I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 30(Lama lama setres)



Cecilia mengumbar senyuman, tentu saja dia tidak mencari info yang Irene inginkan. Semua info bahkan jelas dia tahu secara detail, karena wanita yang dicari Irene adalah dirinya. Beruntung. Q Asisten Reno tidak memberikan informasi secara gamblang tentangnya pada wanita paruh baya yang mempunyai wajah teduh itu. Karena sudah pasti perintah Reno lebih utama daripada siapapun termasuk istrinya.


"Tante ... Aku gak bisa langsung bertanya kayak wawancara sama suami tante! Aku harus pelan pelan. Emangnya suami tante bisa langsung jujur sama aku. Enggak kan! Jadi tante harus sabar, ya." terangnya dengan mengelus lengan Irene, meyakinkan agar semua berjalan sesuai rencananya.


Irene menghela nafas, disertai anggukan juga bibir yang tersungging, dia mengerti jika kecurigaannya yang belum memiliki petunjuk apapun itu memerlukan waktu.


"Maaf! Aku fikir aku terlalu semangat mencari informasi itu." lirihnya dengan wajah risau.


"Tante tenang aja, yang penting suami ada di sini, segila apapun dia, toh dia tetap pulang ke rumah kan." Cecilia mengulum senyum terhangat di dunia walau itu hanya kepalsuan belaka.


Irene mengangguk, dia kembali melangkahkan kakinya menuju sofa di ruang tamu, sementara Cecilia mengikutinya dari belakang.


"Dan semoga kecurigaan tante itu tidak benar, aku rasa suami tante tipe setia."


"Tetap saja, aku masih meragukannya. Ditambah kami tidak memiliki keturunan, apa itu yang jadi alasan adanya pihak ke tiga?"


Cecilia menaikkan bahunya, "Aku rasa enggak deh Tante. Kalau Om Reno mau dia pasti melakukannya dari dulu," Cecilia berpura pura berfikir dengan tangan menyentuh dagunya sendiri. "Kalaupun benar, suami tante hanya main main saja."


Ucapan Cecilia benar benar membuat nyaman Irene, kecuali yang terakhir. Dia tahu bagaimana berhadapan dengan orang lain dan mengambil hatinya, apalagi jika mendapat keuntungan. Sekelas marketing esklusif pun sudah pasti kalah jauh kalau dibandingkan dengan keahlian yang dimiliki Cecilia dan bersilat lidah.


Irene tampak merenung, helaan nafasnya pun terdengar berkali kali. Gadis berambut pirang itu menggenggam tangannya. "Tante tenang aja! Aku akan pastikan semuanya. Ok"


"Terima kasih Cecil."


Dan ternyata butuh berhari hari untuk membuat rencana semakin matang, Cecilia setiap pagi datang ke rumah Reno sebagai suster yang pekerjaannya hanya menemani dan juga bercanda dengan Reno, memberikan sedikit demi informasi pada Irene berdasarkan karangannya sendiri. Irene pun tampak percaya dan hubungan keduanya semakin dekat.


Begiti juga dengan Sila, gadis berusia 13 tahun itu setiap hari datang ke apartemen Cecilia hanya untuk berdiam diri, tidak banyak yang bisa dilakukannya. Apartemen selalu bersih saat datang, pakaian kotor pun selalu ada petugas loundry yang membawanya.


"Gila lama lama gue bosan juga tiap hari ketemu tuh aki aki. Udah lima hari gue kesini terus dan ngelakuin hal yang sama." ujarnya melemparkan topi suster dan mengganti pakaiannya di ruangan yang diberikan Irene untuknya beristirahat. "Ini udah cukup! Gue gak mau lebih lama lagi." ujarnya lagi memandangi wajahnya sendiri di kaca.


Tak berselang lama dia keluar, berpamitan pada Irene karena ada sesuatu yang harus dia urus sebelumnya.


"Pokoknya tante tunggu kabar dari aku, hari ini aku akan mengurus semuanya sampai selesai."


"Kamu sudah menemukan wanita itu?"


"Saat ini belum, tapi aku bakal pastikan kita menemukannya, tante jangan kemana mana, apalagi bertindak sendiri karena aku takut semua berantakan lagi."


"Apa benar suamiku___"


"Tante! Tenanglah. Kita belum tahu motifnya." jelas Cecilia menenangkan wanita yang mudah sekali percaya itu.


Cecilia kembali ke apartemen, hidupnya selama lima hari sangat membosankan, melakukan hal yang sama dengan orang yang sama. Reno.


"Lama lama gue bisa setress!" gumamnya dengan masuk kedalam lift yang terbuka. Menarik nafas panjang disertai dengusan pelan. "Rencana gue buat deketin Irsan terganggu karena masalah ini." gumamnya lagi saat pintu lift hendak tertutup.


Dia benar benar baru ingat lagi pada Irsan setelah beberapa hari tidak bertemu dengannya.


Ting


Tak lama pintu kembali terbuka, membuat Cecilia melongo sebentar saat lift berhenti di lantai tiga. Berharap bertemu dengan Irsan. Namun nihil, pintu lift kembali tertutup setelah beberapa orang masuk kedalam.


"Nyebelin, harusnya kalau udah pernah ciuman, dia nyari gue, minimal ngenotice gue apa kek. Ini gak sama sekali. Dasar tiang listrik!"


Cecilia mendumel sendiri saat mengingat Irsan tidak bergerak sama sekali setelah pertemuan terakhir mereka, lebih tepatnya ciuman panas itu tidak membuat Irsan penasaran.


Setelah lift terbuka, gadis bertindik di hidungnya itu keluar dan segera mengayunkan langkahnya ke dalam unit nya sendiri.


"Akhirnya lo balik kak! Gue kesel nih sendirian terus. Mana gak ada kerjaan lagi." tukas Sila saat Cecilia baru saja masuk.


"Gue sibuk!"


Cecilia masuk ke dalam kamar, dan Sila mengikutinya masuk. Gadis itu terus menatap pergerakan Cecilia, mulai dari melempar tas selempang miliknya, melemparkan ponsel ke atas ranjang dan berakhir dengan menghempaskan dirinya di atas ranjang.


"Kak ... Lo tiap hari begini?"


"Begini apa maksud lo?"


"Ya gini, lo sembarangan lempar lempar barang. Tapi kenapa rumah lo rapi terus. Heran gue." Sila bersandar diambang pintu dengan kedua tangan melipat. "Terus kerjaan gue apa?" ujarnya lagi dengan sedikit kesal.


Cecilia menghela nafas, dia bangkit dan duduk di atas ranjang. Kedua matanya menatap gadis kecil itu itu dari atas sampai bawah.


"Sini lo!" ajaknya dengan menepuk kasur.


Sila berjalan mendekat dan menuruti perintah Cecilia.


"Lo harus inget ini tugas lo yang pertama, kalau lo berhasil di tugas ini. Gue kasih lo dua jempol dan juga duit, dan kesempatan dapet tugas tugas lainnya. Tapi kalau lo gak berhasil, gue bakal ambil semua duit yang gue kasih sama lo."


Sila tersentak mendengarnya, bagaimana mungkin mengembalikan uang yang sudah diberikan, apalagi uang itu sudah dia berikan pada ibunya.


"Kok gitu sih! Pake di ambil lagi! Duitnya kan udah gue pake kak."


"Kalau gitu gak ada pilihan lain kan? Satu satunya cara ya lo harus berhasil."


Sila bertambah kaget saat mendengarnya, semua terdengar seperti sebuah ancaman yang tidak bisa dia tolak lagi. Tapi apapun pekerjaannya, yang penting bisa mendapatkan uang.


"Tugas lo hanya bilang iya dan terakhir harus bilang tidak. Jangan bilang apa apa selain dua kata itu! Lo ngerti?"


Sila menggelengkan kepalanya, ulangan sekolah saja rasanya masih bisa dia mengerti dibandingkan ucapan Cecilia.


"Bego dasar! Gue bilang lo hanya harus bilang iya dan tidak di akhir pertanyaan saja, jadi lo gak usah bilang apa apa kala gak di tanya."