I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.151(Kau akan menyesal)



"Ya kau. Karena siapapun yang berurusan denganmu pasti kau libas sampai habis." Irsan berdecak, lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melaju dari restoran itu.


"Ya aku gak suka aja di usik. Heran gak ada kerjaan banget."


"Tidak usah kau fikirkan."


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, Irsan membawa Cecilia ke satu tempat yang membuatnya tercengang. Kafe and resto yang terletak di kawasan elit, cukup mewah karena di dalamnya juga terdapat sebuah hotel berbintang lima.


"Tunggu! Kamu yakin kita akan kesini?" Cecilia mencekal tangan Irsan yang hendak membuka pintu mobil.


"Ya ... Ayo turun."


"Aku gak mau! Kamu emangnya punya uang? Aku gak mau bikin kamu bangkrut."


Irsan mengulas senyuman, "Kau fikir gaji seorang dokter bedah sangat kecil sampai tidak bisa memberi kekasihnya hal yang terbaik?"


Cecilia yang biasanya akan berbinar jika berhubungan dengan kemewahan serta uang kali ini tampak ragu, dia tidak ingin menyulitkan Irsan yang hanya seorang Dokter dengan gaji bulanan yang flat setiap bulannya. Bukan seorang pembisnis yang memiliki penghasilan miliyarder ataupun jutawan.


"Ya kebutuhanmu kan banyak, sewa aparttemen dan biaya pemeliharaannya udah berapa coba."


"Kenapa kau jadi begini. Bukankah kau menyukai uang dan segala kemewahan?"


"Iih jujur banget sih! Ya aku suka, tapi aku gak bakal bisa kalau sama kamu. Beneran, kita ke tempat lain saja, lagian juga pakaian kita gak cocok datang ke sini."


Irsan menghela nafas, dia kembali menyalakan mesin kendaraannya dan kembali melaju.


Alih alih mencari tempat sesuai permintaan Cecilia, Irsan justru mengajaknya ke satu butik yang tidak jauh dari kafe dan resto yang tadi.


"Ayo! Kau cari pakaian yang cocok. Aku tunggu di sini." Irsan menyuruhnya keluar, sementara dia yang memang tidak menyukai tempat yang menjadi surga bagi kaun hawa itu hanya menunggu di dalam mobil.


"Bisa bisa aku menghabiskan uangmu kalau beli baju di sini!"


"Cecilia, masuk ke dalam dan jangan fikiran soal uang. Aku masih memiliki tabungan yang cukup kalau hanya membeli pakaian mu. Sudah sana." tukas Irsan.


Cecilia mendengus, pria itu memang berbeda dari pria pria yang selama ini dekat dengannya. Yang akan menemaninya berbelanja dan bahkan memilihkan pakaian yang paling seksi untuknya.


"Kalau gitu kamu ikut ke dalam dan pilihkan baju untukku. Hm,"


Beberapa saat Irsan terdiam, dia hanya menghela nafas dan menatapnya saja. Wajah Cecilia mengemaskan dengan kedua manik hitam miliknya yang memohon.


"Ok Fine!"


Cecilia tersenyum dengan mengangguk, keduanya baru keluar dari mobil dan berjalan masuk dengan bergandengan tangan.


"Aku paling tidak suka tempat seperti ini. Membosankan dan buang buang waktu." cicit pria yang genggaman tangannya terus Cecilia eratkan.


"Mana ada yang begitu."


"Ya udah, siapa yang ngajak kesini. Orang aku dari tadi ngajaknya pulang kok."


Irsan membawanya ke salah satu sudut yang terjejer banyak sekali pakaian, sementara di sampingnya terdapat sofa khusus untuk menunggu.


"Aku tunggu di sini." Gumamnya.


"Ish ...!"


Cecilia akhirnya hanya memilih milih sendirian, dia ke sana kemari kebingungan karena semua dress ternyata bagus bagus, dan tentu saja dengan harga yang fantastis.


Hampir 30 menit Cecilia wara wiri tidak jelas hanya karena bingung memutuskan pilihan. Dia membawa 3 stel yang menurutnya paling bagus menuju ke sofa di mana Irsan menunggu.


"Menurutmu bagus yang mana?" tanyanya memperlihatkan satu persatu dress dengan menempelkannya pada tubuhnya sendiri.


"Kenapa tidak kau coba saja dulu agar lebih mudah memilihnya. Kau yang akan memakainya Cecilia. Jadi pilihlah yang paling membuatmu nyaman saat memakainya." Terang Irsan membuatnya dongkol.


"Ish ... Makanya aku bawa kesini agar kamu bisa pilihin. Kau bingung nih."


"Kalau kau suka ya ambil semuanya saja." Irsan bangkit dari duduknya setelah merasa ruangan itu semakin berisik oleh tawa dan celotehan kaum hawa.


"Ih ... Malah pergi! Dasar si tiang listrik. Kapan dia bersikap kayak yang lain. Pilihin kek, puji puji kek, bantu sletingin kek, atau narik aku terus apa kek kayak di drama drama. Ini nyelonong aja cuma gara gara berisik." Ucapnya menatap punggung Irsan yang semakin jauh. "Mana bener lagi tuh orang berisik banget!"gidiknya pada sekumpulan wanita yang tengah saling berceloteh ria.


Irsan menoleh ke arahnya, "Tunggu apa lagi?"


"Yang ini apa yang ini?" tanyanya dari kejauhan dengan mengangkat hanger dress bergantian dan menunjukannya pada Irsan.


Irsan terlihat mengerdikkan bahu, dia kembali berjalan ke arah kasir dan berbicara sesuatu yang engah apa itu. Tak lama dia juga menunjuk Cecilia saat berbicara dengan kasir.


"Apaan katanya?"


Seorang penjaga toko berjalan ke arahnya, mempersilahkannya untuk menuju kasir, dia juga mengambil alih ketiga dress yang berada di genggamannya saat ini.


"Mari ikut kami ke kasir."


Cecilia menurut saja, dengan tatapan menyalang pada Irsan yang kini berada di tepat kasir menunggunya.


"Awas aja, jangan nyalahin aku kalau uangmu habis."


"Tidak akan! Sudah sana."


"Awas ya, aku bakal rampok semua uangmu setelah ini. Kau akan menyesal setelah ini."