I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.225 (Bali)



Lagi lagi Carl hanya bisa berdecak kesal karena tidak mampu menolak keinginan wanita satu yang kini mengulas senyuman. Bahkan entah berapa kali Carl meraup wajahnya.


"Aku sudah di cap buruk oleh semua orang karena hal ini Tante, mereka bahkan mengira aku melarikan diri dan bersenang senang dengan wanita di sini," keluhnya lesu.


"Itu memang benar, kau memang pergi dengan seorang wanita kan? Kau fikir aku ini apa? Laki laki?"


"Ya maksudku wanita cantik dan seksi yang bisa aku ajak bersenang senang!"


"Cih! Ku fikir aku tidak cantik dan seksi! 30 tahun yang lalu aku bahkan lebih cantik dan seksi dibandingkan siapapun. Kau tahu!" bentak Embun marah.


Carl kembali meraup wajah saking kesalnya, "Aku tidak bilang Tante tidak cantik dan tidak seksi. Bukan maksudku begitu Tante!"


"Sudahlah ... Aku tahu itu, kau tenang saja, ini adalah perintah terakhirku. Kedepannya aku tidak akan meminta kau untuk melakukan apa apa lagi." Dengus Embun yang langsung menyecap teh miliknya.


Selama beberapa hari Carl dibuatnya repot dengan segala perintah darinya, bahkan tidak diijinkan pergi sedikitpun. Semua akses pun di tutupnya, hanya orang orang terbaiklah yang mampu menembus keamanan yang dibuat oleh Carl. Dan semua itu atas permintaan Embun.


"Semua sudah beres! Tante tinggal menunggu Irsan saja, dia akan langsung membunuhku saat itu juga."


Embun terkekeh, "Benarkah? Apa dia akan kesini. Kau sudah yakin."


"Hm ... Sepertinya begitu! Dia sudah mencari tante ke rumah!"


Embun tergelak, menoleh pada Suster yamg duduk di belakangnya. Rekayasa yang benar benar sudah di atur sedemikian rupa oleh Carl, suster yang datang menyusul dengan jadwal penerbangan yang berbeda, membuatnya terlihat seolah mereka hanya pergi berdua saja.


"Huuhhh!!" Carl membuang nafas kasar, waswas akan reaksi Irsan saat mereka bertemu nanti dan apa yang akan dilakukannya.


"Kau sudah siapkan semuanya?"


Carl mengangguk pelan, dengan wajah di tekuk dan tentu saja suram saat membayangkan akan semarah apa Irsan padanya nanti, entah berapa pukulan yang akan mengenai wajahnya kali ini.


"Kau tenang saja! Aku yang akan bertanggung jawab nanti."


"Bertanggung jawab, setelah dia kesini Tante sudah pasti akan melimpahkan semuanya padaku. Aku sudah tahu itu." Carl menjawabnya dengan tidak bertenaga, menghempaskan punggungnya begitu saja sandaran kursi membuat rambutnya tersibak kebelakang karena tiupan angin.


Live musik menggema lembut, pesisir pantai yang di sulap sedemikian rupa menjadi tempat yang sangat indah, dipenuhi bunga bunga mawar, dan tulip berbagai warna yang membuat suasana semakin hangat.


Ditambah wanita wanita cantik yang memakai bikinii dan bertubuh seksi hilir mudik membuat Carl menggelengkan kepala dan berulang kali berdecak kagum.


"Kau tidak boleh pergi sebelum semua urusan ini selesai!" Tukas Embun yang melihat gelagat Carl yang sudah terlihat ingin berhambur ke arah gadis gadis yang tengah tertawa riang.


"Ya Tante aku tahu! Tapi setelah Irsan datang, aku akan langsung pergi!" sahutnya dengan kedua bola mata yang terus menatap ke aeah gadis gadis di bibir pantai.


Embun mendengus, "Terserah kau saja!"


***


Detik detik keberangkatan pesawat pun sudah didepan mata, Irsan tidak memikirkan apa apa lagi selain keselamatan ibunya, walau tidak banyak tahu, Cecilia nyatanya mampu menenangkan pria itu dengan terus mengelus bahunya pelan.


"Aku fikir ada yang gak beres!" celetuk Cecilia.


"Maksudmu?"


"Carl pergi ke bali, yang ku fikir dia pergi bersama Nita, tapi ternyata enggak, Carl juga dipastikan pergi sama sama dengan ibumu. Ibumu tidak mungkin pergi sendirian ditambah tidak ada suster yang biasa menemaninya kan. Aku fikir ini aneh tahu gak?" terang Cecilia bak seorang pengamat.


Irsan terdiam sejenak, benar apa yang dikatakan Cecilia, ini pasti ada yang tidak beres.


Cecilia mengerdik, "Aku gak tahu! Yang jelas mereka terkesan sengaja gak sih?"


"Carl bodoh! Aku sudah mengatakan untuk tidak melakukan apa apa tanpa sepengetahuanku."


Suara panggilan keberangkatan sudah menggema diseluruh bandara, mereka berdua sama sama melangkahkan kaki ke arah gate pemeriksaan, Irsan hanya melenggang saja, dia bahkan tidak membawa apa apa selain pakaian yang dikenakannya.


"Atau begini saja! Kau tunggu saja dan tidak perlu ikut, aku khawatir mereka merencanakan sesuatu yang tidak tidak," usul Irsan tepat saat petugas baru saja selesai memeriksa tiket mereka.


"Kau yakin?"


"Hm ... Kembalilah ke apartemen dan tunggu aku di sana." ujar Irsan yang menyerahkan kunci mobil miliknya pada Cecilia.


"Tapi ...!"


"Pulanglah, kau juga tidak mungkin meninggalkan ibumu."


Benar apa yang dikatakan oleh Irsan, Cecilia akhirnya mengangguk dan membiarkan Irsan pergi seorang diri. Walaupun dia sendiri merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada Embun.


"Awas aja kalau si Carl macem macem lagi, ku pites kalau sampe ketemu!" dengusnya dengan terus menatap punggung Irsan yang semakin menjauh.


Pesawat yang ditumpangi Irsan akhirnya mendarat dengan selamat di bandara ngurahrai bali, Irsan yang tanpa membawa barang bawaan pun melenggang keluar tanpa harus menunggu lagi. Dia segera keluar dari bandara dan menaiki taksi menuju alamat yang diberikan oleh Carl.


Alamat sebuah rumah sakit yamg membuat Irsan semakin khawatir terjadi apa apa pada Ibunya. Namun sang supir Taksi justru membawanya kesebuah pantai yang masih sangat sepi dan belum terlalu terjamah oleh turis.


" Apa Ini alamatnya sudah benar?" tanya Irsan yang terheran pada supir taksi karena tidak melihat ada rumah sakit di sana.


"Betul tuan! Disini tempatnya."


"Kau yakin?"


"Ya tuan ... Sangat yakin, tuan hanya perlu berjalan kaki sampai ke ujung sana. Nanti terlihat tempat yang tuan cari."


Irsan mengangguk mengerti, setelah memberikan sejumlah uang barulah dia turun. Perasaannya mulai tidak enak setelah hampir 15 menit dia berjalan dan tidak menemukan tanda tanda keberadaan rumah sakit, suara ambulance atau apapun itu yang berkaitan dengan rumah sakit.


Sampai dengungan musik mulai terdengar samar samar, dan beberapa orang berlalu lalang disekitarnya membuat tempat itu tampak lebih ramai. Kedua manik tajamnya menyapu tempat yang terlihat seperti sebuah pesta, disampingnya bahkan terlihat buket bunga seukuran dirinya. Dan tanpa sengaja d pandangannya mengunci seseorang yamg tengah duduk dengan kepulan asap keluar dari mulutnya.


"Carl?"


Carl menoleh ke arah suara, pria itu bangkit dan langaung berlari ke arahnya. Entah apa yang akan dilalukan Irsan saat tahu kebenarannya.


"Irsan ... Kau sudah sampai?"


"Apa yang terjadi pada Ibuku?"


Carl menggaruk tengkuknya yang kala itu meremang tiba tiba,


"Mati!" Cicitnya dengan gusar.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu! Tapi yang jelas aku tidak bekerja sendirian!"


Irsan mengernyitkan kedua alisnya, mencoba memahami apa maksud perkataannya. Sementara Embun keluar dari satu tempat yang terlihat seperti sebuah restoran.


"Irsan! Kau sudah datang?"