
Hampir setengah jam Irsan menunggu di luar universitas terkemuka di kota itu namun Cecilia tidak juga kunjung terlihat batang hidungnya. Pesan yang dia kirim pun belum terbaca, begitu juga dengan sambungan telepon yang tidak juga diangkatnya.
Dia pun merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.
'Kau kelihatnya?'
'.....'
'Oh ... Oke!'
Senyuman terulas tipis dari bibir Irsan setelah menutup sambungan teleponnya pada seseorang. Dengan jari jemari.yang mengetuk ngetuk setir kemudi, dia terus menatap ke dalam gerbang yang menjulang tinggi di depannya.
Sampai terlihat dari kejauhan sosok yang dia tunggu tengah berjalan lunglai dengan memeluk laptop backpack miliknya. Wajahnya tampak lesu dan tidak bersemangat, ditambah berkali kali dia terlihat menguap.
Irsan merasa lega namun juga berdecak melihat tingkah lakunya. Ya Cecilia terlihat lelah di hari pertama dia kembali ke kampus. Walau di sebelahnya sosok Nita tampak ceria dengan terus berceloteh padanya.
Irsan keluar dari mobil dengan tatapan yang tidak dia lepas padanya. Sampai Nita tanpa sengaja melihatnya.
"Eh ... Cowok lo tuh!" Nita menyenggol lengan Cecilia.
"Hah?"
"Tuh ... Jodoh lo udah jemput! Cie ... Makin lengket aja lo, tuh tiang listrik dah gak ada daya sampai dia yang kata lo sibuk dan gak bakal ada waktu buat lo ternyata bisa juga so sweet pake jemput lo segala kesini."
Cecilia menoleh ke arahnya, lalu mengulas senyuman. "Bisa juga dia nepatin janjinya! Padahal tadinya gue pengen nongki dulu."
"Doble date gitu ya!"
Cecilia mendengus, kencan bersama adalah hal konyol yang tidak akan pernah dia lakukan, terlebih Dosen killer yang jadi Daddy sahabatnya itu lebih tua dari Irsan.
"Ogah ... Lo mau pamer umur?" selorohnya sambil melengos pergi menghampiri Irsan. "Bye Nit ... Gue duluan, gue gak mau calon imam gue kering karena kelamaan nunggu!"
"Lah dia kata apa? Calon imam katanya," Gumam Nita heran, "Woi ... Lo nonis! Lo mo kawin sama Pastor lo?" berteriak keras.
Cecilia hanya terkekeh lalu melambaikan tangan nya ke arah sahabatnya itu. Lalu mendekati Irsan yang tengah bersandar pada pintu mobil. "Udah lama?"
"Selama apapun itu, aku pasti akan menunggu mu."
Cecilia mengerjapkan mata, "Hah?" tidak menyangka pria yang dulu sangat sulit dia dekati dan selalu tidak peduli itu kini semakin berubah menjadi lebih hangat.
Melihat Cecilia terpaku, dia mengulas senyuman. "Untuk hal hal positif saja! Untuk hal lain aku tidak akan melakukannya." imbuhnya dengan tegas.
Rasa lelah yang di alaminya selama 2 jam sebelumnya sepertinya hilang begitu saja setelah mendengar apa yang dikatakan Irsan. Dia berjinjit dan bersiap untuk mendaratkan kecupan manja di pipi Irsan. Namun masih kalah cepat dengan tangan Irsan yang menghalau dan menempel di dahinya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ihhh ... Aku ingin mencium mu. Masa gak boleh!"
"Tidak! Kita berada di kawasan institusi pendidikan. Kau tidak lihat semua orang yang berjalan kemari atau CCTV itu?" Tunjuknya pada mahasiswa yang berjalan keluar gerbang, dan juga CCTV yang terpasang di atas tembok gerbang sisi kiri dan kanan menggunakan lirikan kedua matanya yang tajam.
Cecilia mendengus, lalu mengayunkan kedua kaki ke arah pintu mobil. Membukanya lalu masuk, "Emang meraka peduli apa?"
Irsan menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arah sebaliknya, dia masuk setelah Cecilia masuk lebih dulu. Dia pun segera melajukan kendaraan roda empat miliknya.
"Aku akan kembali ke rumah sakit! Kau tidak apa apa kalau ku antar sampai lobby apartemen?"
Cecilia mengerdikkan kedua bahunya, rasa lelah seakan kembali menerpanya dan terasa berlipat lipat saat ini.
"Kenapa? Kau marah karena apa yang terjadi barusan?"
"Dih!"
"lantas?"
"Aku capek, jadi terserah kamu saja dimana mau nurunin aku!" Pasrah dan tidak bertenaga.
"Kau ingin makan?"
"Apa?"
Kedua mata Cecilia menyipit. "Kamu udah tahu ya alasan aku gak bales chat dan panggilan?"
"Hmm!"
"Tahu dari mana. Carl sadap teleponku ya?"
Irsan mengulas senyuman, "Kau fikir kita memerlukan hal seperti itu?"
"Ya terus dari mana, punya mata mata kan?"
Pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali tanpa mengalihkan pandangannya ke ruas jalan.
"Jangan jangan ...?"
"Apa?"
"Kamu tadi masuk ke dalam dan nanya nanya aku ya? Nyariin aku ya? Dan mereka pada bilang aku jadi Asisten Dosen dan gak bisa di ganggu. Iya kan?"
"Hmm!"
Irsan hanya berdehem tidak jelas, tentu saja dia tidak melakukan hal itu, hal yang menurutnya sangatlah bodoh, namun ketika melihat wajah Cecilia ceria sekaligus berbinar. Dia menjadi tidak tega merusak suasana hati gadis yang kini mengisi ke kosongan di hatinya.
"Sebel banget tahu! Tuh dosen bisa bisanya nyuruh aku jadi Asdosnya dia. Padahal banyak yang lebih masuk kriterianya dibandingkan aku." sungutnya dengan menghempaskan punggungnya pada seat mobil.
"Bukankah itu bagus?"
"Bagus apanya! Aku pusing, bukan hanya pusing ... Tapi beban juga."
"Lalu reaksi teman temanmu bagaimana?"
"Ya mana mereka mau percaya kalau aku yang ngasih materi dan jadi wakil dosen buat ngajarin mereka. Orang mereka tahu segimana ceteknya otak aku." dengusnya dengan kedua kaki menghentak kesal. "Jam istirahatku jugaaku pake buat ngapalin yuh materi. Anjim banget mereka kan!"
Seketika Irsan menoleh ke arahnya dengan tajam karena nada bicara Cecilia. Gadis itu menghela nafas berat. "Kebiasaan, suka keceplosan."
"Itu hal bagus untukmu Cecilia, ditambah pun yang akan kau dapatkan karena menjadi seorang asisten dosen, tidak hanya dalam bidang akademik saja. Bahwa kau juga layak asalkan mau mulai belajar."
"Ya ... Baiklah! Aku juga gak ada pilihan lain, mereka bilang aku juga akan mendapat upah. Semacam uang jajan." lirihnya.
"Bagus dong!"
"Bagus apanya. Biaya hidupku malah, salon perawatan, make up, semuanya pokoknya. Mana cukup."
"Aku sudah pernah memberimu pilihan, kelola coffe shopku tapi kau selalu tidak mau! Atau kau ingin aku beri uang saku bulanan?"
Cecilia menyipitkan kedua matanya, "Dan aku akan semakin disalahkan oleh nyonya Embun."
"Hei ... Dia ibuku!"
Cecilia mengulum senyuman, "Iya ... Dan dia juga calon ibuku."
Irsan menggeleng heran, baru saja kesal dan marah marah sepanjang perjalanan, gadis disampingnya itu kembali menggemaskan.
Dan tak terasa mobil pun berhenti di depan lobby apartemen, Irsan mematikan mobil dan keluar, berjalan memutar dan membuka pintu untuk Cecilia.
"Aku tidak bisa mengantarmu sampai atas, tidak masalah kan?"
Cecilia mendongkak, dia menarik kerah kemeja Irsan dan mengecup bibirnya secara tiba tiba lalu melumattnya sedikit.
"Gak masalah!"
.