I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.158(Shock)



Cecilia bergegas mencegat taksi yang lewat saat mobil Irsan mengikuti ambulance yang membawa Embun ke rumah sakit, gadis itu tidak tahu alasan utama kenapa Irsan melarangnya ikut.


"Gue memperumit keadaan katanya. Anjim gak tuh mulutnya pacar gue! Heran, segitunya dia sama gue." gumamnya saat masuk ke dalam taksi. "Ikuti mereka pak, ke rumah sakit." Cecilia menepuk bahu supir taksi.


Mobil Irsan melaju kencang mengikuti Ambulance yang tidak kalah kencangnya melaju menuju rumah sakit, Ines yang berada di dalam ambulance menemani Embun pun tampak resah.


"Sabar ya Bi, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Gumamnya dengan terus menggenggam tangannya.


"Irsan anakku?"


"Irsan di belakang, dia bawa mobil sendiri Bi."


"Nes ... Gadis itu?" lirihnya pelan.


"Bibi tidak usah khawatir, sekarang Bibi fikirkan saja kesembuhan Bibi ya, kita akan periksa kondisi Bibi."


"Aku tidak mau di bawa ke rumah sakit, apalagi rumah sakit itu! Aku tidak mau."


"Bibi tenang yaa! Tidak usah banyak fikiran."


Akhirnya Embun hanya bisa terdiam dengan memejamkan mata. Sementara Ines menatap mobil yang berada di belakangnya dimana Irsan ada di dalamnya.


Tak lama ambulance tiba di depan UGD, perawat yang sudah bersiap siap menyambutnya dengan blankar yang sudah mereka siapkan. Irsan turun dari mobil menyerahkan kunci pada Toni dan menyuruhnya memindahkan mobilnya sementara dia membantu memindahkan ibunya ke atas blankar.


Setelah selesai, Irsan juga membantu mendorongnya masuk ke dalam, dengan sigap dia memakai jubah putih yang disodorkan suster padanya.


"Sudah siap semua?"


Para suster mengangguk, menyiapkan alat alat yang diperlukan untuk pemeriksaan. Irsan melakukannya sendirian, memeriksa keadaan ibu yang melahirkannya. Wajah sayu dengan kerutan di bagian sisi matanya yang terpejam.


Bukan tanpa alasan Irsan mendiamkan ibunya selama ini. Sejak dulu, dia dan ibunya memang kerap berdebat soal pekerjaan yang sekarang di gelutinya. Bahkan sejak masa kuliah. Tapi puncak perdebatan terjadi 2 tahun lalu. Saat Alisa pergi dari nya. Rencana pernikahannya gagal namun justru Embun mengenalkannya pada seorang wanita sebagai penggantinya. Tentu saja dia menolaknya, itu bukan solusi terbaik saat dirinya patah hati berat, dia tidak hanya akan menyakiti dirinya sendiri tapi wanita lain yang tidak tahu apa apa, namun Embun tidak menerima alasannya. Hingga akhirnya mereka berdebat. Sampai Irsan tahu jika Alisa pergi karena ibunya, persis yang dia lakukan pada Cecilia saat ini. Menawarinya sejumlah uang agar meninggalkannya. Dan bodohnya Alisa memilih uang dari pada dirinya.


Alih alih marah dan kembali bertanya pada Ibunya, Irsan memilih diam seribu bahasa dan tidak ingin semakin memperburuk hubungannya dengan ibunya yang sudah buruk.


Irsan menghela nafas, saat pemeriksaan pada ibunya selesai, kondisi ibunya stabil dan tidak perlu ada yang di khawatirkan. Embun hanya shock dan lelah juga banyak fikiran.


Ines bangkit dari duduknya saat Irsan keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Gimana?"


"Kau temani dia." ujarnya kembali mengayunkan kaki menuju ruangannya.


"Eh ... Aku tanya kondisinya gimana?" Ines berdecak melihat sepupunya yang terus berjalan tanpa mengatakan apa apa tentang kondisi ibunya.


Sementara Cecilia yang berdiam diri mendengarkan percakapan mereka mendengus dan langsung bersembunyi saat Irsan bergerak maju.


Ines masuk ke dalam ruangan, dan kesempatan itu dipakai Cecilia untuk mendekat. Melihat Ines masuk dan juga ada dua orang suster tengah menenangkan Embun.


"Minggir! Aku tidak mau di rawat di sini." teriak Embun.


"Bibi. Kenapa?"


"Nyonya Embun histeris karena kami akan memindahkannya ke kamar perawatan," tukas satu dari perawat yang kini mundur.


"Bibi ... Ini kan demi kebaikan bibi sendiri, Bibi harus istirahat dulu ya."


"Aku tidak sudi menginjakkan kakiku di rumah sakit ini. Aku mau pergi ke rumah sakit lain saja. Kalau perlu aku kembali ke singapura hari ini juga! Panggil Toni. Mana dia." teriaknya lagi.


"Bibi, bukankah bibi ingin bertemu Irsan? Bukankah bibi ingin bicara dengannya. Ayolah Bi, jangan begini. Kalau ada apa apa di perjalanan gimana?"


"Biarkan saja aku mati. Dan ini gara gara gadis itu, Cecilia! Anakku semakin marah dan tidak mau bicara sedikitpun padaku sejak tadi. Semua gara gara gadis itu!"


"Nah kan bener! Tuh nenek nenek nyalahin gue!"


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara bariton terdengar dari arah belakang, membuatnya kaget hingga terhenyak.


Gadis itu menoleh dan mengulas senyuman pada Irsan yang berdiri di depannya dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam celana.


"Sudah aku bilang untuk tidak kemana mana dan tunggu saja! Kenapa kau tidak menurutiku."


"Itu kare---karena!"


Grep!


Irsan menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi. "Bukankah aku sudah mengatakannya Cecilia! Kenapa kau ini."


"Ya aku mau tahu apa yang terjadi, aku mau lihat kondisi ibumu. Aku ... Aku mau---"


Irsan menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. "Apa? Kau ingin menyangkal kalau bukan kau yang membuatnya shock?"


Deg!


Cecilia terdiam, menatap pria jangkung di depannya yang masih memegang erat pergelangan tangannya. Sejurus kemudian dia menepiskan tangan Irsan dengan kasar.


"Shock. Jadi benar?"


"Ya! Dan itu saat bicara berdua denganmu. Kau selalu mencari masalah Cecilia. Kapan kau akan berhenti. Hah?"


"Berhenti apa? Bukan aku yang cari masalah, tapi ibumu! Siapa yang datang ke unit Ines, bukankah aku kalian suruh sembunyi di sana? Jadi bukan salah ku dong kalau kenyataannya Ibumu justru dateng ke sana." Timpalnya tidak mau salah. "Dan aku juga yang membuatnya Shock?"


"Menurutmu?" Irsan mengernyit ke arahnya. Sementara Cecilia mengelus pergelangan tangannya yang kini memerah.


"Berarti benar! Kau tahu apa yang aku katakan pada ibumu saat dia nawarin aku sejumlah uang dan perhiasan agar aku meninggalkanmu?"


"Apa?"


Cecilia menatap Irsan yang bahkan tidak terlihat kaget, rait wajahnya tampak tidak berubah saat mendengarnya.


"Aku bilang ...!"


"Kau bilang apa padanya?"


"Ya aku bilang NO. Kau tahu, aku bilang No, buat apa aku ambil uang ibumu? Kalau aku cuma cari duit. Aku gak bakal sama kamu, aku bisa cari daddy yang bisa kasih aku lebih banyak!"


Irsan mendengus, "Kau akan cari siapa?"


Cecilia melengos begitu saja, dan Irsan kembali mencekal lengannya. "Kau belum jawab pertanyaanku!"


"Apa lagi? Kamu tahu jawabannya sendiri kan, kamu bilang kamu gak bakal nanya kalau udah tahu jawabannya."Dengusnya lagi, "Sekarang terserah kau, ibumu udah pasti nyalahin aku, ibumu sakit! Dan itu salahku. Tapi asal kamu tahu ya, ibu mu juga melakukan hal yang sama pada calon Istrimu!"


Irsan tersentak, "Bagaimana kau tahu hal itu."


"Ya aku hanya menduganya, aku bilang padanya apa dia juga melakukan hal ini. Dan dia langsung Shock. Menurutmu itu bener atau enggak aku tanya!" terangnya lalu kembali menepis tangan Irsan.


"Itu memang benar!"


.


si Cece kapan nangisnya yaa. Greget nih othor.