
Sementara itu di sebuah istana yang terletak di area inti pegunungan. "Apa yang mulia sudah membunuh manusia itu." Kata pria tua membungkuk. "Aku tidak berhasil membunuhnya. Dia melarikan diri." Balas perempuan berambut putih. "Ahh, bagaimana bisa dia melarikan diri yang mulia." Pria tua terkejut.
"Manusia itu mempunyai alat untuk teleportasi, manusia itu tidak sederhana." Balas perempuan berambut putih. "Benar yang mulia, manusia itu tidak sederhana. Buktinya bisa membunuh peringkat A level 9 hanya peringkat A level 6." Pria tua mengangguk. "Baiklah Yoyon umumkan bahwa 3 hari dari sekarang kita akan menyerang kota santos. Batasan untuk ikut berperang adalah peringkat A level 5" kata perempuan berambut putih. "Baik yang mulia." Pria tua pun menghilang dari ruangan.
Beberapa jam kemudian. "Hei, apa kamu dengar bahwa elder Yoyon mengatakan bahwa 3 hari lagi kita akan menyerang kota santos. Tapi sayangnya hanya peringkat A level 5 dibawah yang bisa berpartisipasi." Kata pria paruh baya. "Benar, aku sangat ingin membunuh manusia, karena selama 4 bulan ada manusia yang membunuh bangsa kita. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa karena manusia itu terlalu kuat bisa membunuh peringkat A level 9." Kata pria di sampingnya.
Sementara itu di tepi pantai Clue sedang berbaring dan melihat Syafin yang sedang berkultivasi. Tidak lama kemudian Clue melihat Syafin membuka matanya. "Ahh, aku tidak percaya bisa menerobos ke peringkat A level 6 dengan sangat cepat." Mata Syafin berbinar.
Syafin melihat Clue dan mengingat kejadian saat dia diperkosa oleh Clue, dan dia ingin menjadi pelayan. "Sepertinya pilihanku dulu sangat tepat." Gumam Syafin dipikirannya dan tersenyum. Tapi saat melihat lengan Clue yang cacat Syafin bersedih.
"Hei, kenapa kamu bersedih. Bukankah kamu harus senang saat menerobos." Kata Clue. Dia tahu bahwa Syafin sedih melihat dirinya menjadi cacat tanpa lengan. "Syafin tidak bersedih tuan." Kata Syafin tersenyum.
"Jika suatu saat aku lebih kuat dari tuan, aku akan melindungi tuan." Kata Syafin bertekad di dalam hatinya.
"Baiklah, untuk 3 hari kedepan kita akan tinggal disini. Selama 3 hari kita tidak akan berhubungan badan." Kata Clue. Saat mendengar kata Clue Syafin menghela nafas. "Apakah tuan depresi karena kehilangan salah satu lengannya." Sebenarnya Clue tidak terlalu nyaman untuk berhubungan badan saat dia hanya memiliki satu lengan. Clue juga ingin menikmati indahnya lautan.
3 hari telah berlalu dan selama 3 hari Clue hanya bersantai di tepi pantai ditemani dengan Syafin. "Sudah waktunya." Kata Clue saat melihat lengan kirinya bersinar putih dan terasa gatal. Beberapa detik kemudian sinar putih menghilang, dan lengan Clue kembali seperti semula.
"Ahhh." Syafin yang melihat lengan kiri Clue yang tiba-tiba ada terkejut. "Tuan, lengan anda." Syafin berkata dengan gugup. "Oh, aku lupa memberi tahumu, bahwa aku bisa memulihkan bagian tubuhku yang cacat, meski memakan waktu cukup lama." Clue tersenyum. "Ahh, luar biasa. Tuan seperti peringkat S dan bahkan lebih hebat." Syafin terkejut dan juga senang.
"Mengapa aku bisa seperti peringkat s dan bahkan lebih hebat." Clue bingung. "Karena hanya peringkat S yang bisa beregenerasi tuan. Peringkat s butuh 7 hari untuk memulihkan anggota badannya yang terpotong tuan." Kata Syafin.
"Oh, jadi begitu ya." Clue paham. "Sepertinya keterampilan di tabel shop sangat hebat." Gumam Clue dipikirannya. "Baiklah, kalau begitu ayo kita ke kota dimana Enel tinggal." Kata Clue. "baik tuan." Syafin mengangguk dan mengikuti Clue.
Saat mengikuti di belakang Clue Syafin bergumam. "Meski aku tidak bisa menjadi kekasih tuan, tapi aku harus tetap hamil anak tuan. Tuan terlalu luar biasa." Clue dan Syafin pun melesat ke timur dengan cepat.
Sementara itu di sebuah perbatasan pegununggan ada hampir 50 ribu monster yang berkumpul. "Baiklah kali ini kita akan membunuh manusia di kota santos dan menghancurkan kota tersebut. Inilah pembalasan untuk manusia yang membunuh ratusan peringkat A level 5 di atas ras kita." Kata perempuan berambut putih. "Goar, bunuh semua manusia." "bunuh." "hidup yang mulia Lian." "groarr." Para monster mulai berteriak.
"Baiklah Ayo berangkat" kata perempuan berambut putih melesat diikuti pria tua dibelakangnya. "goar." Para monster pun berlari mengikuti perempuan berambut putih dan pria tua.
1 jam kemudian Clue dan Syafin tiba di sebuah kota. Clue dan Syafin menaruh tangan mereka ke bola kristal, setelah memastikan Clue dan Syafin bukan monster. Penjaga mengijinkan Clue dan Syafin masuk. Setelah memasuki kota, Clue langsung menuju dimana Enel tinggal.
Saat ini di sebuah rumah Enel sedang meminum teh sementara disampingnya Desi sedang mengusap sebuah pedang. "Paman Enel apa anda ada di dalam" Enel yang sedang meminum teh terkejut melihat ada suara orang. "Oh suara ini." Enel membuka pintu dan melihat Clue dan Syafin sedang berdiri. "Oh, apakah kalian selesai berburu di pegunungan monster. Ayo duduklah." Enel tersenyum dan ramah menyambut Clue dan Syafin.
"Oh. Paman. Aku bertanya apakah 5 pegunungan monster memiliki nama." Tanya Clue. "Benar, 5 pegunungan memiliki nama. Dan nama pegunungan yang kamu masuki adalah Forester." Balas Enel. "Lalu apa nama 4 pegunungan lainnya paman." tanya Clue. "nama pegunungan lainnya adalah Fron, Ulia, Condown, Maroko." Balas Enel.
"Clue aku ingin tahu seberapa kuat dirimu" kata Enel tiba-tiba. "Ehh." Clue terkejut dengan pertanyaan Enel. Bahkan Desi terkejut. "Aku heran bahwa kamu bisa keluar dengan selamat dari pegunungan area inti. Jika kamu tidak ingin menunjukan peringkatmu itu bukan masalah" Kata Enel.
"Baiklah kalau begitu paman. Inilah kekuatanku." Kata Clue melepas auranya dan memberikan tekanan kepada Enel. "Ahh." Desi yang di samping Enel terjatuh dan mulai berkeringat. Enel pun berkeringat akibat tekanan yang diberikan Clue. Clue mulai menarik auranya, dan Desi pun menatap Clue dengan ketakutan.
"Peringkat A level 7." Kata Enel mengusap keringat di dahinya. "Tuan Clue, apakah anda menemukan sebuah cara untuk terlihat begitu muda." Tanya Enel penasaran. Enel saat ini tidak memanggil Clue melainkan tuan. Karna Enel tahu bahwa Clue lebih kuat darinya.
"Jika kamu pergi ke benua barat, kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu." Clue tersenyum. Sekarang Enel mengerti mengapa Clue bisa keluar dengan selamat dari pegunungan area inti. Enel mengerti Clue mengejarnya saat menuju pegunungan monster untuk berpura-pura lemah. Jika Enel mengetahui kebenaran bahwa Clue tidak bisa terbang tanpa menggunakan skill angin dia akan sangat terkejut.
"Baiklah tuan Clue dan nona Syafin mengapa tidak beristirahat seperti dulu. Aku masih ada sesuatu yang harus ku urus." Kata Enel tersenyum lalu menarik Desi yang masih terbengong ke belakang. Clue mengabaikan tindakan Enel dan berbisik kepada Syafin. "Bagaimana, apakah kita langsung berburu ke pegunungan lainnya atau bersenang-senang." Saat mendengar bisikan Clue wajah Syafin tersipu lalu menjawab. "Tubuh wanita tua ini milik tuan. Tuan bebas melakukan apapun kepada Syafin." Balas Syafin
Syafin saat ini sudah rela diperlakukan apapun oleh Clue. Dia hanya berharap Clue tidak meninggalkannya dan bisa hamil anak Clue. Karena Syafin tahu bahwa cepat atau lambat Clue akan menjadi yang terkuat di seluruh benua, entah itu benua barat, timur dan selatan.
"Kyaa." Clue menggendong Syafin menuju sebuah kamar. Sementara di ruang makan Enel sedang berbicara ke Desi. "Desi jika kamu bisa merayunya itu sangat bagus." "Tapi ayah, sepertinya dia hanya tertarik dengan wanita yang seumur dengan ibu." Desi tersenyum kecut. "Meskipun begitu tetaplah untuk merayunya. Kamu lebih cantik dari pada ibumu saat muda dan juga adikmu." Kata Enel.
Sementara di dalam kamar Clue berciuman dengan Syafin. "Ermm." Clue meremas payudara Syafin dan mencubit putingnya. "Tuan, Syafin sudah tidak tahan." Kata Syafin. "Oh, apa kamu bilang." Clue menyeringai. "Tuan, pussy tua Syafin ingin burung tuan." Kata Syafin tersipu. "Hehe, baiklah. aku akan memenuhi nafsu wanita tua sepertimu." Kata Clue.
Sementara itu di sebuah padang rumput, dua pria paruh baya sedang berlari. "Hei Topek lihat itu." kata salah satu pria paruh baya menunjuk ke arah timur dengan gugup. Pria paruh baya melihat ke arah mana temannya menunjuk lalu berteriak ketakutan. "Sialan, itu kawanan monster, dan setidaknya jumlahnya melebihi 10 ribu" "Sialan, apa kita harus lari atau bersembunyi, sepertinya mereka akan menuju ke kota santos." Kata pria paruh baya ketakutan.
"Sialan, ayo kita pergi ke kota santos. Kita harus memberitahukan berita ini." kedua pria terbang dan melesat ke arah barat. "Yang mulia sepertinya mereka berdua ingin menuju kota santos. Apakah saya perlu membunuh mereka berdua." Kata pria tua. "tidak perlu, perlu 3 jam lagi kita akan sampai ke kota santos. Waktu 3 jam tidak cukup untuk melakukan persiapan melawan kami." Perempuan berambut putih tersenyum. "Baik yang mulia." Kata pria tua.
1 jam kemudian, Saat ini Clue sedang berciuman dengan Syafin. Saat hendak mendorong Syafin ke ranjang Clue mendengar sebuah suara yang keras. "Peringatan!!! Kawanan monster sedang mendekat, diperkirakan jumlah monster melewati 10 ribu. Bagi yang belum mencapai pringkat A silakan mengungsi dari kota. Kemungkinan mempertahankan kota sangat mustahil. Perkiraan monster datang dalam waktu 2 jam."
"Sialan, kawanan monster itu minta dibunuh. Berani sekali menganggu saat aku sedang sibuk." Syafin marah saat mendengar bahwa ada kawanan monster yang menuju ke kota.
"Tuan, apakah kita akan berpartisipasi dalam perang melawan monster." Kata Syafin melihat Clue. "Kita akan melihat terlebih dahulu, jika tidak ada monster peringkat A level 10. Kita akan berpartisipasi." Balas Clue. saat ini Clue sudah tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan monster peringkat A level 10 dengan mudah. Terlebih lagi jika jumlah monster peringkat A lebih dari sepuluh. "Baik tuan." Kata Syafin. Clue dan Syafin mulai memakai baju dan armor.
"Ayah, ada kawanan monster." Dua perempuan masuk ke dalam rumah yang tidak lain adalah Fatma dan Wati. Enel yang sedang duduk dengan Desi melihat istri dan anaknya panik berkata. "Baiklah, kalian bertiga segera meninggalkan kota ini, dan menuju kota Direction." Kata Enel. "Lalu ayah sendiri." Balas Fatma. "Aku akan tinggal disini. Jika tidak mungkin untuk melindungi kota. Aku akan pergi." Balas Enel.