I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 183(Aku lebih baik)



Kedua mata mengerjap ngerjap saat tirai berwarna gold tersibak sempurna dijendela kamar, membiarkan cahaya mentari pagi masuk dengan leluasa dan menghangatkan tubuh sang pemilik manik hitam yang perlahan lahan terbuka. Pancaran wajah gadis yang semalaman menangis itu masih terlihat sendu, dengan kedua mata sembab dan juga bengkak, namun dia tetap tersenyum manis saat melihat pria jangkung berkemeja abu di depannya.


"Kau sudah bangun?"


"Hm ...!"


"Apa aku membangunkanmu?"


"Ya iya ... Mataku silau!" Cecilia mencebikkan bibirnya dengan menggosok pelan kedua maniknya.


Irsan yang melihatnya kini mengulas senyuman, lalu berjalan menghampirinya, pria itu duduk di tepi ranjang menatapnya.


"Maaf tapi aku akan terus menjadi penerangmu Cecilia, aku akan menjadi matahari yang akan terus bersinar untukmu, aku juga akan terus menjadi bulan dan menemani malammu. Hm?"


Cecilia mengerjap kan matanya berulang kali. Sepertinya dia sedang bermimpi karena mendengar semua ucapan Irsan.


"Kau baik baik saja?"


"Hm ... Aku lebih baik. Kau sendiri?"


"Hm ... Aku harus ke kampus."


"Aku akan mengantarmu."


"Gak usah, aku dijemput Nita kok!" Cecilia bangkit dan terduduk. "Kamu gak sakit kan?"


"Tidak!"


"Aku kan pergi ke kampus bareng Nita, dia kan menjemputku sebentar lagi."


"Hm Oke!"


"Hah ... Kok ok. Kamu gak larang aku?


"Kalau aku melarangmu apa kau akan menurut? Aku rasa kau tidak akan melakukannya juga."


Cecilia terkekeh, melingkarkan tangan pada lengannya dan bersandar pada bahunya.


"Aku tidak akan melarangmu melakukan apapun asal semua hal yang kamu lakukan itu positif." Irsan mencuil hidung Cecilia dengan gemas.


"Eeh ... Kau tidak takut kalau aku pergi atau berbohong. Kenapa gak mau larang aku?"


Irsan menggelengkan kepalanya, "Aku yakin kau tidak akan melakukan hal itu, kalau tidak. Untuk apa kau menangis semalaman kalau kau masih nakal, kau pasti sangat mencintaiku."


"Dokter percaya diri sekali, tapi itu benar." sahut Cecilia yang semakin merekatkan pelukannya.


"Kau ini! Ayo mandi, dan bersiap siaplah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu sebelum kau pergi ke kampus."


Cecilia menoleh kearahnya dengan terhenyak, "Siapa?"


Irsan mengulas senyuman, lalu bangkit dan melepaskan lengan Cecilia.


"Kau akan tahu nanti, sekarang mandilah lebih dulu."


Pria berusia 40 tahun itu mengayunkan langkah keluar dari kamar, sementara Cecilia masih betah diatas ranjang berukuran king side dengan bertanya tanya.


"Siapa yang ingin menemuiku? Apa si Nita? Gak mungkin dia... Tante embun? Gak mungkin juga, terakhir aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sejak aku menemui Mr Orlan." Cecilia sibuk menerka nerka siapa orang itu.


Sampai pintu kembali terbuka dan Irsan berdecak ke arahnya. "Sayang. Mandi!"


Cecilia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu terkekeh. Panggilan sayang kembali dia dengar dan jauh lebih baik dari pada mendengarnya semalam.


"Iya Doksay."


"Hm ... Cepatlah, atau kau bisa terlambat." tukasnya lagi dengan kembali menutup pintu kamar.


Cecilia beranjak turun dengan kaki menjuntai ke lantai, perasaannya kini lebih baik, lebih tegar dan juga kuat karena Irsan lah yang menguatkannya. Dia tidak ingin Irsan berjuang sendirian dan terus berkorban untuknya.


"Tuhan, kalau hubunganku dengan Irsan baik baik saja, ibunya juga menerimaku suatu hari nanti, aku janji akan rajin ibadah. Aku janji akan jadi orang baik dan akan bertaubat, aku akan menemuimu nanti di ibadah pagi. Tuhan, aku memang bukan orang baik, aku ini pendosa, tapi jika aku di ijinkan meminta permohonan. Aku ingin semua baik baik saja. Aku ingin hidup bahagia seperti orang lain, aku ingin menemukan seseorang yang bisa menerimaku apa adanya, merasakan kebahagian yang sesungguhnya, menemukan sosok yamg selama ini aku tidak punya, ayah, kekasih, yang menjadikanku lebih baik lagi. Amin." ujarnya dengan menangkup kedua tangan di dadanya.


Tak lama dia keluar dari kamar, berjalan ke arah meja makan dan langsung menarik kursi. Sementara Irsan tengah menyiapkan sarapan untuknya. Harum masakan membuat perutnya keroncongan, beberapa hari ini jadwal makannya memang berantakan karena masalah ini.


Irsan menoleh kearahnya dengan tersenyum, dan dibalasnya dengan senyuman pula bahkan sangat manis.


"Kau merasa lebih baik sekarang?" Ujar Irsan meletakkan piring diatas meja.


"Hm ... Aku lebih baik dan bersemangat, aku akan buktikan kalau aku mampu jadi asisten dosen."


"Tapi sebelum pergi, kita akan menemui seseorang yang sudah menunggu." Irsan pun menarik kursi dan mendaratkan bokongnya.


"Eeh ... Iya. Siapa emang?"


Cecilia mulai menyendok sepiring omelet juga nasi goreng seafood yang di buat Irsan.


"Di sini hanya ada bahan masakan seperti ini, Ines tidak pernah berbelanja bahan makanan." terang Irsan yang juga menyendok sarapannya ke dalam mulut.


"Iih nyebelin, pertanyaanku kan belum di jawab."


"Soal itu kau juga akan tahu nanti sayang."


Cecilia terkekeh karena Irsan lagi lagi memanggilnya sayang, membuatnya terus tersenyum lega.


"Kenapa?"


Cecilia menggelengkan kepala dengan terus menatapnya tanpa jemu.


"I love you."


"I love you yoo." Jawab Irsan dengan mengelap ujung bibir Cecilia yang menyisakan sedikit potongan omelet lalu dia menjilat jari jempolnya sendiri.


"Ih jorok! Itu kan makanan yang ada di bibirku. Kau kan dokter pasti tahu kalau itu gak baik."


Irsan tertawa, dia benar benar berubah dihadapan Cecilia, tidak lagi bersikap acuh apalagi marah tidak jelas, sekarang dia sering tersenyum dan juga ekspresif walau pun sangat sedikit saja.


"Ahk aku lupa. Kenapa aku semakin tidak terkendali saat bersamamu Cecilia?"


Cecilia terkekeh, "Bagus dong."


Bel di pintu berbunyi, seseorang yang katanya ingin menemui Cecilia kini berada di luar menunggu pintu terbuka.


"Biar aku saja." Cecilia bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu dan mengintip pada lubang kecil di pintunya.


Deg


Sosok yang mencarinya terlihat jelas oleh pandangannya, dia menoleh pada Irsan lalu kembali mengintip pada lubang yang diperuntukan di kenyamanan penghuni apartemen dalam menerima tamu.


"Ada apa. Kenapa kau begitu lama membuka pintu?" seru Irsan di dapur.


"Ini gak salah kan? Diluar ada ibumu. Apa ibumu yang ingin ketemu aku? Gak mungkin kan." sahut Cecili dengan suara yang sangat kecil.


"Buka saja!" jawab Irsan datar saat tahu kalau ibunya yang hendak masuk.


"Tapi ....!"


"Gak apa apa Cecilia. Buka saja."


Cecilia menghirup oksigen dengan panjang sebelum akhirnya membuka pintu. Pintu secara perlahan dia buka, dan sosok Embun berada didepannya dengan menatapnya.


"Oh ... kau!" Embun masuk kedalam unit milik Ines itu tanpa menunggu kata sambutan.


Entah apa yang difikirkan Embun saat melewati Cecilia, yang jelas wanita paruh baya itu kini mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Duduklah, apakah aku sangat menakutkan?"


.


Si Embun otaknya lagi geser yaa. Wkwk, katanya jangan terpengaruh pada paras nya yang cantik. Camkan itu!