
Cecilia masuk ke dalam taksi yang tengah terparkir, sementara supir taksi memasukkan koper koper milik Cecilia lalu masuk setelahnya.
"Mau kemana Non?"
Gadis dengan mata memerah menahan tangis itu pun hanya terdiam, sampai supir taksi itu kembali bertanya padanya dengan pertanyaan yang sama.
"Mau kemana Non. Apa Non sudah tahu tujuan Non pergi?" tambah sang supir.
"Belum pak, tapi jalan saja dulu yang penting aku pergi dari sini." tugasnya dengan suara berat karena harus terus menahan agar tidak semakin menangis dan bercucuran air mata.
Mobil taksi pun melaju tanpa tujuan yang jelas, supir sesekali menatapnya melalui spion kaca, gadis dengan rambut hitam terurai itu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil dengan memejamkan kedua mata dan membuatnya segan untuk kembali bertanya kemana dia mengantarkannya.
"Gak lucu banget gue nangis gara gara pacar gue kaya! Harusnya gue gak sakit hati kayak gini setelah tahu dia bohongin gue, mana dia gak bilang apa apa sama gue." gumamnya dengan menyusut air mata yang menitik diam diam.
"Non ... sudah tahu akan pergi kemana? Saya bingung harus kemana ini." ujar sang supir yang terus melaju selama 30 menit tanpa arah tujuan.
"Kemana aja lah pak!"
Supir pun dilanda kebingungan sampai dia membawanya berputar putar di jalan yang sama. Sampai dia mendengar teriakan Cecilia.
"Stop! Aku turun di sini aja."
Supir yang kaget pun seketika menginjak pedal rem, mobil berhenti secara mendadak disebuah klub malam.
Cecilia keluar dari mobil setelah menyerahkan sejumlah uang pada supir yang juga ikut keluar untuk mengeluarkan kembali barang miliknya di dalam bagasi. Cecilia menarik kedua koper miliknya dan masuk ke dalam klub.
Bruk!
Gadis itu menghempaskan koper miliknya begitu saja saat masuk ke dalam, dia segera melangkah ke arah meja bartender dan memesan minuman. Walau jam belum terlalu malam, tidak menghentikan Cecilia untuk menenggak alkohol yang beberapa hari ini tipdia temukan.
"Biasa!" ujarnya pada Bartender.
Gue gak mau jadi cengeng gara gara masalah ini, gue kuat dan gue gak bakal peduli. Kenapa gue bisa semarah dan sekesel ini saat tahu kalau Irsan sebenarnya....
"Aaaghhkk!" Cecilia mengacak rambutnya sendiri, dia menjadi kesal dan marah sendiri. Bukan karena perlakuan Embun saja yang seenaknya bicara selama ini, walaupun dia sudah berusaha menahan dirinya, tapi juga mengetahui hal sebenarnya dari Irsan.
Dua gelas minuman yang beberapa hari ini tidak dia temukan ditenggak begitu saja,
Gadis itu terus meracau kemana mana, sambil menenggak minuman yang terus dia minta dari sang bartender, mulai menjadi pusat perhatian karena dia uring uringan tidak jelas.
"Brengsekk ... Gue udah berusaha jadi orang baik! Tapi ternyata gak mudah, sekarang malah gue yang gak diperlakukan baik." Cecilia terkekeh, lau tiba tiba menangis. "Gue udah berusaha, tapi ternyata selama ini gue yang salah."
Jelas saja jika Cecilia kesal dan marah, disaat pemikirannya sudah berubah tapi justru telah dikecewakan. Merasa menjadi orang bodoh yang selalu percaya dengan apa yang dia dengar.
Bartender yang mengenalnya karena Cecilia adalah pelanggannya yang kerap datang pun menghubungi Nita untuk datang dan melihat sahabatnya itu.
Nita yang memang menunggu kabar Cecilia yang akan memberikan tugas untuknya pun segera datang ke lokasi.
Hampir satu jam Cecilia berada di klub malam dan minum seorang diri, tertawa dan menangis secara bersamaan. Dengan cepat pula dia selalu menyeka air matanya seolah tidak ingin terlihat oleh orang lain. Sampai akhirnya Nita datang.
"Ya ampun Ce ... Lo kenapa sih?"
Cecilia yang sudah mabuk parah itu menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangan. "Nit ... Gue di sini."
"Iya gue tahu. Lo fikir gue datang kesini karena apa?" Seloroh Nita yang langsung duduk disampingnya. "Lo udah minum sebanyak apa sampai lo parah kayak gini."
Cecilia memperlihatkan jari yang dia bentuk menjadi hurup v ke arah Nita.
"Ayo balik! Kita bisa ngobrol nanti di unit gue."
"Nit ... Lo tahu gak, sekarang ini gue lagi bingung, kenapa gue bisa kesal dan marah saat tahu kalau Irsan itu pemiliki rumah sakit, alias orang kaya dan memiliki ibu yang enggak banget!"
Nita tersentak kaget, dia menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya disamping Cecilia.
"Lo tuh harusnya seneng Ce ... Kok ini malah nangis!"
"Gue rasa juga gitu, tapi ternyata air mata sialan ini terus aja turun."
"Lo bego apa gimana? Kalau gue jadi lo ya gue seneng lah, auto jingkrak jingkrak kalau perlu sambil salto salto, ngapain malah kesel dan juga marah."
"Lo gak faham kalau lo belum tahu gimana rasanya jatuh cinta sama orang Nit! Lo gak tahu rasanya gimana saat kecewa sama orang yang lo cinta!"