I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 37(Tidak peduli)



Keesokan pagi


Vannes benar benar menempel bak prangko pada Irsan. Pria itu bahkan sengaja menginap di unit milik Vannes, berharap dipagi hari atau bahkan saat keluar bertemu dengan Cecilia dan membuatnya kecewa. Namun nihil, sampai mereka keluar dan pergi ke rumah sakit pun. Batang hidung Cecilia tidak terlihat sama sekali.


"Padahal aku sudah berdandan maksimal hanya untuk ini! Mana wanita itu, kita bahkan tidak melihat seorang wanitapun yang terlihat tertarik padamu." dengus Vannes saat masuk kedalam mobil.


"Entahlah! Dia seperti jelangkung. Tiba tiba bisa datang dan pergi sesuka hatinya." jawab Irsan, namun hatinya justru semakin penasaran akan respon Cecilia jika melihatnya dengan wanita lain yang diakui sebagai pacarnya itu.


Hingga saat dia hendak melaju, dia melihat Cecilia yang sedang berjalan menuju mobil miliknya, jaraknya sangat dekat, bahkan dia bisa melihat Cecilia yang melirik mobilnya saat itu.


"Itu dia!" Soraknya kegirangan. Irsan menoleh ke arah Vannes yang mengernyit melihat tingkahnya. "Ayo kita keluar dulu."


"Aneh banget! Sepertinya kau ingin sekali melihatnya. Penasaran apa gimana?" celetuk Vannes yang juga keluar dari mobil. Tapi dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Irsan saat mereka di luar.


Irsan berjalan ke arah bagasi mobil dan swngaja membukanya, dia sengaja ingin membuat Cecilia melihatnya saat itu juga.


Vannes mengikutinya, bersiap melakukan apapun demi mobil sport idaman yang akan dimilikinya.


"Cari apa?"


"Aku mencari barangku! Sepertinya ketinggalan, apa mungkin ketinggalan di unitmu semalam?" Irsan tersenyum pada Vannes dengan tatapan lembut.


Vannes mengerjap, dia bahkan tidak sadar aksinya telah di mulai.


Cecilia yang memang melihatnya mengulum senyuman kecut saat melihat Irsan bersama wanita yang sama.


"Dokter Irsan?" Panggilnya sebelum membuka pintu.


Irsan menoleh sesaat lalu kembali menatap Vannes.


Wanita itu lagi! Bener bener si tiang listrik cuma bisa senyum padanya aja, sementara sama gue biasa aja. Padahal cantikan gue kemana mana.


"Sepertinya memang ketinggalan ditempatku semalam." tukas Vannes, dia bahkan tidak tahu apa yang ketinggalan.


Irsan mengelus pipinya dengan lembut, membuat Cecilia berdecak melihatnya, "Tidak apa apa! Kita bisa mengambilnya nanti."


Vannes mengangguk dengan senyuman, wajahnya berseri seri dengan rambut panjang dan juga anggun.


"Huh ... Pamer ceritanya! Sekalian aja angkut kalau gitu!" Gerutu Cecilia, dia masuk kedalam mobilnya begitu saja. "Kenapa juga gue marah marah gak jelas!" Gerutunya lagi dengan bahu yang dia herdikkan.


Cecilia menghela nafas, dia bisa melihat kemesraan Irsan dan Vannes melalui spion mobilnya, saat Irsan mengelus pucuk kepala serta merangkul pinggangnya sebelum masuk kedalam mobil. Lalu dia sendiri berjalan masuk ke pintu sebelahnya lalu masuk kedalam mobil.


"Gila! Kenapa gue malah nontonin mereka! Gak ada kerjaan banget!" Dengusnya lagi dengan menyalakan mobilnya dan melaju kencang.


Irsan tertawa melihatnya, begitu juga Vannes yang berada di sampingnya, "Berhasil kan? Mana kunci mobil? Mobil ini sekarang milikku."


"Belum! Kau fikir semudah itu. Ini hanya permulaan saja Vannes! Tunggu sampai dia benar benar menyerah dan berhenti menggangguku."


Vannes menghempaskan punggungnya pada seat mobil, "Bakalan lama, aku harus kencan Irsan! Kapan aku menikah jika hanya membantumu." ujarnya dengan kesal.


"Setelah berhasil!" ujar Irsan melajukan kendaraannya.


Irsan harus mengantarkan Vannes bekerja terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit, dia mengantarkan sepupunya itu ke butik miliknya. Ya Vannes seorang desainer muda dengan segala talentanya, dia juga memiliki butiknya sendiri dimana semua pakaian dia rancang sendiri.


Setelah dia mengantarkan Vannes, dia langsung melesat menuju ke rumah sakit. Jalanan yang macet karena memang jam sibuk dan semua orang pergi untuk beraktifitas. Dia berfikir dia berhasil membuat Cecilia tahu dan akan membuatnya berfikir ulang untuk terus menggodanya. Namun dia salah, jangan lupa kalau Cecilia itu tidak akan peduli apapun.


"Apa pagi ini banyak pasien?" Tanya Irsan yang menggantungkan jas miliknya dan menggantinya dengan jubah putih kebanggaannya.


Tidak ada jawaban dari suster, dia justru berdiri dengan mendekap berkas yang dibawanya.


"Simpan saja dimeja! Dan tolong buatkan aku teh hangat," ucap Irsan yang kini duduk di kursi miliknya, dia bahkan bicara tanpa melihat ke arah suster.


Melihat suster tidak menanggapinya, Irsan mendongkakkan kepala ke arahnya dan terhenyak saat melihatnya.


"Hallo dokter Irsan, lama banget sadar kalau ini aku. Sebel deh!"


Kedua mata Irsan terbelalak sempurna saat penghilatannya tertuju pada gadis yang berdiri tegak dengan pakaian suster lengkap dengan topi didepannya.


"Kau?"


"Hm ... Ini aku? Gimana cocok kan kalau aku jadi suster, dan akan membantumu di sini hari ini."


"Kau benar benar gila! Kenapa kau bisa masuk begitu saja dan memakai pakaian suster!" Sentak Irsan dengan mengambil telepon di atas meja dan hendak menghubungi station Nurse, namun dengan cepat Cecilia menangkup tangan Irsan.


"No ... No, gak usah menghubungi siapa siapa, cukup kita saja dokter." ujarnya terkekeh.


"Kau benar benar nekad Cecilia! Kau gila."


Cecilia tertawa, "Gila ya! Suka gak? Hm ... Jangan bilang gak suka."


Irsan menarik tangannya kembali, dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. "Keluarlah, jangan mencari masalah denganku. Aku harus bekerja."


"Kalau aku gak mau?"


"Aku akan menyeretmu keluar!"


"Aku akan teriak, dan orang orang akan heboh." Ucapnya dengan kedua alis naik turun.


Irsan menghela nafas, dia menatapnya tajam.


"Gak usah galak galak, kau fikir aku akan peduli kalau kau punya pacar dokter? Kau sengaja memanas manasiku dengan pacarmu itu kan?" Ucap Cecilia yang melangkah ke arah pintu dan menyandarkan punggungnya di pintu. "Sayang sekali, sekalipun kau punya istri, aku tidak takut." gumamnya dengan menggigit sedikit bibirnya.


"Otakmu perlu di periksa." Irsan menatapnya dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celananya.


"Kalau begitu periksalah, kau pasti akan lihat ada namamu di urat nadiku." Cecilia terkikik setelah mengucapkannya.


"Pergilah sebelum ak---"


Hmmmph!


Sebelum Irsan menyelesaikan ucapannya, Cecilia sudah lebih dulu menyambar bibirnya dengan rakus, bahkan kedua tangannya merekat di kedua pipi Irsan, menerobos masuk tanpa permisi dan membelit lidahnya di dalam sana. Ciumannya cukup ganas dan benar benar membuat Irsan tidak berdaya. Sebagai pria normal dia bahkan tergoda untuk membalas.


"Kau gila!" Irsan menarik lengannya, hingga tautan kedua bibirnya terlepas begitu saja.


"Ya aku gila karena mu dan aku benar benar gila!" ujar Cecilia dengan nafas terengah engah. Bibirnya basah merekah, berwarna merah muda serta kedua pipi yang merona, benar benar menggoda. Irsan menatapnya dengan tatapan meneduhkan, dia menarik lengannya kembali.


"Kau!! Memang gadis gila!"