I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.280(Deep talk to nature)



Irsan mengangguk, mengulas senyuman ke arah pelukis yang dia sewa khusus. Sementara Cecilia tampak tersipu malu dengan kedua mata yang berkaca kaca. Tidak pernah terfikirkan moment sederhana naamun terasa sangat spesial itu. Dan saat melihat hasil goresan tangan sang ahli di dalam kanvas membuatnya mengharu biru dan hampir menangis.


"Ini untuk kenangan yang akan kita ceritakan pada anak anak kita kelak." Irsan mengambil kanvas berukuran dua meter itu dan menatapnya haru. "Indah bukan?"


Gadis berambut panjang di sampingnya itu mengangguk dengan bulir bening yang kini runtuh juga. "Aku bahkan gak punya foto waktu aku kecil, dan melihat lukisan ini aku jadi penasaran bagaimana ayah dan ibuku saat itu. Apa mereka bahagia kayak kita?"


Irsan merengkuh bahunya. "Dasar bodoh, ya tentu saja mereka bahagia, buktinya mereka memiliki anak sepertimu"


"Anak yang gak bisa bikin bangga sama sekali. Aku malu kalau ingat gimana aku hidup selama ini sebelum bertemu denganmu, tapi aku tidak pernah menyesal. Gak ada yang ingin aku sesali dari setiap pengalaman yang aku jalani sampai hari ini."


"Bagus! Memang seharusnya seperti itu. Seperti langit yang tidak akan selalu berwarna biru, ada kalanya langit berubah hitam dan juga semburat orange seperti sekarang. Kau hanya perlu menikmati waktunya saja. Masa lalu kelammu sudah berganti, jadi saatnya hidup lebih baik lagi. Hm?" ujar Irsan dengan menghapus air mata di pipi Cecilia. "Nangislah sepuasnya!"


Cecilia mendengus, menepis air matanya sendiri. "Orang lain mah bilang jangan nangis. Ini malah nyuruh nangis!"


Irsan berdecak, "Kau kan anak sikologi, tapi kenapa kau tidak tahu artinya air mata tangisan? Tangisan itu bisa membantu kita menjadi lega, mengobati luka dan memperbaiki perasaan. Tidak ada yang bisa melarang menangis, bahkan dokter ahli sekalipun bisa menangis dan itu sangat wajar. Kau tidak belajar itu di mata kuliahmu? Atau kau melewatkan sesi lagi?"


"Ih ... Selalu deh, kita lagi honey moon sayang, bisa gak gak usah bahas dulu mata kuliah, ngerusak suasana aja sih. Kita tadi lagi romantis romantisnya lho, langit senja, lukisan, perasaan yang hangat. Ahk... Nyebelin." ujarnya menepis tangan Irsan dengan kasar namun tangannya malah tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras.


Cecilia tersentak kaget, saat melihat Irsan mengulurkan tangan terbuka ke arahnya.


Entah sejak kapan benda itu ada di dalam genggamannya dan membuat Cecilia terperangah lebih kaget.


"Hadiah untukmu!"


"Apa ini?" ujarnya saat melihat kotak merah yang masih tertutup di tangan Irsan.


"Buka saja!"


"Ahk .. Aku tahu, apa ini diamond?" Cecilia terkekeh, seraya terus menghapus jejak basah di wajahnya. "Kau tahu, sejak bertemu denganmu aku bahkan gak ingin apa apa, diamond, emas, bahkan uang sekalipun. Aneh, padahal aku dulu melakukan banyak hal buruk demi punya benda ini."


Irsan mengulas senyuman. "Kau tahu dari mana kalau ini diamond. Kau saja belum membukanya."


"Terus ini apa kalau bukan diamond, atau perhiasan lainnya?"


Irsan membuka kotak merah beludru itu, kalau bukan emas atau perhiasaan sejenisnya, apalagi yang bisa muat di dalam kotak kecil berbentuk kubus itu. Dan hampir semua orang tahu hal itu.


Namun berbeda dengan pria yang terkenal tidak peka itu, justru dia memberikan sesuatu di luar exspetasi.


Tampak sesuatu yang berkilau di dalamnya. Namun sedetik kemudian Cecilia terkekeh. "Apaan?"


Satu buah anak kunci yang membuatnya hampir tidak bisa lagi berkata kata. Benda kecil yang Cecilia bahkan tidak tahu kunci apa itu.


"Apa ini kunci brangkas?"


Irsan memggelengkan kepalanya dengan mengulas senyuman. "Bukan!"


"Bukan juga!"


"Apa dong, jawab aja aja biar cepet sih! ... Malah tebak tebakan," Gadis itu mulai emosi.


"Rumahmu!"


Cecillia mengerjap ngerjapkan kedua matanya yang mulai mengering. Dia terus menatap anak kunci yang kini Irsan keluarkan. "Ambilah."


"Maksudnya rumah kita?"


Irsan menggelengkan kepalanya. "Bukan!"


"Iih ...! Rumah apa? Rumah Berbie, udah deh gak usah di lama lamain!"


"Rumahmu!"


"Aku?" Cecilia menunjuk dirinya sendiri, dengan dua alis yang bertautan. "Maksudnya rumahku?"


"Rumah lama mu, rumah masa kecilmu dimana kenangan ayah dan ibumu ada disana, aku sudah memperbaikinya. Kau bisa melihatnya besok atau kapanpun. Aku harap di rumah itu hanya ada kenangan indah dan bisa menghapus kenangan buruk masa lalumu. Hm?"


Dua manik yang tadi sudah kering kini kembali basah, bagaimana bisa Irsan berfikiran sejauh itu. Namun dari sanalah sumber luka sekaligus obat yang membuat Cecilia menjadi Cecilia yang sekarang.


"Aku tahu kenapa sampai sekarang kita belum memiliki anak." ucap Irsan dengan menyempilkan sedikit anak rambut yang tertiup angin ke sela telinganya. "Kau takut memiliki anak bukan? Kau ragu dengan dirimu sendiri karena masa kecilmu yang buruk, kau ragu untuk jadi seorang ibu karena latar belakangmu, apa aku benar?"


Cecilia memalingkan pandangan ke arah lain, namun kedua matanya terlihat semakin sendu dengan air bening yang sudah bergelayut manja.


"Ih ... Kamu kan dokter ahli bedah! Bukan psikiater."


"Semakin aku mengenalmu, semakin aku tahu luka dalam di hatimu sayang, jadi bicaralah ... Aku akan selalu ada. Jangan memaksa dirimu untuk selalu kuat Cecilia dan ketakutanmu sangat besar, kau minum ramuan yang di buat ibu, kau juga tidak keberatan dengan segala pemeriksaan agar terlihat kuat dan tidak ada apa apa tapi kau lupa satu hal, aku memilihmu karena aku mencintaimu, menerima segala yang ada dalam dirimu termasuk semuanya. Jadi lepaskan luka itu, lepaskan beban itu. Ayo kita saling membahagiakan."


Berderailah air mata Cecilia, ketakutannya dan luka masa lalu yang di simpannya seorang diri. Dan segala kekuataan dan juga sikap tegarnya hanya kamungflase dirinya yang rapuh.


Irsan menangkup wajah Cecilia lalu tersenyum.


"Anggap kita sedang Deep talk to nature, dan buang semuanya di sini!"


.


.


Hayolo dalem gak tuh? Wkwkwk ... Kok Doksan kefikiran begituan yaa, otak othor gak nyampe nih. Berat banget. Kalian pada nyadar gak Cecilia begitu? Kalau enggak ... Tos kita sama. Wkwkwk... Anak psikologi padahal dia yak.