue blok, mobil juga udah pasti dijual si Dirga! Buat sementara gue masih aman. Tapi---, aaah." Cecilia mengacak rambutnya kasar, merasa frustasi sendiri saat ingat Reno belum mengirimnya uang lagi minggu ini. "Gue sampe bingung! Gue itu sial atau beruntung!"


Cecilia tidak dapat memejamkan matanya semalaman, dia terus memikirkan solusi untuk keluar dari situasi rumit ini, menghabiskan satu botol wine sendirian dalam waktu singkat dan berakhir pulas di pagi hari.


Lagi lagi dia lupa kalau dia harus kuliah pagi, lupa kalau dia tengah menimba ilmu. Ahh sepertinya kampus hanyalah kedok saja, setiap materi perkuliahan tidak ada yang masuk ke dalam otak cerdasnya. Hanya uang dan uang yang bisa ada di fikirannya. "Anjim banget! Mendingan Tante Irene tahu yang sebenernya dan kesini marahin gue dan kasih duit yang banyak buat gue agar ninggalin Reno dari pada harus begini."


Bel kembali terdengar, dia turun dari ranjang dan menapaki lantai dengan sempoyongan.


Gadis belia yang dia janjikan pekerjaan berdiri dengan seragam sekolahnya, membawa kantung berwarna merah yang entah apa isinya.


"Lo?" desisnya saat membuka pintu. "Gue udah bilang kesini pas pulang sekolah." gumamnya lagi sambil melengos pergi.


"Heh kak ... Lo mabok ya! Ini gue pulang sekolah." jawabnya blak blakan.


Cecilia tertawa dengan menatap jam dinding yang menunjukan jam dua siang. Kembali ke kamar dan menjatuhkan dirinya lagi ke ranjang, dia tidak sadar hari sudah menjelang sore, dia bahkan lupa telah menjanjikan pekerjaan pada gadis itu sementara dirinya saja tidak memiliki pekerjaan.


"Bener! Gue mabok, lo duduk aja dulu! Sampe gue mikir kerjaan buat lo!"


"Astaga kak! Gue kira udah ada kerjaan buat gue!"


Cecilia kembali bangkit dengan kedua mata membola sempurna, merasa ilham tiba tiba datang ke kepalanya yang cerdas.


"Gue tahu kerjaan yang cocok buat lo saat ini! Siapa nama lo!"


"Sila ...!"


"Sila ke berapa!" celetuknya lalu kembali berbaring dengan tertawa.


"Gak lucu!"


"Emang gue fikirin! Dah lo diem dulu, sambil apa gitu." ujarnya lagi dengan terus menyempurnakan rencana jahat di otaknya.


***


Setelah kesadaran dirinya kembali pulih, dengan wajah segar dan juga riasan sederhana, dia baru keluar kamar dan mendapati Sila duduk didepan tivi, menonton acara gosip gosip selebrity ternama dengan sepiring roti yang telah kosong.


Sila berdecak, "Gue laper kak, sepulang sekolah belum makan dan nungguin lo bangun tidur lama banget. Sampai gue beresin rumah lo ini. Ya itung itung itu bayaran gue lah!"


Cecilia mengangguk, "Cerdas! Gue emang suka orang yang blak blakan kayak lo! Gak malu malu."


"Namanya juga Sila!"


"Tapi jangan malu maluin lo!" sentaknya lagi dengan tertawa, menghempaskan bokongnya di sofa.


Sila tersungut dengan menatap roti terakhir buatannya masuk kedalam mulut Cecilia, dia juga heran sikap Cecilia yang terbuka dan juga tidak merasa jijik terhadapnya.


"Kak ... Lo gak kerja?"


"Gue pengangguran!"


"Lah ... Terus? Gimana lo gaji gue nanti kalau lo aja gak punya kerjaan." Merasa dipermainkan, menatap Cecilia dengan tajam. "Lo gak bakal nyuruh gue nyuri kan! Lo bukan sindikat pencuri di mall kan kak!"


"Jangan bacot lo! Emang lo fikir gue apaan, gak level jadi sindikat pencuri di mall. Lebih tepatnya gue mandiri, gue kerja sendirian. Bukan sindikat!" jelasnya walaupun Sila pasti tidak akan mengerti.


"Mandiri. Emang lo kerja apaan?"


"Gak usah banyak nanya! Itu syarat pertama, kedua lo cuma harus ikutin arahan gue aja. Yang ketiga, lo Cuma Arahan gue. Paham lo!" terangnya penuh penekanan.


Sila mengangguk polos, dia yakin bisa bekerja apapun asal menghasilkan uang.


"Lo bawa apaan?" tunjuk Cecilia pada kantung berwarna merah yang di bawa Sila.


"Baju ganti!"


Cecilia mengambil bungkusan itu dan mengeluarkan satu persatu pakaian yang ada di dalamnya.


"Apaan nih!?"


"Baju gue kak!"


Cecilia berdecak, memasukkan kembali pakaian yang menurutnya sudah tidak layak pakai itu kedalam kantung dan melemparkannya begitu saja.


"Gak usah di pake! Modelnya udah ketinggalan banget! Udah cocok jadi lap aja." Ujarnya bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam kamar.


Dia mengambil beberapa helai pakaian dari dalam lemari dan memberikannya pada Sila.


"Lo pilih yang lo suka!"


"Serius kak?"


"Lo fikir muka gue lagi lawak! Itu karena baju gue udah katalog lama, jadi buat lo aja. Lo pasti cocok."


Sila melihat satu persatu helai pakaian yang serba kekurangan bahan itu. Dia mengernyit lalu menatap Cecilia.


"Coba aja dulu!"


Sila masuk ke kamar dan mengganti seragamnya dengan pakaian yang diberikan Cecilia, dia kaluar dengan menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.


"Kak?"


Cecilia mengulum senyuman dan menjentikkan jemarinya.


"Gue udah nemu kerjaan lo sekaligus langkah pertama gue!"


.


Ce ... Awas lo macem macem sama anak orang, mana anak di bawah umur lagi. Mau gue laporin lo ke komnas anak. wkwkwk