
Cecilia mengajak Ines ke sebuah tempat karaoke yang berada di sebuah mall. Membuat wanita berusia 27 tahun itu mengernyit.
"Kenapa kita ketempat karaoke di sini? Kenapa kita tidak pergi ke klub sekalian saja!" selorohnya dengan tertawa.
Cecilia terbeliak, "Jangan nantangin aku kak. Aku orangnya nekat lho!"
Ines tertawa lagi, "Iya aku tahu ... Aku tahu, aku juga takut kalau Irsan marah nanti! Tapi pergi ke karoke menurutku tanggung Ce ... Aku sedang patah hati, harusnya minum sampai puas."
"Tenang aja, aku punya kartu member yang bisa pesen minuman walau di sini family karaoke." tukas Cecilia dengan kedua alis turun naikke arahnya.
Ines kembali tertawa, "Iyakah? Kau yakin. Karena aku tidak mau disalahkan dan bertanggung jawab kalau Irsan marah padaku."
Cecilia terkekeh, "Tenang aja! Aku gak akan minum sampai mabok kok. Paling kleyengan doang."
"Sama saja Cecilia." ujarnya berdecak.
Keduanya akhirnya masuk kedalam room, tempat Cecilia meluapkan kekesalan, kemarahan dan mood kala buruk. Dia menghela nafas saat memasuki room yang selalu sama jika dia pergi bersama Nita.
Tingkah polah Nita yang rese kala mabuk, suara khas cengkok dangdut dan lagu favorite yang mereka simpan secara khusus di room ini. Cecilia kembali menghela nafas, bagaimana keadaan Nita saat ini, apa dia baik baik saja ataukah memiliki masalah. Sebab dikampus pun sudah santer kabar Nita yang mendapat surat peringatan ancaman drop out.
Merasa bersalah sudah pasti, dengan masalah dan kesalahan yang tidak jelas membuat hubungan keduanya semakin memburuk saja. Dan sumber satu satunya yaitu Sila tidak pernah mau memberikan info apa apa padanya.
"Wey ... Malah ngelamun!" Ines menepuk bahunya dengan keras, membuatnya kaget hingga sedikit berjingkat.
"Gak apa apa kak! Aku cuma inget Nita doang, dia pasti rese kalau minum. Kak Ines rese gak? Aku gak mau ya pulangnya repot sendiri kalau kak Ines maboknya rese!"
"Tidak lah ... !" Ines tertawa.
Musik sudah menggema, lampu warna warni silih berganti membuat silau mata, namun justru Cecilia malah semakin mengingat Nita.
"Kak ... Gue mau pesen minuman. Lo mau apa? Wine, vodkaa, whisky, rum apa arakk?" ujarnya dengan menyebutkan merek merek minuman beralkohol.
Ines terperangah, "Gila ... Mana ada di sini minuman dengan alkohol 45 % itu, itu di sih ada di klub khusus Ce."
"Ada ... Kan gue member eksklusif!" Cecilia terkekeh, dengan mengambil gagang telepon yang hanya tersambung ke area pemesanan.
Namun saat suara diujung sana terdengar, Cecilia justru lupa jika tujuannya untuk memesan minuman.
'Si Nita pernah kesini gak?" tanyanya langsung tanpa basa basi.
'Gak pernah ... Bahkan udah lama dia maupun lo dateng kemari!' sahutnya yang sudah tidak aneh lagi pada salah satu member yang selalu datang bersama sama.
'Heran gue ... Dia ngilang gitu aja tanpa jejak!'
'Hah?'
'Eeh ... Sorry, ya udah pesen yang biasa.' tukasnya lupa jika dia datang ingin menghibur Ines.
Mereka pun larut dalam kesenangannya berdua, dengan Ines yang terus menenggak minuman dengan kadar alkohol tinggi itu terus menerus, sementara Cecilia hanya beberapa gelas saja.
Bruk!
Pintu terbuka lebar saat keduanya tengah asik berjingkrak jingkrak, dua orang pria berdecak disertai gelengan kepala.
"Astaga ... Apa yang mereka lakukan!"
Kedua gadis terperanjat saat melihat dua orang pria yang berdiri menatap tajam kearah mereka. Dan membuat keduanya membeku seketika.
"Sayang ... Ternyata kalian menyusul kesini?" Cecilia terkekeh dengan mendekati suaminya.
"Kau tidak bilang akan ke karaoke, kau bilang hanya akan nonton." ucap Irsan.
"Iya tadinya, kan kalian gak ikut ... ya udah mending kita seneng senengnya dengan cara lain aja!"
"Dengan minum minum seperti ini?" sentaknya kesal. "Kau sudah bilang akan mengurangi minuman sialan itu bukan?"
"Apa mau bilang aku yang punya ide?" ketus Ines dengan berjalan sempoyongan lalu mendengus saat melihat Tristan.
"Minuman ini ilegal! Kalian bisa di kenakan pasal jika aparat kepolisian datang dan memeriksanya kemari." tukasnya lagi saat melihat 3 botol dengan berbagai merek diatas meja. 2 diantaranya hanya sisa setengahnya saja.
Tristan berdecak menatap ke arah Ines, yang lagi lagi mendengus saat beradu pandang.
"Ayo pergi!" Irsan mengajak Cecilia untuk keluar dari sana.
Namun di cegah oleh Ines yang memegangi tangannya. "Jangan bawa dia. kita sedang bersenang senang! Kau ini pelit sekali."
"Kau juga sama saja Ines!" hardiknya pada Ines.
"Aku udah bilang ya, untuk memastikan kalau ini minuman ini bukan ilegal dan Cecilia memiliki kartu resmi untuk pembelian di sini."
"Bukan bicara soal itu!" sentak Irsan yang bertambah kesal dengan jawaban Ines. "Ayo Tristan bawa dia." ujarnya lagi.
Tristan mengangguk dan menghampiri Ines. "Lain kali kalau kau ingin bersenang senang datanglah padaku."
"Sorry? Apa kau bilang Tris ... Datang padamu dan nanti aku di cakar Istrimu? Lucu ...!"
"Ya ... Kau memang lucu, aku tidak tahu kalau kau jago minum."
"Bukan urusanmu!" ketusnya pada Tristan yang semakin mendekatinya.
Sementara Cecilia terkekeh melihatnya. "Ayo sayang ... Kerjaanku udah beres!"
Cecilia menarik tangan tangan Irsan dengan cepat, mereka berdua meninggalkan Ines dan juga Tristan begitu saja di dalam.
"Lalu Ines?" tanya Irsan yang terlihat cemas dan khawatir.
"Gak apa apa ... Tristan yang jagain kok!" tukasnya dengan terus menarik tangan Irsan. "Lagian minuman itu juga bakal bantu mereka makin lancar." tukasnya lagi dengan terkekeh.
"Apa yang kau maksudkan?" Irsan menghentikan langkahnya, membuat langkah Cecilia ikut tertahan.
Cecilia terkekeh, "Supaya kak Ines lancar ngomong sama Tristan, orang mereka sama sama punya tujuan yang sama kok. Belum bisa melupakan kan?"
Irsan mengernyit, "Kenapa kau tahu perasaan mereka berdua. Apa Tristan membicarakan ini padamu sebelumnya? Kalian sekongkol?"
"Enggak ... Bukan kayak gitu!"
Irsan berbalik, dia memilih kembali menuju ke arah room dimana Ines dan Tristan berada, Cecilia berdecak dengan ikut menyusulnya.
"Kau memikirkan apa saat melakukan hal seperti ini? Mereka butuh waktu Cecilia."
"Waktu gimana, bertahun tahun udah cukup kali waktu buat mereka. Kecuali kayak kamu, salah satunya udah gak mau ... Mereka berdua kan sama sama mau sayang." terang Cecilia yang terus menyamai langkah Irsan yang lebar.
"Bicara dalam keadaan mabuk hanya akan membuat masalah semakin rumit!" tukasnya.
Mengingat bagaimana sikapnya dulu saat minum dan mabuk terhadap Cecilia, dan dia tidak ingin Tristan melakukan hal seperti itu pada sepupunya.
"Ya kalau gak mau terjadi apa apa pake aja alkohol 70% alias refanol." dengus Cecilia. "Lagian kenapa kalau mereka melakukan hal yang akan membuat hubungan mereka membaik terus balikan lagi. Kak Ines aja bilang dia masih suka sama Tristan kok." lanjutnya lagi. "Gitu juga Tristan kan?"
"Kau tahu dari mana? Dia saja tidak bicara denganmu!"
Cecilia berhasil menyamai langkahnya dan berjalan kehadapannya saat tepat berada di depan pintu room
"Aku tahu ... Bahkan hanya melihat gelagatnya saja aku tahu kalau Tristan juga memiliki perasaan yang sama. Biarin mereka bicara berdua. Seenggaknya Tristan masih waras, dan gak bakal ngelakuin apa apa." terangnya lagi.
Namun Irsan tidak peduli, dia menerobos masuk ke dalam room dan tersentak saat melihat keduanya. Berbeda dengan Cecilia yang tersenyum saat melihatnya.
"Sweett banget!"