I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.50 (Buat Dia Cemburu)



Irsan lagi lagi tertohok oleh ucapan Cecilia, gadis itu benar benar membuatnya hampir gila. Selain itu, sikapnya benar benar berubah.


Pria itu masih berdiri entah berapa lama, membuat Cecilia berdecak heran, namun juga menggelitik. Dia ingin tertawa melihatnya tapi dia harus menahan diri.


"Tunggu apa lagi? Kau tidak menerimaku bekerja, tidak juga berminat memakai jasaku, tapi masih terus berdiri. Gak pegel tuh kaki?" cibirnya terang terangan. "Kalau ingin bersikap kaku dan dingin padaku jangan setengah setengah, kau ini kaku dan dingin tapi sepertinya penasaran juga."


"Aku sudah meminta maaf padamu, aku hanya tidak suka kau datang tiba tiba ke Coffee shop dan melamar pekerjaan di sana hanya untuk menarik perhatianku! Kau benar benar mengacaukan fikiranku."


Cecilia bangkit lagi dari duduknya, semakin penasaran dengan apa yang Irsan inginkan saat ini terhadapnya.


"Jadi? Kau tidak suka aku bekerja disana karena ternyata diam diam kau juga suka aku? Atau kau takut menyukaiku? Bicara dari tadi gak jelas banget!" ucapnya mendekat, menyentuh kerah kemeja yang di kenakan Irsan, dia juga menatap Irsan dengan dalam.


Dengan sekali tarikan Cecilia menarik kerah itu hingga wajah Irsan semakin dekat. "Aku gak suka pria yang tidak punya tujuan. Bersikaplah dengan jelas, katakan suka kalau kau suka, katakan tidak kalau tidak suka."


Irsan menghela nafas, namun dengan dada bergemuruh. "Aku tidak menyukaimu!"


Irsan keluar dari unit milik Cecilia dengan cepat, dia masuk kedalam lift dan menekan angka nomor 3. Sesekali mendengus, dia juga meraup wajahnya dengan kesal dan merasa dirinya paling bodoh saat ini.


Cecilia jelas tertawa saat melihat sikap Irsan, jelas jelas terlihat jika dia menyukainya, tapi selalu bersikap seolah Cecilia itu menjijikan.


"Buat apa dia kesini kalau gak suka sama gue! Dia bisa pergi setelah nolongin gue tadi." desisnya dengan mengambil tiga kotak merah diatas meja dan menyimpannya dikamar. "Untung banget dia tadi gak pilih! Bisa bisa berabe, ini kan kosong. Gue udah lama gak punya stock, semenjak sama Reno, dia aja udah loyo sebelum gue pegang."


Cecilia baru sadar, setelah melihat dirinya di cermin, penampilan yang sudah berubah dengan sikapnya yang juga berubah justru membuat Irsan penasaran. Dia mengulum senyuman seolah 9 nyawanya kembali terisi.


"Kalau tadi gue bilang gue gak jadi suka sama Irsan, sekarang gue yang bakal Irsan yang suka sama gue. Kalau perlu tuh tiang listrik ngejar ngejar gue. Mantep juga ide si Nita." gumamnya dengan menyisiri rambutnya.


Namun wajahnya tiba tiba berubah saat melihat leher putihnya kini terlihat kemerahan. "Ini gara gara Si Dirga brengsekk."


Setelah berguling guling tidak jelas di atas ranjang dan merasa bosan, Cecilia memutuskan untuk pergi ke klub seorang diri, dia berganti pakaian llau sedikit merias wajahnya. Dan keluar dari unitnya.


'Nit lo dimana?'


Cecilia masuk kedalam lift, dan hampir bertabrakan dengan gadis yang dia tahu pacarnya Irsan.


"Maaf!" Ucap Ines padanya.


Namun Cecilia mengacuhkannya dan sibuk mengobrol dengan Nita.


'Oh Xxx nine, oke gue nyusul ya. Bete gue!'


Keduanya berada di lift yang sama dengan tujuan berbeda. Ines sesekali melirik ke arahnya sementara Cecilia tidak acuh padanya.


Sepupu Irsan itu keluar di lantai tiga, "Itu cewe yang suka ngikutin Irsan kan?"


Sementara Cecilia turun di basement, dia bahkan tidak peduli pada Ines yang terus melihat kearahnya.


Sementara itu Irsan yang kembali ke unitnya dengan kesal, dia bahkan membanting pintu dengan keras. Masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan kasar.


"Cecilia benar benar mengacaukan fikiranku. Kemarin dan sekarang sikapnya benar benar berubah!"


Aku gak suka pria yang tidak punya tujuan. Bersikaplah dengan jelas, katakan suka kalau kau suka, katakan tidak kalau tidak suka.


Kata kata yang dilontarkan Cecilia berputar dikepalanya. Jelas dia tidak suka Cecilia, tapi bayangan dirinya selalu hadir walau dia berusaha menepisnya. Senyumannya, bahkan suaranya.


Irsan memejamkan matanya, dengan kedua tangan yang bertumpu pada wastafel.


"Apa aku mulai menyukainya. Aaahhk sial, dasar jaalang, dia benar benar mengacaukan fikiranku."


Setelah membasuh wajahnya, harusnya fikirannya kembali tenang, namun ini sebaliknya, dia menggelengkan kepalanya saat membayangkan bagaimana Cecilia menggoda pria pria beristri sama seperti halnya menggoda dirinya beberapa waktu lalu. Bahkan kenekatannya datang ke rumah sakit dengan pakaian susternya, dia yakini jika tidak akan ada pria yang menolak godaan Cecilia.


Irsan melemparkan vas bunga diatas meja, masuk kedalam kamar dan berganti pakaian. Setelah itu dia kembali keluar dari unitnya.


Pria itu menghubungi dokter Aji, namun dokter Aji tidak mengangkat sambungan teleponnya.


"Kau mau kemana?" tiba tiba Ines sudah berada di depan pintu unitnya.


Irsan mendengus karena paham jika Ines menemuinya hanya untuk mengambil mobil yang dijanjikannya.


"Kau belum melakukan apa apa! Mana bisa aku memberikan mobil itu." ujarnya kesal.


Ines mendengus, "Sepertinya kau kesal sekali."


Irsan sibuk mengotak ngatik ponsel, dia hanya mendengus tanpa mengatakan apa apa.


"Aku tadi lihat gadis yang ingin kau jauhkan itu. Dia ke XxxNine."


Mendengar hal itu Irsan baru menoleh ke arahnya dan segera menarik tangannya dengan cepat.


"Hey ... Mau kemana!"


"Kau ingin mobil kan? Lakukan sesuatu padanya sekarang!"


"Apa yang harus aku lakukan?"


Keduanya masuk kedalam lift, Irsan menekan nomor dimana basement berada. Sementara Ines menghela nafas.


"Heh ... Apa yang harus aku lakukan padanya?"


***


Keduanya tiba di klub Xxxnine, Irsan mengedarkan pandangannya sesaat sebelum turun. Jujur saja dia jarang sekali masuk ke klub malam, tidak minum alkohol bahkan tidak merokok. Selama ini dia hidup dengan sehat. Tapi malam ini dia nekad masuk ke klub hanya untuk seorang gadis ja laang yang membuat penasaran.


"Astaga! Kau yakin akan masuk ke dalam?"


"Yakin! Ayo turun." Irsan membuka seat belt dan keluar dari mobil, begitu juga dengan Ines yang heran karena sepupunya itu bahkan tidak mengatakan apa yang harus dia lakukan saat bertemu dengan Cecilia.


"Apa kau ingin aku memaki makinya dengan kasar? Atau kau ingin aku main jambak jambakan? Atau tampar sekalian dan menyuruhnya menjauhimu."


Irsan masih ragu dengan langkah yang dia tempuh sekarang, kakinya terus melangkah masuk walau otaknya sudah mengatakan lebih baik kembali pulang.


Sesosok gadis tengah berjingkrak jingkrak dengan musik DJ yang memekik gendang telinganya, dia menemukan Cecilia dengan cepat diantara banyaknya orang yang tengah menikmati hingar bingar hiburan.


"Astaga!" desis Ines yang hanya mengikuti langkah Irsan yang duduk di meja bartender. "Memangnya kau tahu apa yang harus kau pesan?"


"Tidak! Kau saja yang pesan."


Ines mengangguk, "Terus apa yang harus aku lakukan padanya?"


"Buat dia cemburu!"


.


.


Heh si tiang listrik ngadi ngadi mau bikin Cece cemburu katanya. Bener bener konslet lo San. Wkwkwk.


Seru gak seru gak. Seru dong yaa. Apalagi othornya lagi rajin up. Cukup 3 chap aja tapi yaa. Hihihi. Like dan komen yang banyak yaa.