
"Ssttt ... ternyata kau bisa menangis seperti ini juga!"
Cecilia menangis sambil memukul dada Irsan yang bicara seolah dia bukan manusia yang tidak pernah menangis, walau memang pada kenyataannya Cecilia terlampau getir dalam menjalani kehidupannya dari kecil. "Kau fikir aku lagi akting?"
"Ya ... Dan aktingmu sangat bagus! Sampai aku tidak bisa membedakan mana yang akting dan mana yang tidak."
Cecilia menengadahkan kepala ke arahnya, kedua mata basahnya mengerjap ngerjap, "Jadi menurutmu aku lagi akting sekarang. Pura pura nangis kejer biar apa coba?"
Irsan menelan saliva karena wajah Cecilia begitu dekat, hingga dia bisa melihat kedua manik hitamnya yang kemerahan karena banyak menangis. Ujung pelupuknya saja masih basah, sampai pria datar itu menyapunya dengan ibu jarinya dengan lembut.
"Tidak ... aku tidak mengatakan kau berakting sekarang." Irsan mengelus pipinya, "Aku percaya, karena kau juga percaya padaku."
Seulas senyuman terbit di bibir Cecilia, kata kata sederhana yang diungkapkan Irsan membuat nyaman dan itu berarti baginya, bukan seorang pria yang memujinya karena menginginkan tubuhnya belaka. Tatapan mereka pun semakin lama semakin dalam, hembusan nafas keduanya saling menerpa satu sama lain.
Biasanya kalau posisinya begini, pasti bakalan ada ciuuman. Dan gue bakal nunggu reaksi dia gimana. Batin Cecilia.
"Kita pulang! Ines sudah menunggu." ujar Irsan yang melepaskan dirinya, dia kembali memegang setir mobil dan menyalakan mesinnya, lalu melaju.
Sialan, dia bener bener gak kegoda, ucapannya gak bakal nyentuh gue bener bener serius astaga. Kalau gue gak bergerak, dia gak bakal bergerak juga. Jadi gue yang harus nyosor duluan.
Cecilia tidak berhenti membatin, sementara Irsan hanya menatap ruas jalan, berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
Tak lama mobil masuk ke basement apartemen, Irssn berencana mempertemukan Cecilia dan juga Ines guna menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi.
Deru mobil berhenti, Irsan mematikan mesin mobil lalu melepas seat beltnya.
"Ayo pergi."
"Tunggu!" ujar Cecilia yang menahan lengan Irsan yang akan membuka pintu. "Apa wajahku berantakan?"
"Sedikit! Tidak apa, ayo."
"Gak mau! Enak aja, aku harus dandan biar cantik saat ketemu si sundel itu." ucapnya dengan mengherdikkan bahu, lalu menarik kaca spion menjadi ke arahnya. "Astaga! Kau bilang sedikit berantakan. Ini sih berantakan banget tahu!" ujarnya dengan mengelap sisa sisa air mata, lalu menepuk lembut kedua pipinya. "Aneh! Orang lain bakal sigap kalau liat pacarnya berantakan, ini gak peduli banget."
"Mau diapain lagi? Kau sudah cantik begitu tanpa riasan Cecilia." sahut Irsan yang tidak jadi membuka pintu, dia kembali memegang setir kemudi dan melihat Cecilia.
"Ya touch up dikif sayang! Biar fresh aja. Kucel gini kok dibilang cantik." desisnya memgeluarkan spons bedak didalam tas miliknya. lalu menepuk nepuk lembut wajahnya.
Irsan menggeser posisinya menjadi lurus kembali, menatap ke arah depan namun ujung matanya sesekali melihat ke arah Cecilia yang tengah merapikan riasannya. Gadis itu sengaja mengoleskan liptin berwarna peach dengan gerakan slow motion, hingga bibir tipisnya kembali berkilau. Bibir sensual berwarna merah delima yang membuat jantung Irsan sejak tadi bertalu talu.
"Ini bagus kan? Liptin yang baru aku beli. Cocok gak?"
"Hm ... Cocok!"
Cecilia membaca merek liptin yang tulisan nya kecil "Delight Cherry tint." gumamnya lembut. "Oh pantes liptin ini wangi cherry." desisnya menoleh ke arah Irsan lalu mengulas senyuman.
"Hm ...! Bagus."
"Kau ingin menciuumnya?"
"Hah?" Irsan terlihat gelagapan dengan ucapan Cecilia, dia bahkan menelan saliva saat menatap bibir merah delima yang kini terlihat lebih sensual saat di olesi Liptin.
Pria itu menatapnya sangat lama, membuat Cecilia mengulum senyuman dan memajukan wajah ke arahnya. "Kau ingin menciuumnya atau tidak?" godanya lagi.
"A---ak ... Tidak!"
Cecilia terkekeh, semakin memajukan wajah ke arahnya. Dia sengaja menggoda Irsan dengan menggigit bibir bagian bawahnya sedikit. Bahkan menyenuh lengannya hingga Irsan menghadap ke arahnya dengan sebelah tangan yang masih mengerat di kemudi.
"Cecilia. Berhenti menggodaku atau kau akan menyesal."
"Aku gak nyesel. Dan aku juga gak godain kok."
"Itu tadi barusan apa?" gelagapan dengan terus menatap Cecilia dan berusaha menstabilkan dirinya sendiri.
"Aku cuma nawarin, kau mau ciuum atau tidak!"
"Ya bukanlah, orang aku nawarin ini. Kau bisa saja menciummnya wangi Chery langsung dari sini. Bukan di bibirku langsung kan?" Cecilia menyodorkan liptin dari tangannya, "Kau saja yang fikirannya kemana mana." Ujarnya lagi lalu terkekeh.
"Eeh ...!"
"Apa. Benarkan?" kekehan Cecilia semakin kencang.
"Punya pacar gila, baru saja menangis sampai kemeja ku basah, sekarang ketawa seperti kuntilanak." gumam Irsan, terlihat wajahnya sedikit kecewa dengan dengusan pelan.
"Heh kau bilang apa?"
"Kuntilanak?"
"Ish ... Jujur amat! Yang sebelumnya apa?"
"Kemeja ku basah!" Ujarnya dengan kesal.
"Iih ... Bukan yang itu, sebelumnya."
"Apa. Gila?"
"Nah sebelum gila apa?" Cecilia menjentik jentikkan telunjuknke arahnya seperti bermain tebak kata.
"Tidak ada lagi. Pas." Irsan mengulas senyuman tipis saat sadar apa yang ingin Cecilia dengar darinya.
"Iihh ... Ada!"
"Kau jawab saja sendiri! Kau tidak tuli kan." ucap Irsan yang berbalik arah lalu membuka handle pintu mobil.
Namun baru saja hendak terbuka, Cecilia menarik kembali lengan Irsan dan langsung menyambar bibirnya, dia tidak bisa diam saja apalagi tebak tebakan konyol. Kalau suka ya suka, kalau mau ya mau. Tidak pernah menahan diri seperti yang Irsan lakukan.
Mendapat serangan tiba tiba, ditambah wangi cherry yang menyeruak saat bibir sensual miliknya menempel, membuat gelanyar gelanyar yang sedari tadi ditahannya kini menyeruak hebat.
Eeemmmhh
Pagutannya kini berbalas, Cecilia terdiam membiarkan Irsan mengambil alih, benda tak bertulang pun kini menerobos masuk, mengabsen satu persatu bagian rongga mulutnya, membelitnya dengan lembut.
Cecilia memajukan tubuhnya, sampai kedua dada busungnya menempel. Tanpa ragu dia naik ke atas pangkuannya dengan kedua kaki terbuka, membuat Irsan tersentak kaget, namun aliran darahnya semakin mendesir sampai dia kembali lupa diri.
"Eeeuugghh ..." lenguhhan seksi keluar dari bibir Cecilia, saat kedua tangan Irsan merekat dipinggangnya. Menelusup masuk kedalam atasan sabrina yang dikenakannya.
Nafas keduanya sampai terengah engah saat pagutan semakin lama dan dalam. Hingga keduanya berhenti saat ada lampu kendaraan yang menyorot ke arahnya.
"Kita keluar sebelum melakukan hal yang semakin gila." ujar Irsan dengan suara berat.
"Di lantai lima apa dilantai tiga." ujar Cecilia yang benar benar menuntut lebih.
Irsan menyapu ujung bibir Cecilia dengan ibu jarinya, lalu mengecupnya pelan.
"Cherry mu jadi berantakan lagi."
"Iih ditanya. Kita ke tempatmu atau ke tempatku?" ulang Cecilia lagi, kali ini hanya berbeda kata saja namun tujuannya sama. Bermain main Ranjang.
"Kita ke tempat Ines dulu ya."
.
...Astagaa Ce ... tepok jidat gue Ce. Wkwkwkkw...
...Hai Cecelover, makasih buat dukungan kalian. Dan makasih karena udah mau nunggu othor up. Hihi....
...Semoga kedepannya othor bisa up pagi ya. ...
... ...